
Bram terbangun karena merasakan perih diperutnya, ia perlahan turun dari tempat tidur agar tak membangunkan Hanum dan putri kecilnya.
Bram perlahan melangkahkan kakinya dan menuju pintu. Ketika membuka pintu kamar Hanum terbangun dari tidurnya. Hanum melihat Bram sedang berdiri didepan pintu.
"Mau kemana?, tanya Hanum tiba-tiba mengagetkan Bram.
Seketika Bram memberi isyarat dengan telunjuknya dan meminta Hanum mengikutinya.
Bram membawa Hanum ke meja makan.
"Perutku perih ingin makan sesuatu", ucap Bram sambil memegang perutnya.
"Baiklah, coba ku lihat apa yang bisa kita makan".jawab Hanum seraya membuka lemari pendingin.
"Apa mau ku buatkan nasi goreng?, tanya Hanum karena tak menemukan makanan yang telah siap untuk dimakan.
"Baiklah", ucap Bram.
Tak membutuhkan waktu lama Hanum telah membawa dua piring nasi goreng sea food plus sayuran didalamya.
__ADS_1
"Emm, kelihatannya enak ini dari aromanya", ucap Bram seraya mencium makan yang ada dihadapanya.
Bram makan dengan lahapnya tak tersisa sebutir nasipun dipiringnya.
"Ternyata kau jago juga masak", ledek Bram.
Hanum bercerita bahwa ia dapat ilmu memasak dari bude tetangga depan rumahnya yang membuka usaha katring.
Hanum membantu bude untuk menghemat pengeluarannya setiap bulan. Ia tak ingin bekerja jika harus meninggalkan putrinya. Bude sangat baik sudah seperti orangtua kedua baginya.
Sekarang Hanum sudah jarang membantu bude, bude mengerti bahwa ia sudah memiliki pekerjaan dipanti asuhan mengajar anak-anak panti. Fairuz selalu ikut bersama Hanum ke panti. Hanya panti itu lah yang membolehkan Hanum membawa putrinya sembari mengajarkan anak-anak panti.
"Kemana uang yang dikirimnya selama ini? apa tidak cukup sehingga ia harus bekerja keras", besit Bram dalam hati dengan penuh tanda tanya.
"Maaf Hanum, apakah uang yang ku kirimkan padamu tidak cukup untuk kalian berdua?, tanya Bram dengan penasaran.
Hanum menatap wajah Bram, akankah ia katakan bahwa ia tak pernah menyentuh uang pemberian darinya.
"Maaf, aku tak pernah menyentuh uang pemberian dari mu. Uang itu masih utuh didalam rekening pemberian dari mu", ungkap Hanum dengan nada pelan.
__ADS_1
Bram terkejut tak pernah dibayangkannya selama ini. Sudah lebih dari lima tahun ia mengirimkan uang pada Hanum tapi baru kali ini Bram tahu bahwa uang itu tak pernah terpakai.
Bram tatap wajah wanita yang ada dihadapanya itu lalu berkata didalam hatinya : "Apa malaikat yang turun kebumi dalam bentuk manusia seperti wanita dihadapan ku ini".
Dalam jumlah besar uang yang dikirim Bram setiap bulan rasanya tak akan habis oleh kebutuhan mereka berdua. Tetapi wanita ini malah tak mengunakan serupiah pun dari uang itu.
Berbeda jauh sekali dengan wanita yang pernah kutemui dan bahkan wanita yang mengelilingi Bram setiap hari.
Makin besar kekaguman Bram pada wanita yang ada dihadapannya ini.
"Tak kan ku biarkan kau lari dalam kehidupan ku Hanum", besit Bram dalam hati.
"Sudah kenyang ?, mari kita tidur". ucap Hanum membuyarkan lamunannya.
Bram menarik tangan Hanum yang berjalan lebih dulu darinya. Akhirnya mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamar dimana putri mereka tertidur.
"aku akan tidur disofa biar kamu lebih nyaman", ucap Bram.
"Kalau Fay tahu dirimu tak disini ntar gimana?, jawab Hanum dengan berat hati seraya menunjuk tempat tidur .
__ADS_1
"Baiklah kalau kau yang meminta, tapi jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu", ledek Bram seraya menggoda Hanum.