
Hujan membasahi bumi senja itu, sinar mentari berganti dengan gelapnya malam. Tak ada yang dapat dilakukan Mayang yang sedang terduduk mengingat kembali perkataan mertuanya itu.
Sudah berjalan memasuki empat tahun pernikahan mereka namun tak kunjung jua mereka dikaruniai sibuah hati. Mertuanya mempertanyakan hal yang sama, yakni tentang hadirnya seorang cucu yang akan menjadi penghibur dihari senjanya. Dengan nada serius mertuanya bertanya, berbeda dari biasanya.
"Jika kau tak dapat melahirkan satu orangpun cucu untuk ku, maka mama harap kau mau memberikan ijin pada suami mu untuk menikah dengan wanita lain."
Kata - kata itu masih terngiang ditelinganya berulang - ulang kali, seakan menusuk sampai kerelung hati yang terdalam.
Seakan sebuah tamparan keras tepat diwajahnya, yang selama ini menikmati masa mudanya dengan didampingi seorang lelaki yang sangat mencintai dirinya.
"Bagaimana caranya? Agar aku bisa segera hamil, sehingga dapat menutup mulut wanita tua itu, " gerutu kesal Mayang.
"Aku sudah nyaman dengan kondisiku sekarang, aku tak ingin seperti dulu, walau bagaimanapun caranya aku harus dapat jalan keluar dari masalahku ini," batin Mayang.
Pikiran Mayang berkecamuk tak tentu arah, mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.
"Apa aku pura - pura saja hamil, tapi jika tak kunjung juga hamil maka aku bisa diusir dari sini!" Besitnya dihati.
Mayang mencoba mencari jalan keluar lain selain berpura - pura hamil, dan terlintas kembali sebuah jalan keluar dikepalanya.
"Bagaimana kalau pindah rumah, terus si wanita tua itu tak akan merengek untuk meminta cucu padaku," ucapnya seraya berdesah pelan.
Mayang tak tahu apakah dirinya yakin dengan solusi yang didapat dan disetujui oleh Galang.
Dirinya tahu benar bahwa Galang sangat menyayangi ibunya dan sangat menuruti setiap perkataannya.
"Apanya salah ku coba saja untuk mengutarakan itu semua sepulang Galang dari kantor," ungkapnya dihati.
πππ
Deru mobil melesat dengan kecepatan sedang, bekas hujan masih terlihat dijalan yang ditempuh oleh Galang. Hari ini Galang pulang lebih lama dari biasanya.
Diliriknya arloji yang melingkar ditangan kanannya, jarum jam menunjukkan angka kearah jam enam sore.
Mobil berhenti tepat disebuah parkiran yang yang telah disediakan. Galang turun dari mobil dengan wajah lelah. Dengan menenteng tas kerja berjalan menuju pintu rumah utama.
__ADS_1
"Mang... Mana buah plum yang dibeli tadi?" ucap Galang seraya menghentikan langkahnya.
"Ini Tuan... " Balas pak sopir seraya menunjukkan kantong plastik berwarna putih dan terlihat buah yang dimaksud oleh Galang.
Mayang meminta dirinya untuk membelikan buah plum, memang tidak dari biasanya, akhir - akhir ini Mayang selalu meminta dibelikan buah yang berbeda disetiap harinya setelah dirinya pulang dari kantor.
Dengan rasa cintanya Galang selalu saja menuruti setiap keinginan istrinya tersebut.
βββ
"Sayang...Sedang apa disini? Melamunkan apa? " Tiba - tiba Mayang terkejut dengan suara yang tak asing ditelinganya.
Sangking berpikir keras akan solusi dari masalahnya, sampai - sampai Mayang tak menyadari kehadiran suaminya tepat dibelakang dirinya berdiri.
"Ini buah yang kau ingin kan..." Ucap Galang seraya menunjukkan kantong plastik berwarna putih yang terlihat jelas berisi buah plum.
Dengan wajah terkejut dan tak mengeluarkan senyuman Mayang membalikkan tubuhnya, dan tak menyambut kantong plastik yang dipegang suaminya.
"Eh.... Ada apa? Kok malah seperti itu wajah mu? " Tanya Galang seraya mengubah posisinya kembali berhadapan dengan istrinya.
"Apa!!! Kita akan meninggalkan mama seorang diri dirumah sebesar ini? Apa kau tega? " Jawab Galang spontan dengan suara lebih tinggi.
Mayang terkejut dengan nada suara suaminya yang lebih tinggi dari sebelumnya. Galang kini yang membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya.
"Mama meminta ku untuk mengijinkan dirimu untuk menikah dengan wanita lain...Jika aku tak kunjung juga hamil kak, " ucap Mayang dengan nada pelan dan lirih.
Galang tak jalah terkejutnya setelah mendengar perkataan dari istrinya itu. Seperti tak percaya dengan apa yang didengar oleh telinganya.
"Mama sudah tak bisa berpikir jernih, kenapa sebegitunya terhadap dirimu," balas Galang seraya mengubah posisinya kembali berhadapan seraya meraih tangan istrinya.
"Baiklah...aku akan bicara baik - baik dengan mama, agar tidak memojokkan dirimu lagi sayang..." Ucap Galang seraya memeluk tubuh istrinya.
"Namun... Kita tidak akan sampai pindah dari rumah ini," ucapnya kembali mencium dahi Mayang dengan mesrah.
Ada rasa kecewa dihati Mayang, apa yang menjadi jalan keluar baginya dengan cara pindah dari rumah ini tak mendapatkan dukungan dari suaminya.
__ADS_1
Dihembus panjang nafasnya sehingga terdengar desahan tak bersemangat dan kecewa.
"Sabar... Bisa saja secara tidak langsung ini adalah hukuman bagi kita karena kamu telah meminum obat penghambat kehamilan waktu itu." Ucap Galang yang membuat wajah mayang berubah seketika.
Teringat kembali akan aksinya yang menelan pil KB tanpa sepengetahuan suaminya selama delapan bulan diawal pernikahan mereka berdua. Aksinya terhenti setelah Galang menemukan pil tersebut tanpa sengaja ditemoat yang disembunyikan oleh Mayang.
"Apa... Tak kusangka kau mampu berbuat begitu Mayang, " teriak ibu mertuanya yang tiba - tiba telah hadir diatara mereka berdua.
Wajah keduanya menjadi pucat mendengar teriakan wanita paruh baya tersebut. Dengan kepala tertunduk Mayang tak berani menatap wajah wanita dihadapannya.
"Ceraikan wanita yang tak mau melahirkan anak dari mu itu Galang! Untuk apa menikah dengan wanita seperti itu! " Hardik mertuanya dengan sorot mata yang tajam.
Tubuh Mayang bergetar dan kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi. Seketika tubuhnya lunglai dan terhuyung kedepan. Dengan sigap suaminya menyambut tubuh Mayang yang sudah lemah dan tak sadarkan diri.
"Mayang...Sadarlah sayang... Sadar... " Teriak Galang dengan wajah cemas dan khawatir.
"Untuk apa kau urus wanita itu, paling itu juga dia sedang bersandiwara, selama ini sepertinya dia pandai bersandiwara dan berbohong pada mu! " Ungkap ibunya seraya berlalu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Mayang yang telah terbaring dipangkuan suaminya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya...ππ
__ADS_1