
Sinar mentari menembus dedaunan memberikan kekuatan energi pada pohon tersebut agar tetap kokoh berdiri menahan terpaan angin dan badai.
Embun pagi memberikan kesejukan pertanda hari ini akan ada sebuah harapan baru buat semua orang dari rasa lelah dalam berjuang untuk mempertahankan kehidupan.
Hanum masih berdiam diri menatap kearah luar dari balik jendela kamarnya. Bunga yang tumbuh tepat tak jauh dari jendela rumahnya menambah warna didalam hatinya.
Ada sedikit keraguan dihatinya, apakah sanggup menatap wajah dan berkata pada seorang lelaki yang cukup lama singgah dihatinya dan mengisi hari-hari dimasa yang lalu.
"Galang Hadi Kesuma" lelaki yang sangat dicintai Hanum yang memberikan arti kesuksesan dirinya dalam menyelesaikan tugas kewajiban sebagai seorang anak kala itu.
Lamunan Hanum terhenti karena suara dari nada dering ponselnya. Hanum meraih ponsel yang terletak diatas meja riasnya.
Tertulis nama Intan di dalam panggilan tersebut. Segera ia menerima panggilan dan terdengar salam dari seberang sana.
__ADS_1
"Saya akan membawa ia kecafe tempat kita bertemu waktu itu, aku tak memberi tahu bahwa selama ini kamu berada dikota yang sama dengan kita. Jadi kita akan bersandiwara seolah baru pertama bertemu", ucap Intan dengan rencana yang telah diaturnya agar terkesan lebih natural.
Hanum mengikuti saja rencana yang telah diatur oleh istrinya Galang. Ia berharap Hanum bisa melakukannya sebaik mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan pada Galang.
"Baiklah, aku akan melakukannya sesuai dengan yang telah kau rencanakan. Hasil akhirnya aku tak bisa menjanjikan padamu, ia mau mengikuti apa kata ku. Tetapi Aku pastikan akan melakukannya dengan sepenuh kemampuan ku untuk ia mau mendengarkan perkataan ku", ungkap Hanum dengan kesungguhan.
Intan merasa lega dengan perkataan yang ia dengar melalui ponselnya itu. Mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah Hanum berikan untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya.
Baru saja ia melangkah kan kakinya keluar rumah. Bram sudah ada didepan halaman rumahnya. Hanum terkejut akan kehadirannya secara tiba-tiba.
Melihat lelaki itu dengan senyum khasnya menatap Hanum ada rasa cemas dan khawatir. Jika Bram mengetahuinya akan bertemu dengan lelaki yang pernah mengisi hatinya pada masa lalu bahkan sampai saat ini masih ada dihatinya.
"Hy, sudah rapi mau kemana? ", tanya Bram dengan sorot mata penuh cinta.
__ADS_1
Deeg, jatung Hanum berdetak kecang. Berusaha menutupi rasa gugupnya dan segera memutar otaknya untuk mencari alasan yang masuk diakal agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Bram.
"Hy,, aku pergi kepanti untuk menemui ibu kepala panti", ucap Hanum seketika dengan berusaha tersenyum seperti biasa.
"Baiklah, aku akan antar kamu kalau begitu", ucap Bram dengan senyum yang masih melekat diwajahnya.
Hanum jadi bingung mendengar perkataan dari lelaki itu. Berusaha menolak secara halus tawarannya mengantar Hanum.
"Tak perlu, ajak saja Fairuz dan Hani pergi karena sedari tadi Fay membujuk auntinya untuk membeli es krim kesukaanya, dan sekarang Fay sedang merajuk pada Hani", ungkap Hanum dengan wajah serius.
Beruntung Bram tak memaksa untuk mengantarkan dirinya. Berlalu pergi setelah mencium dahi Hanum dan berkata : "Baiklah sayang kalau begitu hati-hati dijalan, aku akan membawa putri kecil kita yang sedang merajuk itu".
Ada rasa bersalah pada hati Hanum yang telah berbohong pada lelaki yang sangat mempercayai dirinya. Rasa perdulinya meneruskan niat membatu wanita yang baru dikenalnya itu.
__ADS_1