Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 196 Merasa Kehilangan


__ADS_3

Udara dini hari terasa dingin menembus kulitnya, berusaha bangkit dari tidur karena rutinitas telah dimulai dengan berderingnya alarm dari jam tidurnya.


Mayang mengusap matanya yang tak terasa gatal, menutup mulutnya dengan telapak tangan karena rasa kantuk masih menderanya. Terlihat dari beberapa kali dirinya menguap. Mencari oksigen agar mengisi ruang dikepalanya.


Dibasuhnya muka dengan air wudhu dan terdengar azan subuh dari kamarnya, disegerakannya menunaikan sholat dua raka'at tersebut kemudian mengaji beberapa lembar dari kitap suci yang selalu dibawanya.


Terdengar merdu ketika melantunkan ayat - ayat suci yang ada dikitap suci tersebut. Terdengar sangat damai dan nyaman ditelinga bagi yang mendengarkannya.


Mayang bergegas mandi, dirinya terbiasa mandi setelah sholat subuh, walau diawal terasa dingin ditubuhnya.


Pergi kebagian dapur dan terlihat Bik Ijah lagi asik didapur membuat sarapan buat Nyonya dan Tuan muda.


"Ada yang bisa saya bantu Bik," ucap Mayang pada wanita paruh baya tersebut.


Eeh...


"Non, udah bangun?" sahut wanita tersebut sedikit terkejut dengan kehadirannya secara tiba - tiba.


"Udah Bik..."Jawab singkat Mayang.


Dengan bantuan Mayang pekerjaan Bik Ijah jadi cepat terselesaikan. Bik Ijah memperhatikan wajah Mayang yang terlihat melamun.


"Ada apa Non? " Tanya Buk Ijah dengan penasaran.


"Aku rindu kampung Bik," ujar Mayang dengan suara pelan dan terlihat sedih dari suaranya yang terdengar mulai berat.


"Minta ijin sama Nyonyah, Non. Ceritakan kalau sudah hampir delapan bulan tak bertemu, Nyonyah orangnya pengertian kok Non," ungkap Bik Ijah memberi suportnya.

__ADS_1


Mayang merasa sungkan karena kemarin dia sempat sakit dan menghabis waktu dirumah sakit. Apabila minta untuk pulang rasanya hatinya cendrung tak diberikan ijin sama majikannya.


"Coba saja dulu dibicarakan sama Nyonyah, sapa tahu ga seperti yang kita bayangkan. Kamu bisa pulang beberapa hari dengan kemurahan hatinya, " ucap Bik Ijah.


Selama Mayang pulang, pekerjaan dirinya beralih pada Bik Ijah karena Bik Ijah ikhlas mau membantunya. Bik Ijah seperti orangtua baginya.


"Yang penting tetap jaga kesehatan sehingga bisa bertemu dengan kedua orangtua dan saudara kandungnya dikampung, ungkap hatinya.


***


Satu Minggu Kemudian...


Senja diufuk barat, mengoreskan warna orange kemerah-merahan dilangit. Sudah seharian tak melihat gadis muda yang selalu menyiapkan pemandian buat dirinya.


Menyiapkan segala sesuatu yng dibutuhkan dirinya disepanjang hari. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya, wajah gadis muda tersebut menari - nari dipikiranya.


Wajah ceria seperti tak ada beban selalu disematkan diwajahnya. Seakan dunia ini telah memberikan kebahagian didalam kehidupannya.


"Kemana dirimu Mayang..."Batin Galang seakan hampa tanpa melihat senyum manis gadis tersebut.


Ibunya tak mengatakan kemana gadis muda tersebut pergi, Galang berkeyakinan pasti orangtuanya telah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa yang sedang terjadi? sepertinya semua orang menutupinya dari ku," ucap lirih Galang.


***


Udara pagi yang sejuk terasa sekali ketika dihirup melalui hidung, kicauan burung terdengar ketika mentari mulai menampakkan sinarnya.

__ADS_1


Beratapkan jerami dan berdinding bambu, tetapi ada cinta dan kasih sayang yang besar didalam rumah tersebut.


Rumah yang selalu dirindukan oleh Mayang, menghabiskan masa kecilnya disini. Ada kenanganmanis yang tersimpan dibalik bilik bambu tersebut.


Mayang berjalan dari simpang karena memang tak ada yang lewat sepagi ini. Cukup memakan waktu lama untuk sampai kekampung halaman, karena letak desanya yang terpencil.


Sangat jauh dari kota, bahkan transfortasi yang sampai kedesanya bisa dapat dihitung oleh jari. Rata - rata penduduk disini adalah petani atau buruh serabutan baik dikebun maupun yang menjadi tukang panggul seperti ayahnya disetiap hari pasaran. Pasar berjarak 10 km dari tempatnya.


Keluarga Mayang masuk kedalam keluarga yang tak mampu, tapi bertekad dan gigih untuk dapat mengubah nasib. Kedua orangtuanya selalu memberikan motivasi bahwa sekolah adalah hal yang penting dan wajib.


Sesusah apapun kehidupan mereka agar tetap menuntut ilmu dibangku sekolah dengan segala keterbatasan mereka.


"Ayah ibu aku pulang..." Jeritnya ketika sudah didepan halaman rumahnya.


Terlihat pintu bambu itu terbuka, dilihatnya sosok wajah perempuan yang sangat dirindukanya.


"Mbook..."Jerit Mayang seraya memeluk erat tubuh wanita yang melahirkanya kedunia ini.


Rasa rindu menyelimuti mereka berdua, terdengar suara ribut dari luar rumah. Adik Mayang yang berduapun keluar rumah mencari tahu orangtuanya sedang bertemu siapa sepagi ini.


"Mbaak..." teriakan kembali terdengar dari dua adiknya yang ikut memeluk tubuh Mayang.


Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu dipagi ini.


"Bapak mana?" Tanya Mayang pada simbok.


"Masak kau lupa Ndok...Ini hari apa? " Balas ibunya Mayang mengingatkannya kembali.

__ADS_1


Setiap dua hari dalam seminggu, yaitu hari selasa dan jum'at ayahnya pergi sangat pagi sekali, setelah sholat subuh untuk menjadi buruh panggul dipasar. Selain dua hari tersebut ayah membantu disawah atau ladang orang.


Keluarga Mayang tak memiliki sepetak tanahpun terkecuali tanah dimana gubuk bambu itu berdiri sebagai tempat tinggal mereka.


__ADS_2