
Bram segera bergegas meninggalkan kota menuju kerumah Hanum. Dengan kecepatan tinggi sopir pribadi Bram melajukan kendaraan sesuai perintah tuannya. Rasa hati Bram tak sabar lagi untuk segera menemui Hanum. Gadis yang sedang mengandung darah daging Bram didalam rahimnya.
Perasan hati Bram bercampur aduk. Pikirannya melayang tak tentu arah.
"Aku butuh pejelasan mu", teriak Bram tiba-tiba mengagetkan pak sopir yang sedang mengemudi. Beruntung ia masih bisa mengendalikan laju kendaraan yang sedang dikemudinya.
Ia melirik kaca spion kearah tuannya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada majikannya itu. Hatinya mulai lega setelah dilihat ternyata tidak terjadi apa-apa.
Akhirnya Bram memasuki halaman rumah Hanum. "Tak terlihat akan ada acara dirumah ini," besitnya dihati
Memang tak terlihat persiapan pernikahan yang besar. Dirumah ini hanya akan ada tempat duduk buat akad nikah saja.
Bram mengetuk pintu rumah tiga kali terdengar suara dari dalam menyahut. Alangkah terkejutnya ayah ketika dilihat pemuda yang tampan yang tak asing baginya.
"Bram, silahkan masuk" . ucap Ayah dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
"Dimana Hanum". Tanya Bram singkat.
Bram diantar ayah menuju kamar Hanum. Pintu dibuka oleh Bram perlahan terlihat Hanum sedang tertidur pulas ditempat tidurnya.
"Manis sekali gadis ini walaupun sedang dalam keadaan tertidur", besit Bram dalam Hati.
Matanya tertuju pada perut Hanum dan tangan Bram dengan sendirinya mengusap lembut. Bram terkejut ketika ada gerakan yang terasa ditelapak tanganya. "Ia mengenali ku dan terlihat sekali menyukai sentuhan ku, besit Bram dalam Hati.
Hanum terbangun spontan ia menepis tangan yang sedang menyentuh tubuhnya. Ia terlihat panik dan berkata : "Apa yang kau lakukan padaku dan menjauh dariku", ucapnya dengan nada tinggi dan sorot mata penuh rasa takut.
Mendengar perkataan Bram dan sikap seperti menyerah perlahan Hanum dapat mengendalikan emosinya. Trauma akan peristiwa kelam itu masih dirasakan oleh Hanum.
"Kenapa kamu datang kemari? seraya duduk dipojok pinggir tempat tidur.
"Aku butuh penjelasan, kau berjanji akan memberi tahu keputusan mu tapi mengapa aku mendapatkan kabar kalau kau akan menikah dengan lelaki lain". tanya Bram dengan mata penuh rasa penasaran dan kecewa.
__ADS_1
Dengan santai Hanum berkata: "Kau sudah tahu siapa yang ku pilih, sekarang pergilah jangan temui aku lagi", ucap Hanum dengan ketus.
Terlihat kesedihan yang teramat dalam pada wajah Bram. Tidak pernah ia bayangkan ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita seperti ini. Biasanya wanita yang mengejarnya bahkan dengan rela menawarkan diri tidur dengannya.
Hati Bram hancur dan raut wajahnya yang tampan terlihat sangat putus asa.
"Berikan penjelasan kepadaku?, ucap Bram dengan nada mengiba.
"Baiklah, kau ingin bertanggung jawab padaku karena janin yang ada dirahimku kan? dan setelah kau mendapatkannya maka dengan mudah kau campakkan aku. Dengan mudah kau beralih ke wanita yang ada disekeliling mu. Aku tak sanggup berpisah dengan anak ku",,,ungkap Hanum sambil menangis tersedu.
Terkejut Bram mendengar penjelasan dari mulut Hanum. Sebegitu buruknya ia mengartikan ketulusan ku. Tapi wajar saja ia berpikiran begitu karena perlakuan buruk ku terhadapnya dulu.
Andai aku bisa mengatakan yang sebenarnya bahwa aku tak hanya menginginkan anak yang ada dirahimnya tapi juga dirinya. Mulut Bram terkunci tak bisa mengatakan apa yang ada dihatinya.
Hanum pasti tak akan percaya dengan mudah atas apa yang ia rasakan dihatinya. Seorang lelaki yang telah melakukan hal yang keji dan hina tiba-tiba jatuh hati padanya. Tidak mungkin ia percaya begitu saja.
__ADS_1