
Pagi-pagi sekali Bram bergegas meminta sopir pribadinya untuk mengantar ke kediaman keluarga Hanum. Butuh empat jam perjalanan menuju kediaman keluarga Hanum.
Sepanjang jalan tak lepas wajah Hanum dalam pikiran Bram. "Mengapa wanita itu tidak tertarik sama sekali padaku". ucap Bram lirih.
Ada bulir bening keluar diujung mata Bram. "Apa yang harus aku lakukan agar dapat meyakinkan hatimu". ucap Bram sendu.
"Tuan muda kita sudah sampai", ucap pak sopir.
Rupanya Bram terlelap sekejap sehingga tidak mengetahui kalau sudah memasuki halaman rumah Hanum.
Bram mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam rumah.
Seorang gadis belia yang berada didepan Bram terkejut dengan kehadirannya. Gadis itu tak mengenal Bram, ia hanya terkejut ada laki-laki tampan dengan pakai yang serasi dengan tubuh atletik.
"Masuklah", ucap Nina.
Bram menuju ruang tamu dan ia tak sabar untuk bertemu dengan Hanum dan anaknya.
__ADS_1
Tak butuh lama menunggu Ayah keluar dari dalam ruang tengah.
"Ada perlu apa? tanya Ayah.
" Saya hanya ingin bertemu dengan Hanum ". jawab Bram dengan nada datar.
"Untuk apa lagi kau bertemu dengannya dan biarkanlah ia bahagia dengan caranya sendiri", ungkap ayah dengan nada sesikit tinggi.
Mendengar perkataan ayah Hanum yang terlihat kurang berkenan atas kedatangan Bram. Amarah yang semula ia kendalikan mulai terpancing.
Apa yang dikatakan Bram memang benar adanya. Ayah sangat kecewa dengan sikap Galang. Ternyata apa yang ayah anggap Galang akan menjadi suami putrinya dan menerima semua keadaanya yang terjadi pada Hanum tidak lah benar.
Bahkan ia tak ragu meninggalkan putrinya pada saat akad nikah berlangsung. Tak dipikirkan nya perasaan Hanum dan betapa tercorengnya wajah ayah dengan keluarga dan tetangga yang saat itu hadir.
Akan dibawa kemana nama baik keluarga yang selama ini dijaga. Masih beruntung ada Dika yang bersedia menikahi Hanum. Dika tak seperti yng dituduhkan Bram. Pasti dia akan menjaga Hanum dan menerima anaknya.
"Bram", sapa Hanum membuyarkan lamunan ayah.
__ADS_1
"Ikut saya", ucap Hanum memberikan perintah seraya berjalan keluar rumah.
Ayah memandang Hanum seakan meminta untuk tidak menemui laki-laki itu. Hanum memberikan isyarat melalui mata bawa ia akan baik-baik saja dan meyakinkan untuk tidak khawatir.
Bram permisi kepada ayah untuk berbicara pada Hanum. Hanum berhenti dan duduk disaung samping rumah. Mereka berdua duduk berdampingan.
Bram memegang perut Hanum dan membelai dengan lembut. Terasa gerakan lembut ditelapak tangan Bram sehingga ada senyum yang terlihat diwajahnya.
Hanum membiarkan saja dan hanya memperhatikan tingkah laku Bram.
"Bagaimana keadaan mu sayang? apa kamu menyusahkan mama mu karena pertumbuhan mu semakin besar", ujar Bram dengan rona wajah penuh bahagia.
Hanum berpikir kenapa laki-laki yang ada diisampingnya ini begitu tulus terhadap anak yang ada dirahimnya. Terasa sekali sentuhan diperut Hanum dan terlihat ia sangat menyayangi anak yang dikandung nya.
"Bram mengapa tak kau biarkan saja aku bahagia dengan cara ku sendiri. Lupakan tentang anak ini karena suatu saat kau juga akan mendapatkan anak dari wanita yang kau cintai". ungkap Hanum.
Mendengar perkataan Hanum, Bram menghentikan tangannya yang sedang asik membelai lembut perut Hanum seraya berkata: "Aku tak akan pernah melupakan darah dagingku walaupun kehadirannya dengan cara yang tak kita sukai tapi jangan harap aku akan pergi dari kehidupanmu". ungkap Bram dengan kesungguhan dan sorot mata yang tegas.
__ADS_1