Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 179 Jiwa Besar Galang


__ADS_3

Dengan adanya tragedi penembakan tersebut, memiliki sisi positif antara hubungan Galang dengan ibunya. Selama ini ada perang dingin diantara mereka berdua, kini semua mencair.


Galang telah dapat memaafkan ibunya atas perbuatan pada masa lalu, yang mampu bersandiwara dihadapanya. Semua tindakannya didasarkan rasa sayang yang berlebihan terhadap putranya sehingga teramat egois untuk memaksakan kehendak.


Begitu juga sebaliknya, ibu Galang menyadari bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Baru menyadari bahwa putranya adalah lelaki yang luar biasa, Galang memiliki cinta murni dalam hati dan sangat sukar untuk membuka hati dan menyayangi seorang wanita.


"Ibu" Dengan suara pelan Galang berkata.


"Apakah boleh saya bertemu Hanum?" Tanya Galang dengan mengiba.


Ibu mendengar permintaan putranya merasa teriris hatinya. Betapa Galang selalu mengkhawatirkan wanita tersebut tanpa memperdulikan tubuhnya yang juga lemah.


"Tunggu sehat, baru temui dia ya Nak..."Sahut ibu dengan senyum mengembang diujung bibirnya.


Ada rasa kekecewaan disorot matanya, pikiran Galang selalu tertuju pada wanita yang sangat dicintainya itu.


"Aku melihat banyak banget mengeluarkan darah sehingga dia lemas dan pingsan," batin Galang.

__ADS_1


"Apakah Hanum baik - baik saja? " Tanya batin Galang dengan penasaran .


Ibu seakan mengetahui kegelisahan yang melanda putranya. Sehingga berusaha menghibur Galang dan berusaha semaksimal memotivasi putranya untuk segera keluar dari rumah sakit.


Tak ada kata - kata yang dapat menghibur Galang selain melihat wajah perempuan yang sama - sama sekarat pada saat itu.


Pintu kamar terdengar diketuk dan sapa pun terdengar dari dalam ruangan. Ibu berjalan menuju depan pintu dan betapa terkejutnya, melihat orang yang ada dihadapannya.


"Hanum... " Sapa ibu dengan wajah terkejut dan berusaha membingkai senyum diwajahnya.


Bram yang mendorong kursi roda Hanum dan membalas senyum pada wanita yang ada didepan pintu kamar Galang.


Melihat kondisi Galang yang dibalut perban didada bidangnya. Tak kuasa Hanum menangis dihadapan lelaki tersebut.


"Maaaf, Kak. Saya telah membuat dirimu seperti ini," ujar Hanum dengan wajah menyesal dan bersedih.


Galang meraih tangan Hanum lalu menggenggam dengan erat. Bram tak memberi rasa keberatan lelaki dihadapannya menggenggamkan tangan istrinya.

__ADS_1


Dia merasa telah berhutang budi pada lelaki yang terbaring diatas kasur tersebut. Pikiran Bram terhenti setelah mendengar perkataan Galang kembali.


"Apakah kau bahagia Hanum?" Tanya Galang dengan serius.


"Apakah kau telah mencintainya?" Petanyaan Galang yang sangat menusuk hatinya sendiri.


Rentetan pertanyaan yang diarahkan padanya sangat berat dia jawab. Hanum menundukkan kepala lalu bulir bening jatuh diujung matanya.


Tak percaya bahwa lelaki tersebut begitu mengkhawatirkan dirinya atas pilihan yang dibuatnya. Bram yakin Hanum tak akan meninggalkan dirinya. Bram dapat melihat cinta ada dimata istrinya walaupun besar cinta masih dikalahkan oleh Galang direlung hati Hanum yang terdalam.


"Kak... Aku sudah bahagia dengan keputusan ku! Akan pilihan ku untuk melanjutkan hidup ini. Kakak tak perlu khawatir, terima kasih untuk semua yang telah kakak berikan pada ku. Cobalah membuka hati untuk wanita yang jauh akan membuat kakak bahagia. Aku mencintai keluarga ku dan telah membuka hati ku untuk suami ku, " ungkap Hanum dengan derai tangis dan sorot mata penuh keseriusan akan ucapan yang keluar dari mulutnya.


Ada kebahagian diwajah Bram setelah mendengar perkataan istrinya. Rona kebahagian terpancar jelas diparasnya tampan Bram.


Disentuhnya pundak Hanum dengan lembut seakan memberi kekuatan padanya dan meyakinkan dirinya akan cinta yang besar yang akan diberikan oleh Bram.


Dengan wajah tersenyum Galang berusaha menerima semua yang didengar oleh telinganya. Jika Hanum merasa keluarganya adalah yang paling penting dari dirinya, maka Galang yakin wanita yang ada dihatinya akan bahagia.

__ADS_1


Galang bisa merasakan pada sorot mata Hanum, ada keseriusan dan cinta untuk Bram.


Ibu yang juga turut ada didalam ruang tersebut, ikut merasakan kepedihan yang melanda dihati putranya. Sebuah ketegaran terlihat juga dimata putranya. Berusaha menerima dengan lapang dada untuk sebuah keputusan Hanum.


__ADS_2