Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 203 Sebuah Harapan


__ADS_3

Setelah menunaikan tiga raka'at dan selesai makan malam dengan menu yang berganti dari yang Mayang makan tadi siang.


Sebuah nomor baru masuk keponsel Menik, gadis tersebut menunjukkan panggilan tersebut pada Mayang.


Mayang mengecek nomor yang barusan membuat panggilan, ternyata benar itu nomor yang siang tadi dihubungi Mayang.


Ternyata Bik Ijah menelpon balik keponsel Menik, segera Mayang mengangkat panggilan tersebut.


Terdengar suara dari seberang sana menanyakan siapa yang menelpon. Dengan cepat Mayang memperkenalkan diri bahwa dirinya yang telah menelpon tadi siang.


Terdengar riuh suara diseberang sana, Bik Ijah begitu excited mendapatkan panggilan dari Mayang.


Lumayan lama mayang bercerita diponsel tersebut, karena masalahnya telah terselesaikan maka diurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada majikannya.


Mayang hanya memberikan kabar bahwa dirinya akan segera kembali kekota untuk bekerja disana. Terdengar suara Bik Ijah bergembira mendapat kabar tersebut.


Mayang melirik jam yang melingkar ditangannya tertera jam 21.15. Segera diakhirinya panggilan tersebut dengan ucapan salam.


"Maaf pak menunggu," ucap Mayang melihat lelaki tua tersebut telah berdiri didepan halaman rumah.


Peluk cium Menik dan Ibunya melekat diwajah Mayang, sebungkus plastik hitam telah ada ditangan Mayang.


Ternyata Ibunya Menik membungkuskan makanan untuk dibawanya pulang kerumah, bulir bening kembali menetes dipelupuk matanya.


Dalam diam wanita paruh baya tersebut mengerti apa yang dipikirkan Mayang sewaktu makan siang tadi.


"Terima kasih banyak Bu..." Ucap Mayang seraya mencium punggung tangan wanita tersebut.


"Semoga kau keterima diperguruan tinggi tersebut Menik," ucap Mayang seraya memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kau juga sahabatku, jangan kau buang cita - cita mu untuk melanjutkan pendidikan," ucap Menik berusaha menyemangati Mayang.


"Aku tak tahu kedepan nasibku sahabat! Yang ada dalam pikiran ku adalah segera bekerja dan menggantikan uang yang ku pinjam dari keluarga mu," batin Mayang seraya tersenyum menatap Menik dan Ibunya.


Lambaian tangan dari kedua wanita yang melihat Mayang sampai menghilang dari hadapan mereka.


"Aku tak menyangka masih ada orang - orang baik dibumi ini seperti keluarga Menik," ucapnya kembali didalam hati seraya membalas lambaian tangan mereka berdua.


Mobil melaju dengan cepat, tak terasa ketika membukakan mata Mayang telah berada dihalaman depan rumahnya.


Rupanya selama perjalanan dirinya tertidur pulas, rasa lelah dengan beban berat membuatnya tertidur.


"Maaf Pak, saya tertidur," ucap Mayang pada lelaki yang mengendari mobil tersebut.


"Ndak apa - apa, Menikpun begitu kalau naik mobil langsung tidur," balas lelaki tersebut.


"Ayok turun... Kita sudah sampai," ucapnya kembali.

__ADS_1


Mayang mencoba mengetuk pintu, sebelum pintu diketuk ternyata telah terbuka duluan.


Rupanya ibunya belum tidur begitu juga seluruh anggota keluarganya.


Ayah Mayang melihat lelaki yang tak asing baginya. Segera mendekati dan mengulurkan tangan untuk berjabat.


Disambut hangat oleh Ayah Menik uluran tangan Pak Darso.


"Maaf Pak silahkan duduk, beginilah keadaannya," Ayah mempersilahkan tamunya untuk duduk dikursi yang terbuat dari bambu.


Ayah Menik duduk tanpa memperdulikan keadaan yang serba pas - pas dirumah Mayang.


"Maaf kami kemalaman," ujar Ayah Menik membuka cerita.


Mayang bergegas masuk kedalam dan menyeduh minuman untuk kedua lelaki diruang tamu tersebut. Bungkusan hitam diserahkanya sama Gendis.


Dengan cekatan adik bungsunya membuka bungkusan yang diberikan saudari perempuanya.


"Hangatkan itu biar tak basi," ujar Mayang pada adik bungsunya.


"Baik Mbak." Dengan singkat adik bungsunya menjawab.


Ada rona bahagia di wajah adik bungsunya, melihat satu persatu bungkusan kecil yang ada diplastik hitam tersebut.


"Makan enak kita Mbak," ucap spontan adik bungsunya.


"Ibu Menik yang memberi bungkusan itu," ucap Mayang dengan menatap wajah adik bungsunya.


Terlihat sekali diwajah adik bungsunya menelan air liur karena tergiur dengan makan yang sedang dihangatkannya.


"Makan saja tak perlu menunggu besok pagi, ujar Mayang melihat air liur telah menetes diujung bibir adik bungsunya.


"Boleh Mbak?" diperjelas kembali oleh Gendis.


Mayang menganggukkan kepalanya, Gendis mengerti isyarat dari saudari perempuannya.


"Aku panggil Mas Galih, untuk ikut mencicipinya," ucap adik bungsunya seraya berlalu meninggalkan Mayang.


"Ayooo, Mas. Kita makan enak malam ni," ucap Gendis dengan menarik tangan saudara laki - lakinya kedapur.


Dengan lahap kedua kakak adik itu memakan makanan yang dibawa Mayang tersebut.


"Enak ya Mas...Ternyata begini rasa semur daging itu, biasa Simbok masak semur tempe sama tahu," ucap polos Gendis.


"Ya...Benar Wenak Tenan (enak sekali)," Balas Galih seraya menguyah semur daging yang dimasukkan kedalam mulutnya.


Rasa riang tergambar jelas diwajah polos adiknya yang masih duduk dibangku SD tersebut.

__ADS_1


***


Diruang tamu ayah dan ibu mengobrol dengan ayahnya Menik. Ayah sangat berterima kasih pada orangtua Menik atas bantuan yang diberikannya.


Rasa tak percaya, bahwa ada solusi dari permasalahan keluarganya. Ayah sempat putus asa berkeinginan untuk menjual rumah ini dan sebagian uangnya akan dibayarkannya pada renternir tersebut.


Kedua orangtua Mayang bersujud syukur atas bantuan yang diberikan keluarga dari sahabat putrinya. Ternyata masih ada orang yang memiliki hati yang ikhlas mau membantu tanpa imingan sesuatu apapun.


"Terima kasih banyak Pak, atas segala bantuan yang bapak berikan pada saya dan keluarga. Terhutang budi saya pada keluarga bapak, saya akan berusaha sekuatnya untuk mengembalikan pinjaman tersebut," ucap ayah seraya meneteskan air mata di pipinya, terlihat diwajah senjanya tidak sesuai dengan usia sebenarnya.


"Uang itu jangan dijadikan beban, saya tak akan menagihnya, sampai bapak mampu untuk mengembalikan sendiri pada saya," ujar ayah Menik.


"Begitu pemurahnya hati bapak, semoga bapak dilimpahkan rejeki yang murah pada Allah," balas ayah Mayang seraya berdoa dengan menadahkan kedua tangannya.


"Amin..." Jawab ayah Menik.


Akhirnya obrolanpun terhenti diliriknya jam ditangannya ternyata telah menunjukkan angka 23.00, ayah Menikpun pamit pulang.


***


Malam ini keluarga Mayang tak hentinya mengucap rasa syukur atas bantuan yang dikirimkan oleh Allah melalui keluarga Menik.


Ayah, ibu dan kedua adiknya merasakan kebahagian malam ini. Terlebih lagi Mayang yang merasa lega bahwa dirinya terlepas dari jerat lelaki tua yang mata keranjang tersebut.


Malam ini seluruh anggota keluarga dapat tertidur dengan pulas dan bermimipi akan hari esok yang lebih baik. Terkecuali Mayang yang masih mentap langit - langit kamarnya.


Dikuburnya dalam - dalam akan niatnya melanjutkan pendidikan, dirinya harus dapat menepati janji untuk dapat membayar secepatnya pinjaman pada keluarga Menik.


"Bik Ijah telah mendapatkan kabar bahwa dirinya akan segera kembali bekerja, jadi pasti telah disampaikannya pada Nyonya besar," batin Mayang.


Dicobanya untuk memejamkan mata dan berbaring senyaman mungkin agar dapat tertidur. Suara binatang malam telah terdengar jelas sahut menyahut pertanda telah lewat tengah malam.


###


Baiklah Reader 😊 Author mau curhat 😁😁


Rasa tak menyangka Author dapat menulis tulisan perdana ini sampai episode melebihi target Author.


Terima kasih tak terhingga atas dukunganya, telah setia membaca dan mengikuti sampai episode ini. πŸ™πŸ™πŸ™


Semoga kalian bisa menikmatinya, dan maaf jika tulisan ini sangat jauh dari kata sempurna.


Tetap dukung Author agar tetap berkarya menghasilkan sebuah tulisan yang berkualitas.πŸ‘Œ


Oya....☝ Jangan lupa untuk bergabung digroup chat yaaaaπŸ’ŒπŸ’ŒπŸ’Œ, biar kita makin dekat dan tambah mesra😍😘❀❀


Salam Hangat

__ADS_1


Lemb@yungπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2