
Upik abu telah kembali lagi keaslinya. Tak pernah dibayangkan Mayang bisa duduk bersanding dengan orang - orang dengan strata sosial yang tinggi.
Mayang hanya gadis kampung dan terlahir dari keluarga yang tak punya. Berangkat kekota bertujuan mengubah hidup menjadi lebih baik.
"Tuan...Ups maaf salah. Kak, beri tahu orangtua ku dikampung ya? Persoalan niat baik kakak terhadap aku, " ujar Mayang setelah acara pesta itu selesai.
Mereka berdua duduk disebuah taman disamping rumah, masih mengenakan long dress yang dipakainya tadi.
"Tentu saja sayang, aku akan secara formal mengajak ibu untuk melamar dirimu kekeluarga mu yang ada dikampung. Tapi tunggu aku ada waktu luang dikantor sehingga kita bisa pergi bersama," balas Galang dengan senyum manisnya seraya menggenggam erat tangan Mayang.
"Terima kasih telah menerima ku ya sayang..." Galang melanjutkan bicaranya.
Mayang tersipu malu mendengar perkataan Galang, seorang lelaki dewasa yang mapan telah jatuh hati padanya. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya bakal dicintai anak oleh majikanya sendiri.
***
Seminggu Kemudian...
"Sayang... mana tasnya?" Teriak Galang seraya turun dari lantai dua.
Dengan tergopoh -gopoh Mayang keluar dari kamar mendengar suara lelaki tersebut.
"Ya kak, ada apa? balas Mayang setelah berdiri disamping lelaki tersebut.
"Mana tas yang mau dibawa pulang, biar Bik Ijah yang mengangkat barang - barang mu kedalam mobil.
"Baik kak, itu udah aku siapkan tinggal dipindahi kedalam mobil aja, " ujar Mayang seraya tersenyum.
"Mari kita berangkat..." Seraya menggandeng tangan Mayang menuju parkiran mobil.
"Mama mana?" Ungkap Mayang.
"Ada, sudah didalam mobil," balas Galang seraya tersenyum menatap Mayang yang berada disampingnya.
Mobil melaju dengan cepat meninggalkan kota dengan kebisingannya. Galang duduk disamping sopir dan ibunya bersama Mayang duduk dikursi belakang sopir.
Diliriknya dua wanita yang ada dibelakangnya, dua wanita yang sangat berarti didalam hidupnya. Ada rona bahagia terpancar diwajah Galang menatap kedua wanita tersebut.
Mobil menyusuri sebuah jalan berbatu kasar, dikiri dan kanan jalan terlihat sawah yang membentang luas, terdapat beberapa bukit dikiri dan kanan jalan.
Begitu indah alam ini, sinar surya yang mulai terbenam menambah keindahan dilangit senja. Berwarna orange keemesan diufuk barat.
"Apa kita sudah sampai Nak? sapa ibu setelah terbangun dari tidurnya.
"Sekitar 3 jam lagi Ma, baru kita sampai," jawab Galang seraya melirik Mayang yang masih terlelap tidur.
Wanita itu terlihat cantik walau dalam keadaan tertidur. Wajah polosnya menambah ketertarikannya pada gadis tersebut.
Semenjak dirinya tahu akan pulang kampung, wajah gadis muda itu tersenyum merekah, seperti ada kerinduan dipelupuk matanya.
"Ternyata pemandangan daerah ini sungguh asri ya..." Ujar ibu kembali setelah menikmati pemandangan dari balik kaca mobil.
"Apa lagi didaerah tempat tinggal Mayang Ma, terasa sekali suasana pedesaan. Mayoritas penduduknya petani. Nanti mama jangan kaget ya, setelah sampai melihat kondisi rumah Mayang disana... " Ujar Galang pada ibunya.
__ADS_1
Ibu mengeryitkan dahinya, ada rasa penasaran dihatinya dengan apa yang dikatakan putranya. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh putranya. Penuh tanda tanya besar dihatinya.
Wanita itu tahu bahwa Mayang terlahir dari keluarga yang tak mampu, namun tak mengetahui persis seperti apa sebenarnya kehidupan gadis muda tersebut.
Tak lama ibu dan Galang bercerita dimobil selama perjalanan tersebut, terbesitlah dihati ibunya, akan keputusan besar yang diambil putranya pada gadis muda yang tak tahu latar belakang seperti apa keluarganya.
Melihat putranya yang begitu yakin akan gadis muda disampingnya ini, meluluhkan rasa keibuanya untuk merestui keputusan putranya tersebut.
Berharap ini adalah suatu langkah yang baik dan tak menimbulkan keburukan suatu harinya nanti.
Mayang terbangun dari tidurnya yang panjang. Mengucek kedua matanya yang tak terasa gatal.
"Maaf Ma aku tertidur..." Ungkap Mayang seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Oh... Tak masalah, mama juga tertidur tadi," jawab wanita paruh baya tersebut dengan tersenyum.
Mobil melaju dengan kecepatan kencang berusaha sampai disana sebelum tengah malam. Melewati jalan kecil yang berbatuan.
Sinar surya telah berganti dengan gelapnya malam. Hanya terlihat sinar rembulan dan kerlipnya bintang yang bertabur dilangit yang cerah. Sinar rembulan seolah menyinari disepanjang perjalanan mereka.
Akhirnya mobilpun berhenti pada sebuah rumah. Beratap jerami dan berdinding bambu.
Tak ada yang istimewa, yang terlihat adalah sebuah hunian yang sangat jauh dari kata layak sebuah tempat tinggal. Terlihat sebuah gubuk dari kejauhan yang terdapat sebuah lentera kecil dihadapan gubuk tersebut.
Mobil diparkir tepat didepan halaman rumah tersebut. Tak terlihat aktivitas didalam rumah, hanya sebuah sinar dari lampu kecil menandakan adanya kehidupan didalam rumah tersebut.
Diliriknya arlogi yang melingkar ditangan kanannya. Tertera diangka 23.00, telah terdengar suara jangkrik dan binatang malam lainnya serta terasa udara malam yang dingin menusuk dikulit.
Rumah Mayang dikelilingi bukit dan antara rumah penduduk yang lain tidaklah rapat.
Beg... Beg... Beg..
Galang mengetuk pintu bambu tersebut, dan memberi salam pada sang pemilik rumah. Terdengar sahutan dari dalam berbahasa Jawa.
Kreek... Pintu dibuka secara perlahan.
Telihat sosok lelaki tua yang sedang menatap Galang seakan mencoba mengenal wajah yang ada dihadapannya.
Galang meraih tangan lelaki tua tersebut lalu mencium punggung tangan lelaki tersebut. Masih ada raut kebingungan terlihat sekali diwajah lelaki tersebut.
Dengan ramah mempersilahkan masuk kedalam rumah. Ibu yang berdiri dibelakang melihat seluruh keadaan didalam rumah tersebut.
Mayang yang berdiri dibelakang ibunya Galang memasuki rumah dan menyapa orangtuanya yang masih heran dan binggung dengan tiga orang tamu yang masih belum diingatnya.
"Bapak..." Sapa Mayang yang muncul dari belakang wanita paruh baya tersebut.
"Ooolaaah... Nduk! Tak pikir siapa! " Ujar ayah Mayang yang telah berubah raut wajahnya dari bingung menjadi bahagia.
Mayang memberi salam dan mencium punggung tangan ayahnya lalu berkata: "Dimana Simbok?"
Dengan tersenyum ayah Mayang meminta tamunya untuk duduk dikursi rotan yang sangat sederhana.
"Mbok mu ada didalam, bentar tak panggilkan" ujar ayah seraya berlalu memasuki kedalam ruangan tengah.
__ADS_1
Ibu memperhatikan setiap jengkal yang ada dirumah Mayang. Terlihat sangat sederhana namun terkesan tertata rapi dan bersih.
Kalau dilihat dari luar tak seperti sebuah rumah karena hanya terbangun dari bahan yang sederhana.
"Maaf Den... Beginilah keadaan rumah kami, sangat jauh dari kata layak," sembari membungkuk tubuh ketika ibu Mayang keluar bersama suaminya dari dalam ruang tengah.
"Tak masalah...Maaf kami datang secara tiba - tiba tanpa memberitahu," balas ibu Galang dengan senyum menghiasi wajahnya.
Mayang masuk kedalam dan dengan cekatan membuat dua cangkir kopi dan teh buat Galang, pak sopir dan ibunya.
Menyuguhkan minuman yang dibawanya dengan nampan yang terbuat dari kayu dan diletakkan diatas meja kayu yang ada diruang tamu tersebut.
"Mbok, Pak... Ini orangtuanya Kak Galang, ucap Mayang memperkenalkan pada kedua orangtuanya.
"Loh Ndok...Bukannya ini majikan mu, ga baik kamu sapa dengan begitu!" balas ibu Mayang ketika mendengar Mayang berbicara dan memanggil Galang dengan sebutan kakak.
Galang dan ibunya saling bertatapan satu sama lain. Mendengar perkataan dari ibunya Mayang.
"Ga apa - apa bu, saya yang meminta Mayang memanggil begitu, " ucap Galang memberi pembelaan pada Mayang yang terdiam setelah ibunya menegur dirinya.
"Baik Den..." jawab singkat ibunya Mayang.
"Mereka bertiga bakal tidur dimana? Karena rumahnya yang kecil dan hanya terdapat 3 kamar," batin ibunya Mayang dalam hati.
Hari semakin larut dan obrolan dihentikan, ibunya meminta mengajak orangtua Galang untuk tidur bersama Mayang dikamarnya.
Galang tidur dikamar Galih adik lelaki Mayang. Sedangkan Gendis dan kedua orangtuanya tidur bersama. Sopir pribadi ibunya tidur diatas dipan diruang tengah.
Suara binatang malam semakin sayup terdengar. Direbahkan tubuh penat mereka bertiga diatas kasur kapuk.
"Ma...tidur diatas saja, biar aku tidur disini," ujar Mayang seraya tersenyum.
"Eeh... Ga boleh! Kamu tidur disini bersama mama," perintah wanita paruh baya tersebut seraya menepuk kasur kapuk disampingnya.
"Ta... Tapi Ma..." Sahut Mayang dengan terbata - bata, perkataannya dipotong langsung oleh wanita tersebut.
Wanita itu tak ingin perintahnya dibantah oleh Mayang. Akhirnya Mayang menuruti kehendak ibu Galang dan berbagi kasur bersama calon mertuanya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
__ADS_1
Author tunggu ya...ππ