Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 201 Terpaksa (Part 2)


__ADS_3

Angin malam masuk melalui celah dari bilik bambu, terasa dingin menusuk dikulit. Ada perasaan yang tak menentu dihati Mayang, sebuah perasaan gelisah akan sesuatu yang tak diketahuinya.


Pikirannya menerawang jauh berkelana, tak tentu arah. Tatapan matanya kelangit - langit kamarnya seakan menembus gelapnya malam.


"Kenapa aku jadi segelisah begini?" Batin Mayang dalam hati.


Pikirannya terlintas kembali pada saat dirinya meminta ijin agar bisa pulang kampung pada majikannya.


Flashback on


"Nyah...Apa boleh saya meminta ijin pulang paling lama sekitar 10 hari? perasaan ku akan ada sesuatu yang akan terjadi pada keluarga ku? Jika diijinkan aku akan pulang besok?" Ujar Mayang.


"Kenapa tiba - tiba saja? Apa kamu ga betah kerja disini?" Balas majikannya dengan tersenyum menatap gadis muda yng baru bekerja sekitar delapan bulan itu.


"Saya betah Nyah, saya bersyukur memiliki majikan sebaik anda, namun aku kepikiran Ibu terus, yang sebelum aku kemari dia telah sakit - sakitan," ucap Mayang dengan wajah sedih dan berusaha menahan bulir bening diujung matanya.


"Apa ga bisa dihubungi dulu keluargamu, sekedar mencari informasi mengenai kabar terbaru dari sana?" Balas majikannya kembali seakan berat untuk memberikan Mayang ijin untuk pulang kampung.


"Kami keluarga susah Nyah, tak memiliki telpon genggam untuk menanyai kabar secara langsung, terakhir aku mengirim surat dan mendapatkan balasan dari sana Ibu masih sakit," Ujar Mayang dengan menarik nafas dalam agar dapat mengendalikan emosinya.


Majikan menatap serius wanita dihadapannya. Terlihat kejujuran dimata gadis muda tersebut. Tersentuh akan cerita yang barusan disampaikannya.


"Baiklah, aku akan berikan kamu ijin selama 10 hari paling lama, karena aku berpikir anak ku sudah lebih baik jadi bisa kau tinggalkan semetara waktu. Untuk tugas mu ku alihkan ke Bik Ijah," ucap wanita separuh baya yang terlihat cantik diusianya yang tak muda lagi seraya tersenyum menatap Mayang dan Bik ijah.


Bik Ijah ada disamping Mayang, dirinya hanya sebagai pendengar saja sejak dari awal pembicaraan antara majikan dengan gadis muda disampingnya.


Ada rona turut bahagia diwajah wanita disamping Mayang mendengar keputusan terakhir dari majikannya.


"Baik Nyah," jawab singkat Bik Ijah.


***


Ketika Mayang membereskan beberapa pakaian untuk dibawanya kekampung, Bik Ijah turut ada didalam kamar gadis muda tersebut.


"Non, kamu balik lagi kemari ya? " Ucapnya dengan wajah bersedih.


"Aku pasti akan sangat merindukan tawa riang mu disini," ujarnya kembali.


Dengan wajah berusaha ditundukkannya agar tak kelihatan bulir bening telah jatuh diwajahnya.


Mayang memeluk wanita paruh baya tersebut, seperti memeluk Ibunya. Tenggelam dalam kesedihan yang sama.


Sejujurnya Mayang sangat betah dan nyaman tinggal disini, semua orang sangat menyayanginya.


Flashback Off

__ADS_1


Ternyata feeling nya benar bahwa keluarganya sedang mengalami masalah besar.


"Aku tak sampai hati kalau harus melihat keluarga ku terlunta - lunta sampai tak memiliki tempat tinggal," Jerit dihati Mayang.


"Apa aku harus menelpon tempat majikan ku disana, memberi kabar keadaanku dikampung dan meminta bantuan," batinnya didalam hati.


Mayang bertekad akan pergi kepasar dan mencoba untuk menghubungi majikannya besok pagi.


"Ya! Akan ku lakukan itu," ucap pelan Mayang seraya membalikkan tubuhnya kekanan.


Entah jam berapa Mayang tertidur, yang dirinya tahu suara riuh ayam dipagi hari telah terdengar ditelinganya. Terasa singkat tidurnya malam ini.


Dicobanya bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Berjalan dengan kaki pelan karena rasa kantuk masih mendera dimatanya.


Dibasuhnya muka dan segera mengambil wudhu, ternyata Simbok telah bangun untuk mempersiapkan bekal yang akan dibawanya untuk membantu Ayah diladang orang.


"Sudah bangun Ndok," sapa ibu seraya tersenyum.


Mayang segera mengutarakan niat yang dipikirkannya semalam pada Ibunya. Meminta ijin untuk kepasar hari ini.


"Baiklah, hati - hati ya. Hari ini Simbok mau bantu Bapakmu diladang. Gendis sama Galih kesekolah jadi kunci rapat pintu rumah ya Ndok, " perintah Ibunya.


Mayang menganggukan kepalanya pertanda mengerti, kemudian berlalu dari hadapannya untuk menunaikan sholat dua rakaatnya.


***


Bergegas mencari mobil yang biasa mangkal mengangkut orang - orang yang akan pergi kepasar. Dipercepatnya langkah kaki menuju pangkalan mobil, Mayang khawatir akan ketinggalan mobil angkutan tersebut.


Diliriknya jam yang melingkar ditangan kanannya, jarum jam tertuju diangka 06.35. Butuh perjalanan sekitar 10 menit baru sampai di tempat pangkalan mobil.


Mobil akan berangkat tepat jam 07.00 pagi, Mayang harus bergegas untuk segera sampai disana. Angkutan itu akan kembali lagi jam 10.00 mengangkut trayek kedua begitu seterusnya. Perbedaan tiga jam setiap harinya jika tidak terjadi mogok. Kemudian kembali lagi kekampung jam 16.00 sore.


Dengan sedikit peluh telah membasahi paras cantiknya, akhirnya Mayang sampai juga dipangkalan tersebut.


"Mau kepasar Ndok?" Sapa sopir angkutan.


"Ya, Pakde" Balas Mayang dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Aku tak sangka! Ternyata Darso punya anak gadis ayu tenan (Cantik sekali)..." Ungkap sopir tersebut dengan membalas senyum Mayang.


Mayang tersipu malu seraya naik masuk kedalam mobil, diliriknya kembali jam menunjukkan angka 06.50. Ternyata dirinya berjalan tepat 15 menit berlebih dari biasanya.


Mobil akan berangkat berapapun penumpang yang ada didalamnya, Mayang harus menunggu 10 menit lagi, jika ada yang akan datang untuk tujuan yang sama.


10 menit menunggu ada penambahan dua orang penumpang, dan mobilpun bergerak melaju menuju pasar yang cukup jauh dari kampungnya.

__ADS_1


Pikirannya sesampai dipasar, Mayang akan langsung menuju rumah sahabatnya yang tak jauh dari pasar. Mayang yakin sahabatnya memiliki telpon genggam.


Mencoba meminjam sebentar ponsel sahabatnya untuk menyampaikan niat yang telah disusunnya dari semalam.


Akhirnya mobil berhenti dipangkalan juga, Mayang langsung mencari ojek untuk menuju rumah sahabatnya.


Cukup waktu 10 menit dia telah smpai pada sebuah rumah permanen sangat jauh berbeda dari tempat tinggalnya.


Sahabatnya tersebut termasuk dari keluarga yang mampu, dan tak malu berteman dengan anak dari keluarga susah seperti Mayang.


Dicobanya mengetuk pintu tiga kali, terdengar sahutan dari dalam rumah. Seorang gadis sebaya dengan dirinya telah berada dihadapanya.


"Mayang..." Teriak histeris gadis dihadapannya.


Mereka berdua berpelukan, saling melepas rindu.


"Aku rindu padamu..." Ujar sahabatnya itu.


"Sama Nik, aku juga rindu pada mu," balas Mayang.


"Ayo masuk! " Dengan menarik tangan Mayang masuk kedalam rumahnya.


"Mana orangtua mu?" Tanya Mayang karena merasa tak terdengar ada aktivitas orang lain selain mereka berdua.


"Ibu kepasar, kalau Bapak biasa lagi mengotrol diladang, " ujar Menik dengan senyum tak lepas diwajahnya.


Ayah Menik termasuk Tuan Takur, memiliki banyak petak sawah dan ladang yang dikerjakan oleh orang seperti ayah Mayang.


"Tumben kemari, Ada apa? Aku selalu menunggu kabar dari mu? Ketika bertemu Bapakmu dipasar," ujar Menik dengan penasaran.


Rupanya Menik sering menanyakan kabar dari Ayahnya yang sering dua hari dalam seminggu menjadi buruh panggul dipasar ini.


"Aku tahu sekarang kau bekerja dikota, makanya tak lagi kemari" Ucap Menik dengan raut sedih.


Menik tahu benar bahwa Mayang adalah anak yang cerdas disekolah, cita - citanya ingin melanjutkan kuliah. Tetapi setelah mendengar cerita dari orangtuanya bahwa sahabatnya itu malah bekerja sebagai asisten rumah tangga dikota.


Nasib tak berpihak baik pada sahabatnya itu. Ada kesedihan dimata Menik mendengar cerita dari Bapak Mayang.


###


Jangan lupa habis baca klik tanda hati❀❀❀ dan jempolnyaπŸ‘πŸ‘πŸ‘ ya Reader 😍😍😍


Plzzz rate bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟dan votenya 🌠🌠🌠


Author Tunggu....😊😊😊

__ADS_1


Salam Hangat πŸ™


Lemb@yungπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2