
Hanum masih terpaku disalah satu sudut diruang ganti yang ada dikamar itu. Matanya terpana dengan semua barang yang tergantung dan tersusun dengan rapi.
Bahkan ada dibagian ruang itu pakaian gadis kecil seusia putrinya. Hanum menitikkan bulir bening diujung matanya seraya menatap baju yang sangat indah dan tentunya mahal.
Selama ini ia tak bisa membelikan pakaian yang mewah atau yang bermerek buat putrinya. Hanum tak mau menghabiskan uang tabungan almarhum suaminya hanya untuk sebuah baju yang mewah.
"Ini kamar siapa? mengapa lelaki tua itu mengatarkan aku pada kamar ini sudah jelas ada yang punya", besit Hanum penasaran.
"Bunda,,, bundaaaa", teriak putri kecilnya telah membuyarkan lamunannya.
Spontan Hanum berlari kearah suara putrinya memanggil. Hanum merasa lega ternyata purtinya hanya ingin menunjukkan bahwa ia asik dengan melompat-lompat diatas tempat tidur.
"Sayang tak boleh begitu ntar jatuh, mari turun", ucap Hanum seraya tersenyum dan menggedong putrinya.
__ADS_1
***************************************
Hani mengetuk pintu kamar kakaknya tak terdengar suara dari dalam kamar. Dicobanya membuka perlahan dan melihat disekitar ruangan tapi tak ditemukan kakak dan ponakannya didalam kamar tersebut.
Hani memutuskan untuk turun kebawah mencari keberadaan ponakan dan kakaknya. Ternyata semua orang telah berkumpul dimeja makan.
"Silahkan nona bergabung, ternyata sudah bangun. Cukup lama saya memanggil nona untuk turun makan malam", ucap pak penjaga villa masih dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya dan menggeser kursi agar Hani duduk.
Hani merasa tersipu malu melihat sorot mata Brian yang menggodanya seakan ia tahu bahwa Hani memang jarang sekali pergi liburan.
"Aku ni norak kali ya pas menginjakkan kaki kesini terlihat oleh nya. Memang baru kali ini aku pergi liburan yang ada hanya kepasar malam yang ada dikampung dan perginya juga hanya sekali selama dibuka pasar malam itu", ungkapnya dalam hati karena kesal mengingat tingkahnya sore tadi yang memalukan.
Dering ponsel Brian terdengar, dengan santai Brian meraihnya dan menghentikan makannya. Lalu pergi bicara kesalah satu kursi yang ada diruang lain tetapi masih terlihat dari diruang makan.Terlihat Brian asik dengan obrolan dan sesekali tertawa kecil dan memandang Hani.
__ADS_1
"Sayang udah selesai makannya?, tanya Hanum pada putri kecilnya itu seraya mengelap makanan yang menempel dipipi putrinya.
Fairuz menganggukan kepala pertanda ia sudah selesai dengan makan malamnya. Hanum permisi untuk menidurkan putrinya kemudian disusul oleh Hani yang juga memilih tidur cepat.
Malam semakin larut dan Hanum masih berdiri dibalkon kamar utama itu. Ia biarkan dinginnya angin malam menembus kulitnya yang hanya memakai pakaian tidur serta rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
"Indah sekali pemandangan dari atas sini terlihat pantulan bulan pada air laut", ungkap Hanum dalam hati.
Dipejamkannya mata seraya merentangkan kedua tangannya. Angin malam menghembus lembut tubuh dan rambut nya yang terurai.
Ia merasakan sebuah tangan merangkulnya dari belakang. Dekapan itu terasa sangat hangat terasa diseluruh tubuhnya yang tertiup dinginnya angin malam.
"Mengapa hatiku merasa tenang dan damai pada saat ini", ucap Hanum lirih tanpa ia sadari seorang lelaki telah memeluknya erat dari belakang.
__ADS_1