Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 188 Pulang


__ADS_3

Semua orang merindukan dirinya tak terkecuali Hanum. Lebih satu pekan Bram melakukan perjalanan bisnis keluar negeri.


Betapa rindunya putri kecil kesayangan pada papanya.


"Bunda, malam ini papa sampai kerumah jam berapa?" Dengan manja putrinya bertanya.


Hanum menggelengkan kepala pertanda tak dapat menjawab pertanyaan putri kecilnya itu.


Yaaaah...


"Bunda ga yes nih," sungut putri kecilnya dengan wajah manyun.


Eits...


"Sejak kapan Fay pandai sebut kata ga yes," ledek Hanum pada putri kecilnya yang masih ngambek karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Hanum membelai lembut puncak kepala putrinya seraya memeluk dengan penuh kasih sayang. Putrinya menjadi luluh sehingga senyum kembali menghiasi wajah manisnya.


"Aunti Nina yang sering bilang ke Fay kalau ga yes itu artinya ga sesuai dengan yang diinginkan," ucap polos putrinya seraya senyum tak lepas dari wajah yang menggemaskan itu.


***


Diliriknya jam yang menempel didinding kamar tersebut. Jarum jam menunjukkan angka 23.00, setelah menidurkan putrinya Hanum tak dapat tidur.


Pikirannya melayang pada suaminya yang akan pulang malam ini. Tak biasanya Bram tak memberi kabar waktu kepulangannya.


Dirinya hanya diberitahu bahwa akan sampai pada malam ini dirumah. Akhirnya Hanum tertidur disofa. Rasa kantuk rupanya telah menguasai dirinya.

__ADS_1


Cujup lama Hanum tertidur disana, menggunakan baju tidur yang transfaran berbahan sutra berwarna maron dengan belahan dada yang terlihat jelas.


Sebuah sentuhan lembut melayang dipipinya. Membuatnya terjaga dengan mata berkedip dan melihat antara sadar atau mimpi.


Sosok lelaki yang tampan telah berada dihadapanya. Mengenakan baju tidur sedang menatapnya dengan penuh cinta.


"Sayaaang..." Maaf telah membuatmu menunggu.


Bisikan mesrah tepat ditelinga Hanum. Bram menggedong tubuh istrinya dan membaringkan tubuh wanita pujaanya keatas kasur yang empuk.


Kini tubuh Bram telah berada diatasnya, Hanum masih merasakan ini adalah sebuah mimpi.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Ujar Hanum masih terlihat bingung dengan perlakuan suaminya.


Bram mencium bibir merah Hanum lalu menarik hidungnya yang tak begitu mancung.


Teriak Hanum seraya mengelus hidungnya yang terasa panas dan sakit dengan jarinya.


"Ternyata ini bukan mimpi" Batin Hanum yang telah sadar.


"Kau telah pulang sayang... " Ucap Hanum dengan tersenyum manja.


Bram ternyata sudah lama sampai, melihat istrinya tertidur disofa dibiarkannya saja. Ia lalu mandi dengan air hangat karena tubuhnya terasa penat dan gerah sekali.


Wajar tercium aroma wangi ditubuh Bram ketika mendekap tubuh Hanum.


"Maaf telah membangunkan mu," balas Bram seraya mencumbui istrinya dengan lembut dan mesrah.

__ADS_1


Ada gurat rindu dimata Bram terhadap wanita dihadapannya. Rasa tak sabar melepaskan semua rasa rindu yang terpendam selama perpisahan tersebut.


Bram mulai melancarkan sentuhan nakalnya pada Hanum. Hanumpun memberikan respon yang agresif karena memang dirinya sangat merindukan suaminya tersebut.


Dengan berbagai gaya dipraktekkan langsung oleh Hanum. Bram terkejut melihat aksi liar istrinya.


Senyum kepuasan dan kenikmatan terlihat jelas diwajah Bram. Dirinya tak menyangka istrinya pandai bermain diatas kasur. Timbul rasa penasaran dihatinya, darimana Hanum mempelajari ini semua.


"Sayang kau berbeda sekali malam ini..." Ledek Bram seraya mencuil hidung istrinya.


Hanum tersipu malu mendengar perkataan suaminya. Dirinyapun tak menyangka mampu mempraktekan semua yang dibacanya pada saat bercinta dengan Bram.


"Kenapa? Apa kau tak menyukainya? "Balas Hanum dengan balik bertanya.


Bram lalu mencium kembali bibir merah Hanum seraya membisikan ketelinga istrinya dengan sentuhan menggairahkan Hanum kembali.


"Aku sangat menyukainya" bisik Bram yang tak berhenti mencumbui istrinya.


Adegan bercinta yang kedua terjadi kembali malam ini. Entah dikarenkan rasa rindu yang teramat dalam atau gaya modifikasi bercinta Hanum yang menggoda Bram malam ini.


Memancing libidonya sebagai seorang lelaki pada wanita halalnya. Bram melihat setiap senti tubuh Hanum yang menggairahkan dan gerakan tubuh istrinya memancing hasratnya untuk mengulangi kembali.


Malam terasa sangat panjang bagi mereka berdua...


Dan akhirnya mereka terkulai lemas dengan peluh membasahi disekujur tubuh mereka berdua. suhu dingin dari pendingin udara tak mampu mendinginkan perasaan mereka yang terbakar akan rindu.


Baju transfaran yang dikenakan Hanum malam ini, kini tak lagi membalut tubuh idealnya. Mereka berdua yang tanpa sehelaipun kain ditubuh, kini menyatu dalam balutan selimut tebal yang ada diatas kasur tersebut.

__ADS_1


__ADS_2