
Clara masih mengoceh tak tentu arah. Andrew melihat Clara seperti itu, mulai khawatir kekasihnya akan berbuat gegabah dan rencana mereka akan gagal.
"Hentikan...Clara !" teriak Andrew mengagetkan semua orang yang ada disana.
Tidak mau menggubris perkataan Andrew, sepertinya Clara menjadi lebih terpancing emosinya. Dibukanya penutup mata Hanum dan Laura dengan cara kasar oleh Clara. Kemudian menodongkan senjata itu kembali ke wajah Hanum.
Melihat ada kesempatan Hanum mendorong tubuh Clara sehingga senjata api tersebut terlepas dari tanganya dan sekarang terjadi perkelahiran antara wanita dengan wanita.
Melihat kondisi tersebut Galang tak mau berdiam dengan cekatan juga bergumul dengan dua lelaki berbadan kekar. Bram tak mau kalah juga menghajar Andrew.
Terjadilah perkelahihan yang tak terelakan disana. Galang dapat mengalahkan kedua lelaki bertubuh kekar dengan pakaian preman tersebut.
Mereka berdua tumbang diatas lantai dan tak bergerak sama sekali. Laura hanya bisa melihat dipojok gudang bekas pabrik tersebut dengan wajah ketakutan.
Melihat saudara lelakinya dan kakak iparnya yang sedang berkelahi dihadapannya. Wajahnya yang sedari tadi telah pucat karena telah lebih dari tiga hari dirinya disekap disalah satu ruangan yang ada digudang bekas pabrik tersebut.
__ADS_1
"Laura ambil pistol itu," teriak Hanum dengan tiba - tiba.
Senjata api terlempar dihadapan Laura dan tak sempat Laura mengambilnya, Clara dengan cekatan mendorong tubuh Hanum sekali lagi sehingga mengenai pinggiran sebuah beton dari anak tangga yang ada disana tepat dibagian perut Hanum.
Arrgghh...
Hanum merasakan nyeri yang sangat hebat pada bagian perutnya. Seketika terduduk seraya meremas bagian perutnya yang teramat sakit. Tak berapa lama darah segar keluar dari pangkal pahanya dan mengalir diantara kedua kaki.
Melihat kondisi Hanum yang kesakitan membuat Bram dan Galang pecah kosentrasinya sehingga Andrew dan Clara dapat mengedalikan perkelahian tersebut.
Mengambil pistol yang ada dihadapan Laura dengan cekatan telah berpindah ketangan Clara kembali.
Wajah Hanum pucat tubuhnya lunglai dengan darah terus mengalir dari pangkal pahanya. Laura memeluk tubuh Hanum yang telah terbaring dilantai bersimbah darah segar.
Seketika Galang memegang tangan wanita yang memegang pistol tersebut. Andrew melihat Galang mencoba mengambil pistol dari tangan Clara dengan cekatan berusaha mengalangi niat Galang.
__ADS_1
Bram tak mau kalah, dengan sorot mata yang penuh amarah memukul telak tubuh lelaki jangkung yang berusaha memukul Galang itu sehingga tubuh Andrew roboh seketika dilantai.
Terdengar bunyi letusan dari senjata api yang menjadi rebutan Clara dan Galang. Tembakan tersebut tepat mengenai dada Galang. Darah segar merembes keluar dari balik kemeja yang dikenakan Galang.
Mendengar sebuah tembakan dari gudang bekas pabrik, Clara histeris melihat pistol yang digunakannya meletus mengenai lawannya yang tumbang seketika.
Pistol tersebut terjatuh dari tanganya, Clara seakan tak percaya dengan apa yang telah dilakukannya.
"Aku telah membunuhnya!" Teriak Clara seraya meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
Tubuhnya wanita tersebut terduduk masih tak percaya melihat Galang dalam kondisi sekarat.
Polisi yang diminta Bram untuk mengikutinya terlambat datang. Telah terjadi pertumpahan darah digudang bekas pabrik tersebut.
"Tolong..."Teriak Bram kepada petugas yang datang tersebut.
__ADS_1
Segera petugas menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulans agar membawa Galang dan Hanum yang dalam kondisi sekarat.
Tak lama bunyi sirine dari mobil ambulans memasuki halamanan dari gudang bekas pabrik tersebut. Dengan cekatan petugas kesehatan membawa masuk korban yang ada didalam gudang tersebut.