Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 78 Kekhawatiran Hanum


__ADS_3

Berkali kali Hanum menoleh kearah jam dinding yang menempel didinding ruang tamu. Hanum seperti setrika berjalan kesana dan kemari yang terus bergerak. Ini sudah lewat dari jam Hani pulang.


"Apakah karena hujan ia tak bisa sampai kerumah tepat waktu?, ucap lirih Hanum


Hatinya diliputi kekhawatiran dan kecemasan terhadap adik tengahnya yang belum pulang dari kuliah. Hanum berusaha mengendalikan perasan dan emosi jiwanya. Ia buang jauh pikiran buruk yang sempat terlintas dikepalanya.


"Dek dimana dirimu?, semoga dalam keadaan baik-baik aja", ucap lirih Hanum.


Rasanya sudah puas menelpon adiknya itu tetapi tidak diangkat dan terakhir ponselnya tak bisa dihubungi. Hanum semakin gelisah dan cemas memikir keberadaaan Hani.


"Baiklah mungkin karena hujan deras sehingga ia terjebak disuatu tepat", gumam Hanum mencoba mengendalikan perasaan dan membuang pikiran buruk dalam kepala nya yang terlibat kembali.


Hujan sudah mulai reda dan jam telah menunjukkan angka tujuh malam. Tak lama terdengar suara mobil berhenti tepat didepan halaman rumah Hanum.


Hanum mencoba melihat melalui balik jendela dan memastikan bahwa siapa yang datang berkunjung. Mobil hitam yang terpakir membuka pintu dan terlihat Hani bersama seorang lelaki turun dari mobil tersebut.


"Siapa laki-laki yang bersama Hani?, ucap dalam hati Hanum.

__ADS_1


Hanum buka segera pintu rumah dan membiarkan Hani masuk serta Hanum terkejut melihat Brian bersama adik tengahnya itu.


"Silahkan masuk", sapa lembut Hanum


Brian duduk diruang tamu dengan pakaian kemeja sedangkan jas nya masih menempel pada tubuh adiknya yang terlihat kedinginan.


"Duduk dulu ya ku ganti pakaian ku", ucap Hani.


Brian menganggukan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang telah dikatakan Hani.


"Ini jasnya, terima kasih tlah mengantar ku sampai kerumah", ucap Hani.


Hanum hanya terdiam dan melihat saja kedekatan adiknya dengan sahabat Bram.


"Hanum maaf sebelumnya aku tlah mengatarkan Hani kerumah tanpa ijin dari mu karena kulihat dia sedang sendiri dihalte bus dalam kondisi kedinginan", ungkap Brian.


Hanum tersenyum mendengar perkataan Brian seolah-olah tak mempersoalkan tindakan Brian yang mengantarkan adiknya pulang kerumah.

__ADS_1


Putri Hanum keluar dari kamar dan menuju keruang tamu dan segera bergelayut manja pada bundanya seraya memperhatikan Brian.


"Bunda Fay mau minum susu", ucap putrinya dengan manja.


Brian melihat putri Bram yang selama ini hanya melalui cerita dari mulut sahabatnya itu. Kini ia melihat langsung dan membenarkan perkataan Bram akan putrinya.


"Putrinya Bram sangat cantik dan menggemaskan wajar saja Bram tak berkutik. Pada saat Hanum memintanya untuk merahasiakan identitas ia sebagai ayah kandung. Bram takut kehilangan putrinya yang cantik ini", besit Brian dalam hati dengan mata tak lepas menatap Fairuz.


Hanum permisi untuk kedapur untuk membuatkan susu permintaan putri kecilnya dan membiarkan Hani mengobrol dengan Brian.


Cukup lama Brian asik mengobrol dengan adiknya itu. Terbesit dalam hati Hanum "Sejak kapan mereka berdua jadi akrab seperti itu?


Akhirnya putri kecilnya tertidur setelah meminum susu yang dibuatnya. Hanum kembali keruang tamu dan masih melihat Brian dan Hani mengobrol dengan asiknya.


"Brian sejak kapan ada dikota ini?, tanya Hanum yang mengagetkan mereka berdua dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Sudah dua hari disini dan tak sengaja melintas dan melihat Hani ditepi jalan raya. Sebenarnya saya juga akan kemari tetapi berhubung bertemu Hani maka sekalian saja kerumah ini karena ada sesuatu yang diberikan Bram buat Fairuz", ungkap Brian seraya meraih sesuatu yang ada dalam saku celananya.

__ADS_1


__ADS_2