
Erat sekali pelukan yang dirasakan oleh tubuh Hanum. Bram memang sangat jatuh hati padanya. Ada rasa bersalah dihati Hanum telah berbohong terhadap lelaki yang tak ingin jauh darinya.
"Maafkan aku tak jujur padamu, aku khawatir kau tak mengizinkan ku untuk bertemu dengannya", ungkap Hanum lirih dengan wajah merasa bersalah.
"Lebih baik kau cerita kepada ku dari pada harus menyembunyikannya dibelakang ku", ucap Bram dengan menatap wajah Hanum dengan sorot mata penuh keseriusan.
Hanya bisa tertunduk dan menahan bulir bening diujung matanya mendengar perkataan lelaki yang masih memeluk erat tubuhnya.
Hanum mulai menjelaskan pada bram alasannya bertemu Galang dicafe tersebut
Dengan suara pelan dan kalimat yang runtun mulai bercerita : " Wanita itu menemui ku dan menangis dihadapan ku, memohon pada ku untuk menemui suaminya. Meminta bantuan agar berbicara suatu hal yang sangat penting bagi kelangsungan rumah tangganya".
Dengan menarik nafas panjang dan dalam Hanum melanjutkan bicaranya. Bram melepaskan pelukannya dan menatap wajah wanita yang sedang berbicara dihadapanya.
Ada kejujuran dimata Hanum dan Bram bisa merasakan itu melalui sorot matanya yang teduh.
__ADS_1
Apakah kau masih mengingatnya? , tanya Hanum dengan menatap serius wajah Bram yang sekarang sudah posisi berhadapan.
"Pada saat makam malam dan kehilangan diriku, kemudian menemukan ku dilorong menuju kamar kecil bersama dua orang wanita" ucap Hanum mengajak Bram mengingat kembali peristiwa dimalam dipertemukannya Hanum oleh kedua orangtuanya.
Bram menganggukan kepalanya mengingat malam yang tak pernah dilupakanya. Hanum memberikan kesempatan untuk Bram menebus rasa bersalahnya.
Mama menyiapkan sebuah cincin yang sekarang telah terpasang dijari manis wanita dihadapannya itu.
Diraihnya tangan Hanum dan melihat cincin yang terpasang dijari manis. Bram mencium lembut tangan Hanum dengan mata penuh cinta dan senyum menghiasi diparas wajahnya yang tampan.
Wajah Bram langsung terlihat senang dan bahagia terpancar dari rona wajahnya yang berseri. Ternyata lelaki itu telah memiliki seorang istri. Senyumnya mengembang bahwa tak akan ada saingan lagi bagi dirinya.
Hanum mengetahui bahwa rasa cemburu Bram menghilang perlahan seiring dengan mendengar perkataannya bahwa lelaki yang ditemui telah beristri.
"Kesalahan ku tak berterus terang padamu Bram? maaf kan aku", ucap Hanum sekali lagi menyatakan kesalahan terbesarnya pada lelaki yang juga telah membuat hatinya gelisah.
__ADS_1
Bram tersenyum dan secepat kilat menyambar bibir merah Hanum untuk menghentikan bicaranya. Seketika mereka berdua telah larut dalam kenikmatan sentuhan yang hangat dibibir mereka.
Hanum tak percaya bahwa ia bisa membalas setiap ******* kecil dari bibir Bram. " Apakah aku telah jatuh hati padanya ya? besit dalam hatinya.
Ciuman Bram semakin panas kini telah beralih dibagian pipi dan telinga serta menuju bagian jenjang leher lanjut menuju kebahu Hanum. Gairah lelakinya semakin menggebu dan ingin segera ******* habis seluruh tubuh Hanum.
"Bram,,, sapa Hanum menghentikan pergerakan mulutnya. Tersadar akan tindakan yang telah dilakukannya.
"Maaf aku terbawa perasaan", jawab Bram masih dengan wajah penuh bahagia.
"Kau tahu Bram aku bertemu dengan Galang tidak berdua saja tetapi bersama dengan istrinya dicafe itu, tetapi kenapa kau begitu sangat cemburu", ungkap Hanum melanjutkan ceritanya dan penuh tandanya.
Bram memberikan penjelasan pada Hanum bahwa hanya mereka berdua saja yang terlihat pada saat itu. Hanum jadi bingung dengan perkataan Bram, dicoba mengingat kembali kejadian dicafe tersebut.
Senyum tipis menghiasi wajah Hanum nan cantik, langsung teringat bahwa Intan meninggalkan mereka berdua sejenak untuk pergi ke kamar kecil pada saat itu.
__ADS_1