
Entah apa yang sedang dipikirkan Mayang saat ini. Pikirannya melayang kesana kemari, ada kegelisahan dihatinya.
Hari ini adalah penentuan diterima atau tidaknya dirinya diperguruan tinggi yang di daftarnya.
Menunggu Galang pulang dari kantor, Mayang merasa dirinya tak sabar menunggu waktu sampai sore hari.
Bolak balik dirinya menunggu pintu utama namun sosok yang ditunggunya tak kunjung tiba. Diliriknya arlogi yang melingkar ditangan kanannya menunjukkan angka 15.40.
Biasanya tak lewat dari jam 16.00, Galang telah pulang kerumah. Kini Mayang tinggal menunggu 10 menit lagi.
Dicobanya menghabiskan waktu 10 menit kedepan dengan membaca majalah dikursi ruang utama, seraya tak lepas pandangannya kearah pintu masuk utama rumah tersebut.
"Baiklah, aku akan menunggu dengan sabar," batinnya dalam hati.
***
Meeting dikantor memperlambat jadwal Galang pulang kerumah, dirinya tak sabar memberikan kejutan pada gadis muda yang diyakininya juga sudah pasti tak sabar menunggu kehadirannya.
"Telat 10 menit," batinya dalam hati.
Galang melirik angka dijam yang melingkar ditangan kirinya tepat diangka 16.10. Akan memakan waktu setengah jam lagi, Galang baru sampai kerumah.
"Berhenti pak sopir, aku akan membeli sesuatu," perintah Galang pada sopir pribadinya.
"Baiklah Tuan," jawab singkat pak sopir.
Galang turun dari mobil dan masuk pada sebuah toko perhiasan, sesampainya didalam toko, penjaga toko dengan begitu ramah menyapa Galang.
"Ada yang bisa dibantu Tuan?" Sapa wanita penjaga toko yang tersenyum ramah menatap Galang.
"Tiga hari yang lalu saya memesan sebuah gelang ditoko ini dan berniat mengambilnya sekarang," jawab Galang dengan menunjukkan bukti secarik kertas pada wanita penjaga toko tersebut.
"Baiklah, tunggu sebentar Tuan...Akan saya ambilkan," sahut wanita penjaga toko tersebut dengan senyum tetap melekat diwajahnya.
Tak membutuhkan waktu lama, wanita penjaga toko itu telah berada dihadapannya dengan membawa sebuah kotak ditanganya.
"Ini pesanan Tuan," seraya menunjukkan isi didalam kotak berwarna merah tua.
Emmm...
"Sesuai pesanan," ucap Galang setelah melihat sebuah gelang rantai berikat emas putih dengan sepasang hati yang terpaut diujung kait gelang tersebut.
"Baiklah, akan ku ambil," ucap Galang dengan senyum puas melihat pesanannya sesuai dengan yang diinginkannya.
Setelah memberikan sejumlah uang dengan jumlah nominal besar Galang keluar dari toko perhiasan tersebut dengan langkah kaki yang dipercepatnya.
"Percepat laju mobil ini!" Perintah Galang pada pak sopir.
__ADS_1
Mobil bergerak lebih cepat dari biasanya, sang sopir menjalankan perintah majikannya dengan cekatan.
Berhenti tepat diangka jam 16.45, Galang buru - buru melangkah masuk kedalam rumah besar tersebut.
"Bik Ijah dimana Mayang?" Tanya Galang ketika berpapasan dengan wanita asisten rumah tangga bagian dapur tersebut.
Wanita itu menoleh kekanan dan kekiri seakan mencari sesuatu, namun matanya tak memperlihatkan apa yang dicarinya berhasil ditemukannya.
"Bik!" Sapa Galang lebih keras mengagetkan wanita yang tengah asik melihat kesana kemari.
"Eh ya... Tuan.Tadi Non Mayang ada disini, menunggu tuan pulang, tapi kemana dia sekarang ya..." Ungkap wanita dihadapannya itu.
Belum sempat wanita itu berbicara lagi, Galang telah berlalu meninggalkan dirinya. Berusaha mencari dimana biasanya gadis itu termenung larut dalam kesendirian.
"Oh ya... Taman belakang! " Batin Galang segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksudnya.
Benar saja, terlihat gadis itu sedang duduk terdiam seraya menatap langit disore itu. Galang berniat mengangetkan dari belakang tubuh gadis tersebut.
Perlahan dilangkahkannya kaki mendekati Mayang yang asik termenung. Ditutupnya mata Mayang secara perlahan dengan kedua telapak tangannya.
"Kak..." Sapa Mayang dengan terkejut.
Tidak akan mungkin orang lain memperlakukannya seperti itu, jika tidak lain dan bukan lelaki yang bernama Galang.
"Kau sudah tak sabar ya... Menunggu kedatangan ku! " Ungkapnya sok narsis.
Dengan sigap Mayang membuat kopi spesial agar segera mengetahui hasil dari tes yang diikutinya untuk mendaftar pergguruan tinggi tersebut.
Karena ini adalah hari yang menegangkan bagi dirinya sendiri. Maka sedari tadi hatinya bergemuruh dan ada kekhawatiran akan hasil tes yang akan dilihatnya sebentar lagi.
Diletakkanya ditempat biasa secangkir kopi dengan beberapa biji goreng pisang diatas nakas. Lalu kemudian mencoba mencari stelan baju Galang untuk dipakai dirumah bersama onderdil lelaki, yang baru saat ini disentuh oleh nya.
"Sayang... Tolong ambilkan handuk yang tergeletak diatas kasur." Ungkap Galang.
"Baiklah... " Ucap singkat Mayang dan segera beranjak dari duduknya.
Setelah siap mandi barulah Galang membuka kembali laptop yang berada diruang kerjanya.
"Ayo mendekat sini, katanya sudah tak sabar... lagi! " Ungkap Galang dengan mata menggoda.
Diketiknya sebuah link dan terlihat begitu banyak urutan daftar nama pada pemberitahuan kelulusan yang tetap ditetapkan.
"Stop, teriak Mayang seketika.
Galang terhenti dengan penuh rasa haru dan sebuah kebanggaan bagi dirinya. Melihat nama Mayang tertera didaftar nama mahasiswa yang lulus.
"Selamat ya sayang..." Ucap Galang dengan memeluk tubuh gadis muda tersebut.
__ADS_1
Sebuah sentuhan lembut mendarat didahi Mayang, ternyata nilai hasil tes Mayang diperingkat ke tiga dari ratusan peserta yang diterima.
"Otak mu encer juga ya... Ledek galang seraya mengelus lembut puncak kepala gadis muda yang merangkul manja ditubuhnya.
Mayang kini tak sungkan lagi menunjukkan ekspresi kebahagian atau kesedihan bahkan sikap manja didepan Galang.
"Terima kasih sayang..." Ucap Mayang dengan manja dan mesrah.
"Apa...! Katakan sekali lagi, " ungksp g as lang yang Begitu exited mendengar perkataan Mayang.
Wajah gadis dihadapannya tersipu malu berusaha menyimpan rona merah dipipinya.
"Besok akan ku bawa untuk mempersiapkan dirimu pergi kekampus, kau harus membeli beberapa pakaian dan perlengkapan untuk menjadi mahasiswa, " ujar Galang dengan mencuil hidung gadis tersebut.
"Baiklah..." Balasnya dengan senyum diujung bibirnya, dengan refleks Mayang mencium pipi Galang.
Galang semakin terkejut dengan tingkah laku Mayang sore ini, dirinya semakin berani menunnjukkan sikap bahagianya.
"Karena kau begitu ekspresif hari inu, maka aku ada hadiah untuk keberhasilan mu dan sikap yang kau tunjukkan padaku," ucap Galang seraya melepaskan pelukannya.
Diambilnya kotak berwarna merah hati yang tersimpan didalam tas kerjanya. Kemudian menyodorkan kotak tersebut kehadapan Mayang.
"Bukalah...!" Perintah Galang dengan senyum mengembang diujung bibirnya.
Mayang masih memasang wajah bingung sekaligus penasaran dengan hadiah yang diberikan padanya. Secara perlahan dibukanya kotak tersebut dan senyum mengembang diujung bibirnya setelah mengetahui isi didalam kotak tersebut.
"Terima kasih sayang..." Seraya mendekat lalu mencium kembali pipi lelaki dihadapanya.
Galang kembali terkejut dengan sikap manja gadis muda dihadapannya. Dirinyapun ikut bahagia dan menikmati perubahan sikap gadis muda itu, yang sudah tidak canggung dan sungkan lagi dihadapannya.
"Pakaikan... " Ucap manja Mayang seraya menyodorkan kotak itu dan tangan kiri yabg digerak - gerakkanya.
Mengerti akan isyarat yang diperlihatkan Mayang, dengan spontan Galang memakaikan gelang tersebut kepergelangan tangan kiri Mayang.
Mayang memperhatikan perhiasan yang sekarang telah menghiasi pergelangan tangan kirinya. Senyum mengembang diujung bibirnya, serta menatap wajah lelaki dihadapannya dengan tatapan penuh kebahagiaan.
###
Baiklah Reader...๐๐
Tetap setia yaaaaa๐
Jangan lupa beri dukungan nya.... ๐Biar tambah semangat.
Salam Literasi ๐
Salam Hangat Lemb@yung๐๐
__ADS_1