
Dina tersenyum menatap wajah Hanum yang berdiri diujung tempat tidur. Mengisyaratkan sebuah rasa terima kasih yang besar pada Hanum melalui tatap matanya.
Dikri masih bersimpuh dengan posisi kedua lutut ditekuknya menghadap Dina meminta kesempatan yang belum dijawab oleh bibir istrinya yang pucat.
"Bangkitlah dan tak sewajarnya seorang suami berlutut dihadapan istri, aku tak ingin menjadi seorang istri yang durhaka pada suaminya. Aku telah jauh sebelumnya memaafkan dirimu sebelum kau berbicara padaku. Sejak kau langkahkan kaki datang kekamar ini aku telah memaafkan mu suamiku", ungkap Dina dengan meneteskan bulir bening dipipinya yang masih terlihat pucat.
Dikri merasa sangat terpukul mendengar perkataan wanita dihadapannya itu.
Mengapa ia terlalu bodoh menyia-nyiakan wanita yang begitu sempurna untuknya. Pilihan terbaik dari orangtuanya yang tak salah memilihkan istri buatnya.
Dikri berdiri dan tak kuasa langsung memeluk erat istrinya yang lemah dan tak berdaya itu. Berulangkali ia mengatakan kata maaf yang keluar dari penyesalan yang sangat dalam.
Dokter telah berdiri dihadapan mereka bertiga memberitahu atas hasil dari pemeriksaan laboratorium.
__ADS_1
Dokter mengatakan bahwa :"Selamat bu telah lewat dari masa kritisnya dan kabar baik untuk janin yang ada dirahim ibu. Setelah melihat dari hasil labor tidak ada hal fatal yang membahayakan janin tersebut. Ibu hanya segera memulihkan kesehatan ibu dengan mengkonsumsi vitamin untuk perkembangan janin yang ada didalam rahim ibu.", ungkap dokter itu memberikan penjelasan dengan jelas seraya tersenyum pada pasiennya.
Setelah memberikan penjelasan dokter tersebut meminta untuk permisi pergi dari hadapan mereka bertiga. Dikri yang mendengar perkataan dokter terkejut.
Dengan wajah bersalah dan penuh dengan penyesalan ia berkata : "Aku menikahi wanita yang hamil karena lelaki lain dan aku membuang wanita yang benar mengadung darah dagingku sendiri. Betapa bodohnya aku, mengejar wanita yang hanya mempermaikan perasaanku dan menipuku serta menguras habis hartaku", ucap Dikri dengan lirih dan malu serta merasa sangat bodoh dihadapan istrinya itu.
Untuk seorang lelaki yang tertipu mentah-mentah pada cinta palsu. Hanum tersenyum diujung bibirnya ia telah berhasil membuka hati suami sahabatnya sendiri.
Hanum pergi keluar meninggalkan mereka berdua untuk berbicara lebih dalam sebagai sepasang suami istri.
"Satu masalah dapat terselesaikan sesuai harapanya", besit hati Hanum.
Hanum yang sedari tadi duduk dikoridor rumah sakit ia tak melihat dan menyadari seorang wanita datang menghampirinya.
__ADS_1
"Bunda Fairuz, sapa wanita yang telah berdiri dihadapanya.
Hanum mengingat-ingat siapa wanita yang ada dihadapannya itu. wanita ini seperti mengenal benar dengan Hanum tetapi Hanum belum bisa dengan cepat mengingat siapa dirinya.
Tanpa memberikan waktu untuk Hanum berpikir mengingat siapa dirinya dan ia telah berbicara dengan ramah kepada Hanum:
"Siapa yang sakit?, mana putrimu yang cantik itu apakah tak dibawa?, tanya wanita itu dengan senyum manis membingkai wajah cantiknya.
Hanum mengatakan pada wanita itu bahwa sahabatnya yang sedang sakit dan putri kecilnya sengaja tak dibawa kerumah sakit ini.
Setelah mendengar perkataan Hanum wanita itu lalu pergi dari hadapanya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Wanita itu telah membuat janji pada dokter kandungan pada saat ini.
Hanum masih melamunkan wanita yang baru ia temui tadi. Ia masih mengingat cukup keras siapa wanita itu.
__ADS_1
Seorang lelaki telah duduk disampingnya mengagetkannya dengan datang secara tiba-tiba. Sebuah senyuman yang khas telah tertuju padanya dari paras tampan lelaki itu.