Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 65 Permata Hati (Part 2)


__ADS_3

"Bude syukurlah datang kemari saya lagi bingung, Hanum kehilangan banyak darah pada proses persalinannya. Ia butuh dua kantong darah lagi, kemana saya akan mencarinya", ungkap ibu dengan suara terputus-putus karena isak tangisnya.


"Ambil darah saya" Ucap Bram yang sedari tadi cemas dan gelisah mendengar perkataan tetangga Hanum bahwa Hanum ada dirumah sakit karena mau melahirkan.


"Hanum butuh darah A", ucap ibu tanpa memandang wajah Bram karena ibu sudah lemas dengan kepala tertunduk.


"Antarkan saya segera", ucap Bram dengan mata penuh keyakinan.


"Saya golongan A juga" ucap putra bungsu bude dengam keyakinan yang sama.


Mendengar perkataan dua lelaki itu wajah ibu yang semula tertunduk kini seketika menatap wajah mereka berdua. Ada gurat harapan terpancar pada wajah wanita separuh baya itu.

__ADS_1


Ibu bergegas mengantarkan Bram dan putra bungsu bude menuju ruang untuk pendonor darah. Tubuhnya yang semula lemas tak bertenaga tiba-tiba muncul semangat untuk bergerak melangkahkan kakinya dengan cepat.


Bram dan putra bungsu bude memasuki ruang tersebut. Cukup lama ibu dan bude menunggu.


Bude duduk disamping ibu. Bude bercerita mengenai kedatangan Bram.


"Saya kaget bu melihat seorang laki-laki lama berdiri didepan rumah Hanum. Ia hanya berdiri tanpa mengetuk pintu atau memberi salam. Kurang lebih ada satu jam pria itu berdiri didepan rumah. Saya jadi cemas dan sekaligus penasaran mau apa laki-laki itu berkunjung kerumah orang pada waktu dini hari. Ia tiba tak lama dari ibu berangkat bersama Hanum kerumah sakit", ucap bude dengan menarik nafas panjang untuk melanjutkan ceritanya.


Putra bungsu bude bersama Bram keluar dari ruangan. Sepertinya proses pendonoran darah telah selesai. Mereka semua berjalan menuju ruang dimana Hanum berada.


Mereka semua duduk dikursi yang ada dikoridor. Semua wajah tegang dan hanya ada kebisuan diatara mereka semua. Mereka semua larut dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuyarkan semua pikiran yang terbang tak tentu arah. Semua mata tertuju pada dokter yang keluar dari ruang tersebut.


Meteka serentak berdiri dan berjalan mendekati dokter dengan perasaan bercampur aduk.


"Mana suami pasien ini" tanya dokter seraya menatap kedua lelaki yang ada dihadapanya.


Bram terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun sedangkan putra bungsu bude hanya menggelengkan kepala pertanda bahwa bukan ia suami yang dimaksud dokter tersebut.


Melihat respon yang diberikan putra bungsu bude, dokter menatap wajah Bram lalu berkata: " Terlambat sedikit saja maka kami sulit menyelamatkan istri bapak. Sekarang istri bapak telah melalui masa kritis tetapi biarkan ia disini agar mudah dikontrol perkembangan kondisinya pasca pendarahan hebat itu".


Ibu dapat menarik nafas dengan lega mendengar perkataan dokter tersebut. Begitu juga orang yang ada disekitar ibu.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah, engkau telah menurunkan bantuan Mu pada hamba yang lemah ini", ucap ibu seraya kembali menengadah kedua telapak tanganya dengan posisi tinggi.


__ADS_2