
Kepergian keluarga yang berkumpul pada saat makan malam sangat terasa bagi Hanum. Ayah dan ibu menemani Hani dan Brian untuk pergi berobat keluar negeri.
Tertinggal Nina yang masih libur sekolah diakhir tahun pelajaran. Selama libur Nina akan menemani Hanum disini menunggu ibu sampai kembali dari luar negeri..
Ibu khawatir meninggalkan putri bungsunya sendiri dirumah selama kepergiannya keluar negeri. Ibu tak akan lama disana, hanya ayah dan Brian yang akan lama menjaga Hani.
Fairuz putri kecil Bram sangat bergembira mendengar auntinya akan lama tinggal dirumahnya.
"Baiklah sayang, hari ini mau makan apa? Nina memberikan tawaran pada ponakannya."
Dengan sangat telaten Nina mengikuti saja kehendak ponakkan semata wayangnya itu.
Fairuz memang mendapatkan kasih sayang yang berlebih dikeluarga Hanum karena hanya baru dirinya satu-satunya cucu dari mbah kakung dan mbah uti.
Dikeluarga Bram juga tak berbeda jauh, Fairuz mendapatkan kasih sayang yang berlebih dari opa dan oma. Walaupun keluarga Bram telah memiliki cucu lain dari anaknya Laura. Tidak sedekat rasa sayang yang diberikan orangtua Bram untuk Fairuz.
Fairuz memang sangat menggemaskan orang yang melihatnya. Dengan bola mata berwarna biru dan hidung mancung duplikat papanya.
Wajah campuran melekat diparas cantik putri kecil kesayangan Hanum dan Bram menambah orang semakin tertarik padanya.
"Nyah, tuan sudah pulang." Asisten rumah tangga memberitahu kepulangan Bram dengan tiba-tiba itu. Tidak seperti biasanya jam kepulangan Bram dari kerja kerumah.
Hanum mencari suaminya dikamar dan diruang kerja tetapi tak ditemukannya. Perasaan bingung menyelinap dipikiran Hanum.
__ADS_1
"Bram... rupanya kau disini. Ada apa ? Pulang lebih awal dari biasanya." Ungkap Hanum dengan tersenyum menatap wajah lelaki itu yang sedang duduk termenung ditaman rumah.
Terlihat wajah Bram tak bersemangat, ada sesuatu hal yang disimpannya didalam hati.
"Mulai sekarang kau harus menelpon ku terlebih dahulu untuk pergi keluar rumah!, dengan suara ketus diucapkan kata itu dari mulutnya."
Hanum terkejut, tak seperti biasanya Bram begitu over protective padanya.
"Apa yang sudah terjadi? Masih dalam misteri." Hanum berusaha mencari tahu apa penyebabnya.
"Baik... Aku akan memberitahu mu, jawab Hanum pada suaminya itu."
Hanum menoleh wajahnya menatap suaminya yang sedari tadi tak menatap wajahnya.
"Sayang, Apakah kau tak mau melahirkan buah dari cinta kita? Tiba - tiba lagi Bram berkata yang tak masuk diakal menurut Hanum."
Dengat mengernyitkan dahi Hanum semakin bingung dibuatnya dengan sikap Bram saat ini.
"Apa maksud mu Bram? Tanya Hanum penuh dengan kebingungan dan penasaran."
Dengan wajah tak menyukai Bram mengarahkan pandangan pada istrinya.
"Lihatlah ! Sampai detik ini kau tak pernah memanggilku dengan sapaan yang mesra seperti mas atau sayang. Kau hanya memanggil nama ku saja ! Protes Bram yang aneh menurut Hanum."
__ADS_1
"Untuk satu hal yang sepele itu, dia harus bermuka masam pada ku, besit dalam hati Hanum."
Tak harus dengan wajah demikian, memintanku untuk mengubah sapaan terhadapnya.
Mereka berdua terdiam sejenak dengan larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Galang kau sapa dengan mesrahnya dengan panggilan kak!, Nah aku...." Dengan menghelakan nafasnya.
Baru mengerti bahwa Bram sedang cemburu. Entah apa penyebab dirinya jadi cemburu pada Hanum seperti itu.
Ada senyum tipis diujung wajah Hanum melihat tingkah suaminya itu.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
__ADS_1
Terima Kasih...🙏🙏
Salam Hangat Lemb@gung