
Seketika Hanum tak sadarkan diri kembali setelah berteriak histeris. Semua yang melihat dan mendengar Hanum berteriak semua pandangan tertuju pada Hanum.
Ayah dengan sigap membopong Hanum menuju ruangan untuk segera diperiksa oleh dokter jaga.
Ibu dan kedua orangtua Dika panik melihat Hanum yang tak sadarkan diri. Raut wajah mereka penuh dengan kecemasan karena kondisi Hanum yng sedang hamil tua.
Dokter memeriksa keadaan Hanum dan mengecek keadaan bayinya lalu berkata:
"Ibu ini shock sehingga tak sadarkan diri, mohon untuk pihak keluarga menjaga kestabilan emosi dan tidak memberitahu sesuatu yng berat kepada ibu ini agar tidak berpengaruh buruk pada kehamilannya", ungkap dokter.
"Baik dok". jawab ayah.
Belum selesai ujian yang satu timbul ujian yang lainnya. Seorang petugas polisi mencari pihak keluarga Dika untu memberikan keterangan seputar kecelakaan yang terjadi pada Dika.
Ayah dan ayahnya Dika berbicara dengan petugas polisi tersebut. Mereka berdua mendengar apa yang disampaikan oleh petugas polisi. Bahwa kecelakaan tersebut tidak lah murni kecelakaan ada unsur lain yaitu penganiayaan didalamnya.
__ADS_1
Bertambah hancur hati mereka berdua mendengar keterangan yang disampaikan petugas polisi. Ayah tak bisa bayangkan reaksi Hanum jika mengetahui cerita sebenarnya dibalik kecelakaan yang menimpa Dika.
Hanum telah sadar dari pingsannya. Suster sudah menyampaikan kepada ibu dan mertuanya bahwa kepulangan jenazah telah siap dilakukan dan hanya tinggal menyelesaikan beberapa administrasi dirumah sakit.
"Terimakasih suster, saya akan sampaikan pada suami saya", jawab ibu Hanum.
Tak lama datang ayah beserta ayah Dika. Ibu menyampaikan pesan dari suster. Segera ayah menyelesaikan beberapa administrasi rumah sakit.
Hanum meminta ayahnya untuk keluar juga dari rumah sakit. Ia akan mengatarkan Dika ketempat peristirahatan terakhir.
Kabut putih menyelimuti pandangan Hanum. Dengan bulir bening yang selalu tumpah membasahi wajah cantik Hanum.
Ia masih merasakan ini sebuah mimpi yang sangat panjang. Berkali-kali Hanum bertanya pada ibunya: " Apakah aku sedang bermimpi, kenapa banyak sekali orang datang kerumah ini?
Pertanyaan Hanum menyayat hati dan terasa pilu bagi yang mendengarkannya.
__ADS_1
"Hanum sadarlah nak ini bukan mimpi tapi kenyataaan yang harus kau terima bahwa Dika sudah tiada", ujar ibu dengan mengelus lembut kepala Hanum dan menyeka air mata yang membasahi wajah putrinya.
Sekarang Dika sudah dimandikan dan dikafankan tinggal menunggu disholatkan dimesjid terdekat dan langsung dimakam di pemakaman terdekat dari perumahan.
Seluruh tetangga datang menghadiri proses pemakaman Dika. Dika termasuk tetangga yang ramah dan banyak orang yang ikut kehilangan atas kepergian yang secara tiba-tiba.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Hanum. Duduk berdiam dan membisu seakan jasadnya yang ada disini sedangkan pikirannya melayang tak tentu arah.
Inilah firasat itu yang selalu menghantui dirinya. semua terjawab sudah.
"Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan didalam kehidupan ku, aku sudah merasakan bahwa ia akan meninggalkan ku. Tak terpikir dalam benak ku ia akan pergi dengan cara seperti ini. Dika bukan lah suami ku seutuhnya." besit Hanum dalam hati.
Suara sirene dari mobil ambulans terdengar nyaring sekali. membawa Dika keperistirahatan terakhirnya.
Tak ada reaksi terhadap Hanum, Hanum pandang wajah Dika untuk yang terakhir kalinya sampai seluruh tanah menutupi liang kubur.
__ADS_1