Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 62 Tak Ingin Pergi


__ADS_3

Hampir sepekan Dika telah meninggalkan Hanum. Semakin hari perasaan kehilangan semakin dirasakan Hanum. Kesedihan yang mendalam masih setia menghiasi wajah cantik Hanum.


Hanum benar-benar menjadi sosok yang tertutup. Tubuhnya hanya mematung dan tidak merespon keadaan disekitarnya.


Orangtua Hanum dan orangtua Dika sepakat membawa pulang Hanum kekampung. Jika masih disini maka semakin larut kesedihan yang dirasakan Hanum.


"Nak besok kita pulang kerumah ya?, ucap ibu seraya menyentuh lembut tangan Hanum.


Hanum pandang wajah ibunya dengan sorot mata datar lalu berkata: " Saya tak ingin pergi dari sini", ucap Hanum.


Setelah mendengar perkataan Hanum orangtuanya saling bertatap mata.


"Kita tak bisa paksakan jika Hanum tak ingin pergi dari rumah ini. Harus ada yang menemani Hanum, biar ibu yng menemaninya sampai keadaanya lebih baik. ", ucap ibu.


**************************************


Pagi itu Hanum meminta diantarkan oleh anak bungsu bude yng ada didepan rumah Hanum. Meminta untuk diantarkan kepemakaman tempat Dika disemayamkan.

__ADS_1


"Hati-hati bawa mbak Hanum nak", ucap bude pada putra bungsunya.


Cukup lama Hanum disana dengan sabar purta bungsu bude menunggu. Melihat Hanum berjalan kearah luar pemakaman dengan sigap putra bungsu bude menghampirinya.


"Kita pulang mbak? tanya putra bungsu bude.


"Antarkan saya kesebuah cafe bisa dek?, tanya Hanum.


"Baiklah mbak tidak masalah", jawab putra bungsu bude.


Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang menuju cafe yang dimaksud Hanum.


Ketika Hanum bosan dirumah Dika selalu membawanya kecafe ini. Dika memang pandai merubah bad mood Hanum menjadi lebih baik.


Hanum memesan makanan yang biasa ia makan dan meminta putra bungsu bude untuk memesan makan yang ia inginkan.


"Mas Dika sering bawa mbak kesini ya? tanya putra bungsu bude dengan suara pelan dan penasaran.

__ADS_1


"Ya, saya rindu moment itu makanya saya memintamu mengantarkan ku kemari." jawab Hanum dengan pandangan mata seakan mengingat masa itu.


"Maaf mbak kalau boleh saya bicara", tanya putra bungsu bude dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Hanum.


"Bicaralah", ucap Hanum sembari menyantap makanan yang telah dipesan.


"Saya yakin mbak Hanum orangnya tegar. Mampu menghadapi semua yang terjadi. Jika ada mas Dika, tak akan mungkin ia biarkan mbak larut dalam kesedihan yang mendalam. lagian mas Dika pasti sedih melihat mbak Hanum larut dalam kesedihan seperti ini. Mbak harus melanjutkan kehidupan mbak, apalagi sekarang mbak Hanum sedang hamil", ungkap putra bungsu bude dengan nada pelan dan sorot mata bersimpati.


Mendengar perkataan lelaki yang dihadapannya. Hanum baru menyadari kondisinya saat ini bahwa ia sedang mengandung dan apa yang dikatakan lelaki muda itu memang benar adanya.


Setelah memakan makan yang dipesannya dengan lahapnya. Timbul semangat dihati Hanum akan pembicaraan dengan putra bungsu bude.


"Ternyata ia walaupun masih muda sebaya adiknya Hani tapi memiliki pikiran yang bijak dan mampu membuka mata hatinya", ucap Hanum dalam Hati.


Ibu Hanum sudah merasa gelisah karena sudah lama Hanum pergi bersama anak tetangga depan rumah. Bude juga merasa gelisah pikiran melayang tak tentu arah.


"Kemana putraku membawa Hanum", besitnya dalam hati.

__ADS_1


Suara motor terdengar memasuki halaman rumah. semua orang yang ada didalam keluar memastikan bahwa siapa yang datang. Terlihat Hanum bersama putra bungsu bude yang ditunggu kepulangan mereka berdua.


__ADS_2