
"Pak...Ayo cepat, ndak mungkin mereka menunggu lama akan kehadiran kita," ujar istri pak Darso.
"Ya, Mbok...Aku sudah selesai," balas pak Darso seraya berjalan dengan sedikit berlari kecil keluar meninggalkan kamar.
Istrinya sudah lebih dulu berjalan meninggalkan dirinya keluar dari kamar tamu yang ditempati mereka berdua.
"Aku sudah ndak sabar bertemu putri kita pak." Ucap istrinya seraya tersenyum membayangkan pada saat nantinya, bertemu Mayang dengan dirinya.
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju ruang makan yang dimaksud oleh Bik Ijah yang tadi telah menyampaikan pesan pada mereka berdua.
"Pak, apa aku sudah kelihatan rapi? Ndak memalukan Mayang kan?" ujar istrinya seraya berjalan menuju ruang makan.
"Sudahlah...Ndak mungkin Mayang malu dengan keadaan kita, dia bukan orang asing, dia putri kita Mbok, ndak akan dia malu sama orang tuanya sendiri," ungkap pak Darso.
"Bapak benar..." Ucap spontan istrinya.
Rasa takut akan membuat malu dan membuat kesal Mayang didepan besannya menyeruak dihati istrinya. Namun dirinya berusaha menetepis dihati dan pikirannya, serta ditambah dengan ucapan dari suaminya yang memberi semangat dan kekuatan pada dirinya.
Dari kejauhan Mayang telah melihat sepasang suami istri yang tak asing baginya. Mendekati dirinya beserta Galang dan ibu mertuanya yang tengah duduk dikursi yang ada diruang makan tersebut, sedang menunggu kehadiran mereka berdua.
Ada rasa kesal bercampur malu diraut wajah Mayang yang berusaha ditutupi dengan senyum tipis diujung bibirnya.
"Mengapa secara tiba - tiba mereka berdua kemari sih!" Gerutu Mayang didalam hati.
Entah apa yang ada dihati Mayang, kehadiran orangtuanya tak membuat dirinya bersuka ria namun sebaliknya, ada timbul rasa kekesalan dan rasa malu akan kehadiran sosok yang sangat berjasa dikehidupannya itu.
__ADS_1
"Mari bapak dan ibu...Kita makan malam bersama, " sapa mertua Mayang dengan sopan dan ramah.
Ibu Galang berdiri dari tempat duduknya lalu menyambut kedatangan orangtua Mayang untuk memberikan salam dan ucapan terima kasih sudah mau berkunjung kerumah.
Terlebih dari wajah Galang yang tak lepas melemparkan senyum kearah mereka berdua. Hanya Mayang saja yang berpura - pura tak melihat kearah mereka berdua datang.
"Mayaaang..." Sapa ibunya seraya mendekati kursi yang diduduki putrinya.
Rasa rindu tak dapat dibendung lagi oleh wanita paruh baya tersebut. Dirinya langsung menghampiri dan memeluk putrinya walaupun Mayang tak bergeming dengan posisinya yang duduk disalah satu kursi dimeja makan tersebut.
Ada bulir bening membasahi wajah wanita paruh baya tersebut, dirinya tak menghiraukan dan tak melihat bahwa Mayang tak merespon disetiap tindakan yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut.
Galang dan mertuanya saling menatap satu sama lain. Terbesit dihati kecil mereka berdua bahwa terjadi penolakan dihati Mayang, akan tindakan yang dilakukan ibunya pada saat bertemu putrinya pertama kali setelah sekian lama tak pulang kampung.
"Sayaang..." Sapa Galang yang mengagetkan lamunan yang berputar dikepalanya.
"Kok malah melamun? Itu ibu...!" Ucap Galang dengan nenyentuh pundak istrinya dengan lembut.
Mendengar perkataan dari lelaki yang menjadi suaminya itu, Mayang berusaha memperbaiki sikapnya dengan bersandiwara dihadapan suami dan ibu mertuanya.
"Mbok... Maaf aku kurang merespon karena aku beranggapan masih sebuah mimpi bertemu dengan kalian berdua disini," ujar Mayang dengan pandai memberikan alasan
pembelaan atas sikapnya tadi.
"Simbok kangen Ndok... " Ucap ibunya yang sedari tadi telah memeluk dirinya.
__ADS_1
Dengan kodisinya yang masih duduk, Mayang berusaha berdiri dan memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.
"Sudah Mbok...Sekarang sudah ketemu aku... jangan menagis lagi, " ucap Mayang.
Akhirnya ibunya melempaskan pelukan ditubuh Mayang secara perlahan, wanita tersebut berusaha kembali mengendalikan emosi dirinya.
"Ayoo makan malam dulu, nanti dilanjutkan rasa rindunya ya bu, setelah makan malam ini," ujar mertua Mayang seraya tersenyum menatap mereka berdua.
Akhirnya ibu Mayang mengambil kursi disamping suaminya, lalu berusaha untuk tetap mengendalikan perasaan dan emosi jiwanya dengan menarik nafas panjang lalu Menghembuskannya secara perlahan.
Pak Darso hanya terdiam dan hanya melihat adegan istri dan putri dihadapanya yang sedang melepas rindu didalam dada mereka berdua.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
__ADS_1
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya...ππ