
Hanum sulit memejamkan mata terpikir akan cerita sahabatnya itu. Tak jauh beda nasibnya dengan sahabatnya itu.
Memiliki cinta yang sangat rumit dan harus berderai air mata. Butuh suport dari orang disekeliling agar tetap tegar menghadapi semua ujian hidup.
"Apa yang harus ku perbuat buat sahabatku agar ia bisa mendapatkan haknya sebagai istri tidak sebagai sebagai wanita yang dicintai suaminya", ungkap Hanum dalam hati.
Hanum akan membuat sebuah rencana agar masalah ini tak berlarut-larut. Harus ada titik terangnya dari masalah yang dihadapi sahabatnya itu.
Tak mungkin sahabatnya harus menanggung ini semua sendiri sedangkan suaminya sedang berbahagia diatas penderitaan istrinya.
Lama Hanum memutar otaknya agar menemukan sebuah jalan keluar bagi sahabatnya tersebut.
"Yup Hanum sudah mendapatkan solusinya", besitnya dalam hati.
__ADS_1
Dering ponsel mengangetkan Hanum. Tertera Dina dipanggilan tersebut. Hanum segera menerima panggilan dari sahabatnya itu.
Terdengar suara tangis dari seberang sana. Hanum berusaha untuk membujuk sahabatnya agar menghentikan tangisnya untuk berbicara apa yang sedang terjadi.
Dengan suara tersedat-sedat Dina berbicara menahan tangisnya: " Dia sudah pergi dengan membawa semua pakaiannya kerumah wanita itu, kami habis bertengkar hebat"
Hanum terkejut mendengar penjelasan Dina. Ia tak menyangka suami sahabatnya itu bisa begitu jauh bertindak seperti itu.
"Din, tolong kendalikan emosimu berusahalah untuk tenang dan berpikiran jernih. Aku sudah memiliki rencana untuk masalah mu", ungkap Hanum dengan kesungguhan.
dan menunggu Hanum esok pagi untuk melakukan rencana yang telah dibuat Hanum.
******************************************
__ADS_1
Hanum mengetuk pintu rumah Dina yang datang bersama putra bungsu bude. Terdengar suara dari dalam menyahut panggilan Hanum.
Hanum melihat sahabatnya itu sungguh terpuruk, entah berapa lama ia habiskan meratapi diri dan menangis akan kesusahan hatinya.
Akhirnya mereka berdua saling berpelukan, putra bungsu bude melihat adegan dua orang wanita yang dirundung kesedihan mendalam.
"Perkenalkan ini anak tetangga ku yang dapat dipercaya, ia akan melakukan tugas mengintai suamimu dan siwanita itu untuk mendapatkan informasi apapun sebagai bukti kita. Setelah kita mendapatkan bukti ini maka kita bisa minta pertangung jawaban suami mu karena ia telah menelantarkan mu sebagai istri sah", ungkap Hanum dengan bahasa yang pelan dan tersusun rapi agar mudah Dina memahami.
"Apakah kau mencintai nya Din?, tanya Hanum dengan menatap wajah sahabatnya itu dengan serius.
"Aku tak tahu apa perasaanku saat ini, aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga ku. Aku tak ingin melihat orangtua ku merasa bersalah atas jodoh pilihan mereka", ucap Dina dengan lirih.
Hanum menarik nafas panjang mendengar perkataan sahabatnya itu. Lalu melanjutkan bicaranya: "Baiklah kalau begitu kau masih belum yakin akan sebuah perpisahan yang merupakan hal yang terburuk yang akan terjadi. Sebaiknya bersabar dan berusahalah tegar dengan segala keputusan akhirnya, agar kita bisa melalui beban berat itu dengan Lapang hati. "
__ADS_1
"Untuk sementara waktu masalah mu jangan kita libatkan pada kedua orangtua mu atau pun mertua mu. Tapi jika jalan yang kita tempuh ini tak sesuai harapan maka wajib bagi mu untuk menceritakan semua kepada mereka karena mau tak mau mereka punya andil dalam hal ini", ungkap Hanum pada sahabatnya itu yang masih dirundung kesedihan.
Dina menyetujui apa yang direncanakan Hanum dan putra bungsu bude akan melakukan sesuai perintah Hanum.