
Mendapatkan telpon dari Bram, Dokter Rini segera meluncur kerumah pasien pribadinya.
Menempuh jarak lebih kurang sekitar 30 menit, Dokter Rini telah sampai didepan sebuah rumah dengan interior unik dan klasik. Lebih cendrung bergaya tradisional namun elegant.
"Silahkan masuk Dok," sapa Bik Wati.
"Nyonya ada dilantai dua, mari saya antarkan," ujar Bik Wati kembali, dengan sangat sopan.
Pintu diketuk oleh Bik Wati, terdengar suara sahutan Bram dari dalam kamar. Mempersilahkan masuk untuk orang diluar agar masuk kedalam kamar pribadinya.
Senyum sudah menghiasi wajah wanita paruh baya tersebut. Membuat rasa tak percaya bahwa Bram bisa dibuat sangat jatuh cinta pada wanita yang sedang berbalut selimut tebal.
Wanita yang dulu sangat dramatis hidupnya dibuat oleh Bram. Kini terbaring dengan pelukan erat dan mesrah dari tubuh lelaki idaman para wanita sampai saat ini.
Bram tak merasakan malu ataupun canggung ketika dua orang memasuki kamarnya melihat adegan dirinya bersama istri yang sangat dicintainya.
"Apa yang terjadi pada Hanum, Bram?" Tanya Dokter Rini dengan serius setelah melihat sorot mata Bram yang sangat khawatir.
"Hanum sekarang sering merasakan kedinginan sehingga tubuhnya menggigil dan gemetar," balas Bram yang masih memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Baiklah, aku akan periksa," jawab Dokter Rini.
Bram bangkit dari tempat tidur namun Hanum menggelengkan kepala tanda tak ingin Bram jauh dari sisihnya.
__ADS_1
Dokter Rini tersenyum melihat sikap manja Hanum pada Bram. Menganggukan kepala seraya menatap Bram agar mengikuti saja perintah istrinya tersebut.
Dokter Rini memeriksa tensi pada tubuh Hanum dan mengecek semua sesuai ilmu dan pengalaman yang telah didapatnya sebagai seorang Dokter.
Ada senyum diwajah Dokter tersebut, sehingga membuat Bram bingung sekaligus penasaran sekali. Tak sabar menunggu penjelasan dari Dokter Rini, Bram langsung melontarkan pertanyaan pada wanita paruh baya tersebut.
"Apa yng terjadi Dok, " Tanya bram dengan serius menatap Dokter Rini.
"Selamat Bram...Kau akan mendapatkan buah hati kembali," ucap Dokter Rini dengan senyum mengembang diwajahnya.
Mendengar perkataan Dokter ditelinganya, membuat hati Bram menjadi berbunga - bunga. Dipeluknya dengan erat kembali tubuh wanita yang membuat hatinya sangat berbahagia itu. Kemudian dicium berulang - ulang kali pipi istrinya tanpa memperdulikan Bik Wati dan Dokter Rini yang ada diruang tersebut.
Kedua wanita paruh baya tersebut hanya tersenyum melihat tindakan Bram memperlakukan istrinya sebagi luapan rasa bahagianya mendengar Hanum hamil kembali.
"Selamat Nyoyah... " Ucap Bik Wati dengan tersenyum mengembang diujung bibirnya.
Hanum sangat bahagia tak mampu mengutarakan kebahagianya, bulir bening jatuh menetes diujung matanya. Rasa haru bahwa dirinya diberikan kesempatan untuk mempunyai buah cinta suaminya yang sekarang tumbuh dirahimnya.
Dokter Rini segera pamit setelah memberikan kabar bahagia dan menyarankan Hanum harus lebih banyak istirahat karena lagi hamil muda. Kehamilan Hanum baru memasuki minggu ke empat.
Hanum baru sadar bahwa dibulan ini dirinya memang telah lewat dari masa menstruasi rutinnya.
"Wajar saja tubuh mu semakin berat ya sayang... Ternyata ada janin didalam rahimmu." Ucap Bram seraya mencuil hidung istrinya.
__ADS_1
Emmm...
"Kalau tubuh ku makin berat, apakah kau tak mau menggedong ku lagi? " Balas Hanum dengan wajah manyun.
Bram melihat wajah Hanum merajuk semakin membuat dirinya gemas. Diciumnya bibir Hanum yang manyun tersebut dengan lembut dan mesrah.
"Sayaaaaang, terima kasih kau telah membuat ku menjadi lelaki yang sangat sempurna didalam kehidupan ini," ungkap Bram dengan senyum tak lepas dari wajah tampannya.
Dielus lembut perut Hanum yang masih datar, kemudian dicium berulang - ulang kali dengan mesrah. Hanum merasakan saja perlakuan suaminya terhadap tubuhnya tersebut.
"Baik - baik disana ya sayang...Papa sangat mengingikan mu didunia ini, " ucap Bram seraya memandang kearah perut Hanum.
"Pokoknya sekarang kau harus jaga janin ini dengan baik, tak perlu naik turun tangga biar Bik Minah saja yang mengurus perihal urusan rumah tangga," Titah Bram yang menjadi over protective pada istrinya.
Hanum tersenyum dan menggenggam tangan suaminya lalu mencium punggung tangan Bram.
"Terima kasih atas rasa cinta yang ku rasakan kini terhadap mu sayang, " balas Hanum dengan senyum manis dan manja.
###
**Baiklah Reader jangan lupa untuk terus beri semangat buat Author ya 😊😊 untuk menulis.
Jangan lupa like, komen, rate bintang lima dan votenya sebanyak banyaknya
__ADS_1
Author tunggu jejaknya...😍🙏**