Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 37 Bertemu Kembali


__ADS_3

Mata Hanum menatap jauh keatas langit. Begitu banyak bintang bertebaran dilangit memancarkan cahayanya yang indah. Begitu pula rembulan yang bersinar pada malam ini serasa tak mau kalah dengan jumlah bintang yang ada.


"Malam ini begitu indah", besit Hanum dalam hati. Tapi tak seindah hatinya yang dirundung kesedihan yang tak berujung. Ia duduk sendiri disaung yang berada disamping rumah.


Biasanya Hanum bersama Dika sering duduk berdua sambil mengulang kembali kisah masa kecil. Saat ini Dika tidak ada dikampung, pulang ketempat ia berkerja untuk mengurus sesuatu disana. Dika pergi setelah mengetahui bahwa Galang benar akan menepati janji dan akan kembali pada saat hari pernikahan Hanum.


Tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman rumah. Ia tidak kenal dengan kendaraan yang telah memasuki halaman rumahnya.


Karena dari kejauhan Hanum tak begitu melihat dengan jelas siapa yang keluar dari mobil tersebut. Ada tiga orang yang turun dari dalam mobil setelah pintu dibuka oleh sopir mobil tersebut.


Hanum tak begitu ingin tahu siapa yng bertamu malam ini. Ditatapnya kembali langit yang indah malam ini berharap dapat merubah suasana yang ada dihati. Cukup lama Hanum duduk sendiri disaung.


Terasa angin malam mulai menusuk kulitnya karena ia hanya mengenakan shortdress malam ini. Terlihat perutnya yang membuncit karena pakaiannya sudah mulai sempit Sedangkan janin didalam kandungan terus berkembang dengan baik.


" Hy", sapa seseorang dengan lembut.

__ADS_1


" Mengapa duduk sendiri disini", sapanya kembali.


Hanum tak mengenal siapa lelaki yang mendekatinya. Hanum menatap wajah yang menyapa dengan seksama. Begitu terkejutnya ketika melihat wajah yang semakin terlihat jelas dimata.


Rupanya Bram telah lama memperhatikan Hanum yang sedari tadi berdiri menatap langit. Ia melihat dengan jelas perubahan tubuh yang terjadi pada gadis itu. Hanum terlihat sangat menarik dimata Bram. Terlebih lagi ketika ia melihat perut Hanum yang membesar. Senyum bahagia mengembang diujung bibirnya.


"Kamu!, mau apa kamu kemari?, ucap Hanum ketus seraya berjalan meninggalkan Bram.


Tangan Bram yang cekatan memegang pergelangan tangan Hanum dan memutar balik tubuh Hanum sehingga tubuh mereka berhadapan dan sangat dekat. Tindakan Bram menghentikan langkah Hanum.


"Lepaskan", ucap Hanum dengan nada tinggi.


Bram tidak melepaskan genggamannya karena tak ingin Hanum pergi meninggalkannya.


" Tak bisakah kita berbicara dengan baik?, ucap Bram dengan lembut dan sorot mata yang sendu.

__ADS_1


"Lepaskan aku", pinta Hanum dengan suara melemah.


Bram melepaskan gengaman tangannya dan beralih memegang perut Hanum yang sedari tadi telah menyentuh tubuhnya. Dibelai dengan lembut perut Hanum seraya tersenyum. Ia tak menyangka bisa menyentuh anaknya yang masih didalam kandungan itu. Ada rona kebahagian yang terpancar diwajah Bram.


Hanum melihat tindakan Bram menjadi terteguh sehingga membiarkan Bram mengusap lembut perutnya itu.


"Mengapa lelaki ini begitu lembut berbeda dengan sikapnya pada saat malam itu", ungkap Hanum dalam hati.


Setelah puas mengelus perut Hanum, Bram memegang tangannya mengajak Hanum duduk disaung. Ia sentuh kembali perut Hanum seraya berkata: " papa akan mengajak ibu mu untuk tinggal bersama", ucap Bram begitu manis terdengar ditelinga Hanum.


Hanum hanya terdiam tanpa respon apapun. Ia hanya memperhatikan setiap tingkah laku Bram.


"Apakah aku bisa menebus rasa bersalahku? , tanya Bram dengan mata mengiba.


"Apakah bisa aku diberikan kesempatan untuk merawat anak ini?

__ADS_1


Hanum hanya terpaku dan terdiam serasa ia sedang bermimpi


__ADS_2