
Awan hitam menyelimuti langit sore ini pertanda akan turun hujan yang sangat deras.
Terdengar suara gemuruh dilangit, menandakan betapa kecilnya manusia dihadapan Sang Pencipta.
Dipercepat langkah Hani menuju halte bis yang tak jauh dari kampusnya. Terdengar suara benturan yang sangat keras. Sehingga menjadi perhatian orang disekitarnya yang mendengar suara keras tersebut.
Semua orang berkerumun ditengah jalan, melihat seorang wanita yang telah rebah diatas aspal karena tertabrak oleh sepeda motor yang telah kabur melarikan diri.
Hujanpun turun dengan deras membubarkan dengan sendirinya kerumunan orang yang berada ditempat kejadian. Tubuh wanita itu segera dilarikan kerumah sakit dengan bantuan ambulans.
Dering telpon mengagetkan Hanum yang saat itu sedang asik bercanda gurau dengan putri kecil kesanyangannya.
Terdengar suara laki-laki pada panggilan ponsel yang tertera nama adik tengahnya itu. Bagai disambar petir Hanum menerima kabar yang disampaikan oleh lelaki yang menelpon barusan.
"Bik Watiiiii." Teriak Hanum seraya bergegas menyimpulkan beberapa pakaian kedalam koper.
Putri kecilnya hanya melihat bundanya yang tiba-tiba menagis dan bergegas memasuki baju kedalam koper.
"Bik beritahu tuan saya berangkat, adik saya kecelakaan dan dalam keadaan kritis," dengan raut wajah yang cemas dan gelisah diwajah Hanum.
"Baik Nyah." Dengan menganggukan kepala pengasuh putrinya mengerti akan pesan darurat yang diberikan majikannya itu.
__ADS_1
Bik Wati menelpon Bram dan menyampaikan apa yang telah dipesankan oleh Hanum. Bram terkejut dan segera memberitahu sahabatnya itu.
"Hani kecelakaan dan kondisinya kritis," ucap Bram dengan raut wajah yang sama dengan istrinya.
Wajah Brian langsung pucat dan terduduk lemas diatas sofa setelah mendengar berita gadis muda yang selalu membuatnya rindu.
"Ayoo, kita segera menyusul Hanum," perintah Bram pada sahabatnya yang masih terdiam dan terpaku.
Dengan menarik lengan Brian yang masih tak merespon perkataan Bram. Brian terkejut setelah pikirannya melayang tak tentu arah.
Mengikuti langkah Bram keluar dari kantor dan langsung menuju bandara.
Dengan langkah kaki seribu Hanum telah memasuki halaman depan rumah sakit menuju ruang ICU.
"Ooh, mari ibu ikut saya," ucap perawat itu mengantarkan ke rung ICU.
Hanum seperti mengulang masa lalunya langkah kakinya terasa sangat lambat padahal sudah dilangkahkan kaki selebar dan secepat mungkin.
Matanya tertuju pada gadis yang terbaring diatas kasur dengan beragam alat yang menempel ditubuh Hani.
Bulir bening jatuh diujung mata Hanum, tak percaya dengan apa yang dilihat dihadapanya. Bagaimana Hanum akan memberi kabar kepada kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Maaf Ibu, dokter memanggil keluarga pasien untuk menyampaikan kondisi pasien," dengan suara pelan perawat yang berdiri disamping Hanum menyampaikan pesan dari dokter.
"Ibu saya telah melakukan tindakan pada saat pasien dilarikan kerumah sakit ini, tindakan pertama adalah pada bagian pinggul dan kaki sebelah kanan yang mengalami retak dan patah. Kami harus segera mengoperasinya secepat mungkin agar tidak infeksi dan semakin buruk. Kini pasien masih dalam kondisi kritis karena pada saat tabrakan terlalu lama membawanya kerumah sakit sehingga penanganan tidak cepat dilaksanakan," tubuh Hanum bergetar mendengarkan penjelasan dari dokter.
Dokter terakhir mengatakan bahwa Hani akan sulit duduk apalagi untuk berjalan. Harus istirahat total dan mengikuti terapi serta perawatan intensif untuk memulihkan luka dalam setelah ia dapat melalui masa kritisnya itu.
"Adiku yang ceria kini terbaring tanpa senyum dengan wajah yang pucat," ujian apa yang Kau berikan pada kami Ya Allah, semoga kami mampu melewati semua ujian ini.
Bulir bening kembali menetes tak tertahankan lagi diparas cantik Hanum yang terduduk dikoridor rumah sakit tepat diruang ICU.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
__ADS_1
Terima Kasih...🙏🙏
Salam Hangat Lemb@gung