
Masih berada dikamar rawat inap tersebut, sangat berbeda dengan biasanya. Brian memang pandai membuat sebuah rencana.
Kamar rawat inap Hani disulap menjadi sebuah kamar yang sekilas ketika orang melihatnya bukan sebuah kamar rawat inap yang ada dirumah sakit tersebut.
Ada banyak bunga diruangan itu sehingga tercium sekali aroma wangi bunga dihidung ketika memasuki ruangan tersebut.
Tempat tidur Hani disulap menjadi sebuah tempat yang ditumbuhi berbagai bunga liar yang seolah-olah merambat dan tumbuh ditempat tidur itu.
Disudut ruangan terdapat sebuah tempat untuk akad nikah yang akan berlangsung pada pagi ini. Hani diungsikan sementara dikamar lain sehingga tak mengetahui apa yang direncana oleh calon suaminya itu.
"Pagi mbak ," tegur seorang wanita yang tersenyum dengan style seperti penata rias dengan box yang ada ditangannya.
Hani membalas senyum pada wanita itu dan merasa heran kenapa wanita ini datang menghampirinya.
"Saya akan merias wajah mbak biar terlihat lebih cantik lagi," ucap wanita itu seraya membuka box yang dibawanya.
Tak butuh waktu lama wanita itu sudah siap memberikan polesan make up pada wajah Hani. Kini terlihat wajahnya lebih segar dari sebelumnya.
"Baiklah saya sudah siap tinggal memakai kan baju buat mbak," ungkapnya setelah selesai merias wajah Hani dan kembali dengan baju kebaya yang ada ditangannya.
__ADS_1
" Aku ga bisa duduk," jawab Hani pada wanita itu karena ia merasa akan sulit memakai kebaya itu.
" Saya akan membatunya mbak dan memakaikannya dengan sangat hati-hati dan perlahan," jawab wanita itu dengan tersenyum dan penuh keyakinan.
"Baiklah." Dengan membutuhkan waktu cukup lama akhirnya kebaya bernuansa putih itu telah melekat ditubuh Hani.
Semua keluarga telah berkumpul, Brian tak memiliki keluarga hanya keluarga Bram lah yang menjadi keluarganya.
Semua wajah berbahagia melihat pernikahan yang sangat sakral itu. Terkecuali dua orang wanita yang sedari tadi mencibir Hanum dan keluarganya.
" Selamat ya sayang," dengan senyum yang menghiasi wajah ibu dn ayah buat putri keduanya itu.
"Selamat ya dek Hani, selalu berbahagia dan cepat sembuh." Berusaha menutupi kesedihan yang ia rasakan dihatinya, lelaki yang dalam diam menyukai Hani.
" Terima kasih mas, do'a kan semoga aku segera berdiri dan berjalan kembali." Suara senduh Hani terdengar pilu ditelinga putra bungsu bude.
Menganggukan kepalanya lalu menatap wajah Hani dengan sorot mata patah hati kemudian berlalu pergi meninggalkan acara yang hanya tersisa keluarga disebelah pihak Bram dan Hanum.
"Manalah mungkin aku bisa bersaing dengan laki - laki itu dan mampu memberikan pengobatan yang terbaik seperti laki-laki yang menjadi suami Hani sekarang!" Jerit hati putra bungsu bude yang harus mengubur dalam - dalam perasaanya terhadap gadis tetangganya itu.
__ADS_1
Langkah kakinya seakan penuh dengan kekalahan dari cinta pertamanya dengan raut wajah penuh kesedihan. Ibunya mengetahui bahwa putranya telah patah hati.
" Nak, ikhlaskan dan buka hatimu untuk gadis yang lain. Biarkan Hani bahagia dengan laki-laki yang akan membuatnya kembali sembuh seperti semula." Perkataan ibunya menyadarkan akan kebaikan dari gadis yang dicintainya menikah dengan lelaki tersebut.
Hanum turut berbahagia atas pernikahan adiknya, Brian adalah sahabat suaminya sejak remaja. Hanum percaya bahwa sahabat suaminya itu akan memberikan kebahagiaan buat adik perempuannya.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
Terima Kasih...🙏🙏
__ADS_1
Salam Hangat Lemb@gung