
Tawa riang terlihat sekali diwajah putriku. Fairuz menikmati sekali liburannya kali ini.
Sudah berapa kali dia naik komedi putar bersama auntinya tapi tak pernah bosan sehingga Hani mengeluh pusing dan mual.
"Sayang sudah ya aunti tak kuat lagi naiknya", ucap Hani sambil memegang kepalanya yang pusing.
Hanum tertawa melihat adiknya yang mabuk akibat komedi putar. Tak pernah selepas ini Hanum tertawa melihat tingkah laku putrinya dan Hani.
"Nih minum biar ga puyeng , makanya kalau waktu kecil ga pernah naik itu jangan sok berani", ledek Brian pada Hani seraya menyenggol bahunya.
Hani menatap Brian dengan wajah kesal. Brian menjadi tertawa melihat wajah Hani yang kesal akibat perkataanya.
"Manis juga gadis itu kalau kesal", besit Brian dalam hati.
"Han kenapa kamu? apa Fay buat mu mabuk?kemaren Brian bilang kamu juga hampir mabuk naik pesawat", tanya Bram yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.
Hani tersipu malu mendengar perkataan Bram. Ia langsung melirik kearah Brian yang juga kaget mendengar Bram membocorkan apa yang disampaikannya tentang Hani.
"Wajar saja semalam menelpon sambil tertawa dan memandang ku ternyata ia membuat laporan pada bosnya tentang diriku yang kampungan", ungkap Hani dalam hati.
Brian melihat amarah dimata Hani segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat.
__ADS_1
"Awas kau ya, ternyata kau memata-matai ku", Teriak Hani sambil mengejar Brian yang telah berlari meninggalkan Hani.
Hanum tersenyum melihat tingkah laku Brian dan adiknya yang terlihat kekanak-kanakan.
Bram memperhatikan Hanum yang tersenyum dari paras cantiknya membuat Bram semakin terpikat.
Hanum melihat Bram memperhatikan nya membuat ia salah tingkah terlepas dari yang terjadi semalam dan pagi tadi.
Deeeg,,, jantung Hanum berdetak lebih kecang dari biasanya ketika mereka saling bertatapan mata. Ada rona merah yang terlihat diwajahnya.
"Aduh mengapa dia menatap ku begitu apa ia masih mengingat kejadian itu", ungkap Hanum seraya menundukkan wajahnya menyimpan rasa malu dan gugupnya.
Bram berjalan kearahnya mendekati Hanum yang berusaha menghilangkan rasa malu dan gugupnya.
"Baiklah sayang kita kesana, Fay mau rasa apa?, tanya Hanum.
"Stroberi", ucap putrinya dengan manja.
"Om ayok kita makan es krim disana", ucap putrinya seraya meraih tangan Bram dan Hanum.
Mereka bertiga berjalan bergandengan tangan seperti sebuah keluarga yang bahagia. Bram tersenyum terlihat rona bahagia diwajahnya. Tak pernah dibayangkannya bisa berjalan bersama wanita yang membuatnya jatuh cinta dan putri kecilnya yang lucu dan cantik.
__ADS_1
"Tuan putri mau rasa apa? , tanya penjual es krim dengan tersenyum.
Penjual itu terpesona melihat gadis kecil dihadapannya yang cantik dan menggemaskan. Menatap wajah Bram dan Hanum entah apa yang ada dalam pikiran penjual es krim itu.
Mereka bertiga menikmati es krim ditangan masing-masing. Fairuz dan Hanum saling mencoba es krim yang ada ditangan mereka masing-masing, untuk merasakan rasa yang berbeda pada es krim mereka.
"Om es krimnya berikan kebunda biar bunda rasakan juga?, ucap putri kecil mereka.
Hanum tak menyangka bahwa putrinya akan meminta hal yang sama pada Bram. Bram dengan senang hati memberikan es krim yang ada ditangannya ke mulut Hanum.
"Yeeee, bunda enak ga es krimnya? Fay mau rasakan juga", ucap putri kecilnya.
"Enak rasa es krimnya, om besok kita kesini lagi ya", pinta putri kecilnya seraya memeluk Bram dengan manja.
"Tentu saja sayang kapanpun Fay inginkan", jawab Bram sambil memangku dan memeluk putrinya dengan erat.
"Boleh ga Fay panggil om ayah? Fay punya bunda tapi tak punya ayah. Fay tak ingin seperti kakak dipanti yang tak punya ayah", tanya putri kecilnya yang polos pada Bram dengan mata birunya menatap wajah Bram.
Hanum tak kuasa mendengar perkataan putri kecilnya. Hanum tak menyangka bahwa putrinya selama ini tersiksa tak memiliki sosok ayah.
Bulir bening jatuh dipipi Hanum, Bram menggenggam erat tangan Hanum karena mengetahui perasaan wanita yang dicintainya terpukul dengan perkataan putrinya sendiri.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, Fay panggil papa ya nak" ucap Bram tak bisa menahan rasa haru dan bahagianya bahwa putrinya sendiri menginginkannya sebagai ayah.
Dipeluk erat tubuh mungil putrinya itu. Ini yang selama ini ditunggunya. Satu kata yang keluar dari bibir putrinya dan saat ini terjadi sebuah kata yang teramat ingin didengar ditelinga Bram yaitu kata "Ayah".