Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 241 Perubahan sikap


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian...


Brian menjadi suami yang siaga (Siap antar dan jaga). Pokoknya menjelma menjadi sosok yang over protective untuk kesehatan istri dan calon bayi yang ada didalam rahim Hani.


Tak perduli Bram meledeknya, dengan perubahan sikapnya. Kini dirinya baru menyadari dan merasakan apa yang dulu sahabatnya rasakan disaat Hanum hamil anak kedua.


Petugas kesehatan stand by dirumah untuk mengontrol dan menjaga perkembangan kesehatan istri dan calon bayinya. Hani memang berbeda dengan wanita pada umumnya.


Dirinya terlalu lemah pada saat hamil, nafsu makannya turun draktis. Terlihat perutnya yang membuncit sedangkan tubuhnya hanya seperti biasa bahkan lebih kurus.


Asupan gizinya hanya mengandalkan dari selang infus yang ada ditangannya. Ketika sesuatu masuk kedalam mulutnya maka seketika itu juga akan dimuntahkanya kembali.


Brian semakin cemas dengan kondisi istrinya yang lemah dan tak berdaya, terbesit didalam hatinya bahwa sungguh sangat menderita istrinya untuk kehamilannya ini.


Kehamilan Hani memasuki 12 minggu, butuh perjuangan untuk sampai ke 40 minggu. dengan kondisinya yang terlalu lemah membuat semua orang menjadi cemas.


"Dek yang sabar ya... Dalam menghadapi setiap prosesnya! Semoga setelah melewati tiga bulan atau Tri semester pertama tubuh mu dapat menerima makanan yang masuk ketubuh mu," ujar Hanum yang melihat adiknya yang begitu lemah karena tidak mendapatkan asupan makanan ketubuhnya karena tubuhnya langsung bereaksi menolak dengan cara memuntahkannya kembali.


Hani menganggukkan kepala lalu terseyum dengan wajahnya yang pucat. Dengan suara pelan Hani menanyakan kehadiran orangtuanya.


"Kak, mana ibu? Aku ingin ibu ada disini!" Ujarnya lirih.


"Ibu akan datang besok karena adek bungsu kita sedang ujian akhir, setelah ujian akhir Nina dan ibu akan datang kekota," balas Hanum dengan tersenyum seraya membelai lembut wajah adik tengahnya itu.


Hanipun tersenyum setelah mendengar perkataan dari kakaknya. Lalu berkata "Kak ingat ga sewaktu kita kecil, dirumah tetangga ada pohon asam jawa, sepulang sekolah kita selalu meminta buahnya itu, walaupun asam tapi terasa manis dilidah kita ya Kak? aku ingin itu Kak... "


Hanum mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan dari adik tengahnya itu, pikirannya melayang dimana dirinya akan menemukan buah asam jawa dikota besar ini.

__ADS_1


"Oh ya...Aku akan telpon ibu agar membawakan buah asam jawa itu pada saat kekota nantinya," ujar Hanum dalam hati.


"Ntar ku tanya ibu ya dek, apakah masih ada dikampung pohon asam jawa yang kau maksud itu..." Ujar Hanum pada adiknya.


"Baiklah Kak, semoga masih ada pohon itu, entah mengapa aku ingin sekali memakan buah asam jawa itu," balasnya dengan suara pelan.


Brian yang sedari tadi sudah berdiri didepan pintu, tanpa disadari mereka berdua yang tengah asik berbicara. Brian tersenyum melihat keakraban kakak beradik tersebut.


"Kak Hanum kapan tiba?" Sapa Brian dengan tesenyum lalu mendekati istrinya dan mencium dahi Hani dengan mesranya.


Brian memang seperti itu setiap pulang dari kantor, dirinya akan langsung menemui istrinya lalu mencium mesra Hani.


"Lumayan lama aku disini, tadi aku diantar oleh sopir, Bram akan kemari menjemput ku karena aku bilang akan kerumah ini," balas Hanum.


"Ya, dirinya ada dibawah sebentar lagi akan keatas," sahut Brian seraya tersenyum.


Hani menggelengkan kepalanya pertanda bahwa tak ada perubahan pada dirinya. Masih belum bisa memasukkan makan kedalam mulutnya.


"Aku ingin buah asam jawa kak... Rasanya pasti akan segar dimulutku, " ujar Hani seraya mengecap air liurnya sendiri setelah mengatakan buah asam jawa.


"Dimana itu? Akan ku belikan. Seperti apa buah asam jawa itu? " Tanya Brian dengan antusias untuk menuruti keinginan istrinya.


Hanum tersenyum dan begitu juga Bram yang telah ada dibelakang istrinya pun juga tersenyum melihat sikap Brian yang begitu antusias.


"Nah...Kan dirimu sudah jadi lelaki yang lebay... Melebihi diriku saat itu. Sekarang kau tak menggunakan akal sehat mu! Mana ada pohon itu tumbuh dikota besar seperti ini, dan mana ada dijual disuper market terbesar dikota ini sekalipun," ledek Bram mengagetkan semua orang yang ada diruangan itu.


Semua mata mengarah kearah Bram yang datang mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang tanpa rasa malu diperhatikan oleh Brian dan Hani.

__ADS_1


"Sayang... Lepaskan! Kenapa langsung tiba - tiba datang kau memeluk ku," ucap Hanum yang tersipu malu karena dilihat oleh adik dan adik iparnya.


Bram tak perduli, tangannya masih merangkul tubuh istrinya dari belakang seraya meledek Brian kembali "Aku telah melewati proses itu, sekarang kau rasakan menjadi suami yang istrinya lagi ngidam yang terkadang, permintaannya tak masuk diakal."


Mendengar perkataan suaminya, wajah Hanum menjadi merah karena perkataan suaminya. Spontan dirinya mencubit pinggang Bram.


Arrgh.. Aduh...


Bram merasakan sakit akibat cubitan yang mendarat diperut bagian pinggangnya.


"Jadi kau dulu merasa tersiksa ya pada saat aku meminta sesuatu yang menurutmu aneh dan tak masuk diakal itu!" Ujar Hanum dengan mengelayutkan tangannya dengan manja dipundak suaminya.


Bram tersenyum mendengar perkataan dari istrinya lalu berkata "Tentu saja tidak sayang... Aku menjadi suami penurut dan siaga menerima semua yang kau inginkan. Setiap perintah dari mu secepatnya ku turuti, sampai pada saat itu aku lupa memakai sandal yang berbeda karena terburu - buru pergi. Tanpa ku sadari sampai dimall semua orang memandang ku, karena melihat kearah sandal yang ku pakai."


Sontak setelah mendengar perkataan Bram semua tertawa lepas tak terkecuali Hani yang terbaring lemah diatas kasur.


❄❄❄


Jangan lupa like, komen dan plzz beri tipsnya ya.. Setelah membaca karya perdana ku.


Jadikan favorit bacaan mu ya... Dengan mengklik tanda hati ❤❤❤


Agar kita tambah mesrah Reader... 😍😍


Salam Literasi 😊😊


Salam Hangat😍😍😍

__ADS_1


💜💜Lemb@yung💜💜


__ADS_2