Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 250 Rindu


__ADS_3

Deru angin membelai lembut dikulit, berdiam dan terpaku menatap langit dipagi itu. Ada rasa rindu menyeruak didalam kalbu. Tatapan mata kosong mengarah pada bukit yang berada didepan mata.


"Mbook... Rupanya disini toh," ujar Galih membuyarkan lamunannya.


"Ada apa Le(sapaan anak lelaki)?" Balas Simbok.


"Bapak, cari Simbok. Katanya jadi ndak kerumah Lek(bibi) Narsih? " Ungkap Galih.


Wanita paruh baya tersebut bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki menuju suaminya diruang tengah.


Lek Narsih adalah adik iparnya yang sering kekota. Mereka berniat untuk pergi kekota ingin bertemu Mayang.


"Oooalah Mbok... Ditungguin disini kok ndak muncul - muncul," ujar suaminya ketika melihat dirinya ada dihadapan lelaki belahan jiwanya itu.


"Maaf pak, " balasnya spontan.


"Pasti awakmu (dirimu) melamun lagi toh? " Ungkap suaminya.


"Aku juga merindukanya mbok, tidak hanya kamu, Galih dan Gendispun juga. Mayang memang sudah lama ndak pulang. Ngirim kabarpun sudah ndak ada." Ujar suaminya seraya tertunduk dengan raut wajah sedih.


Setelah pernikahan waktu itu, Mayang sangat jarang pulang bahkan memberi kabar kepada mereka, seakan lupa akan keberadaan keluarganya dikampung.


Setiap malam wanita paruh baya yang telah melahirkan Mayang, selalu terbayang akan wajah putrinya.


Akankan kisah lama terulang kembali. Putra sulungnya yang pergi merantau dan sampai saat ini menghilang bak ditelan bumi.


"Apa mereka malu mengakui kami yang miskin ini... "Batin Simbok dalam hati.


Bulir bening jatuh diujung matanya, membasahi gurat diwajahnya yang terlihat jelas, karena kerasnya kehidupan sehingga wajah wanita paruh baya itu tak sesuai dengan usianya yang sebenarnya.


"Mbook...Apa yang kau lamunkan?" Tegur suaminya membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Jangan kau pikirkan, kesehatanmu harus kau jaga, kita masih ada dua anak yang masih membutuhkan kerja keras kita, " ucap lanjut pak Darso.


Istrinya menatap dalam wajah Pak Darso, seakan ingin berteriak mengeluarkan segala beban yang ada dipikiran dan hatinya. Namun diurungkan niatnya karena mengingat suaminya sudah cukup berat menanggung beban sebagai kepala keluarga.


"Pak... Apa mau Narsih mengantarkan kita kekota? " Tanya Simbok dengan wajah penuh harap.


"Semoga saja Mbok... Dia bersedia mengantar kita pergi menemui Mayang dikota." Balas suaminya.


Ibunya Mayang menganggukan kepala pertanda setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. Ada sebuah harapan yang besar untuk dapat bertemu dengan putri keduanya.


"Ayoo... Kita kerumah Narsih sekarang!" Ajak suaminya seraya bangkit dari tempat duduknya.


Istrinya mengikuti saja ajakan dari pak Darso, bersama - sama mereka berdua berjalan kearah pintu luar rumah itu.


Dengan menggunakan sepeda ontel sepasang suami istri itu menuju kerumah Narsih, adik perempuan Darso.


Dengan perlahan mereka kayuh sepeda ontel menempuh jalan tanah berbatuan. Dengan harapan mengiringi disetiap kayuhan sepeda tersebut.


Setiba dirumah Narsih dengan peluh mengucur deras, sepasang suami istri tersebut tak menghiraukannya.


Cuaca memang tak bersahabat kali ini, walaupun masih pagi namun sinar mentari begitu cerahnya, sehingga menambah peluh membasahi disekujur tubuh mereka berdua.


Pak darso mencoba untuk mengetuk pintu tersebut. Rumah kediaman adik perempuannya sangat berbeda jauh dari rumah pak Darso.


Rumah tersebut sudah semi permanen, terlihat bahwa perekonomian keluarga Narsih jauh lebih baik dari pak Darso sebagai saudara lelakinya itu.


Tuk... Tuk... Tuk...


Terdengar sahutan dari dalam rumah tersebut " Sebentar..."


Senyum mengembang dikedua wajah sepasang suami istri tersebut, setelah mendengar sahutan dari dalam rumah.

__ADS_1


Suara yang tak asing dikedua telinga mereka, yaitu suara narsih adik pak Darso.


"Ooh...Kang Mas (sapaan kakak laki - laki), Monggo (mari) masuk..." Ujar Narsih setelah membuka pintu tersebut dengan tersenyum.


Mereka bertiga duduk disebuah ruang tamu yang ada dirumah tersebut. Tanpa membuang waktu lama pak Darso mengutarakan niatnya yang sedari tadi telah ada diujung mulutnya.


"Dek... Besok sewaktu awak mu (dirimu) berangkat kekota, kami berdua mau numpang . Ini Ayu ( sapaan kakak perempuan) mu kangen Mayang. Aku ndak ingin dia jatuh sakit seperti dulu karena memendam rindu yang teramat dalam," ungkap pak Darso.


"Baiklah Kang...Sesok(besok) tak kabari, jika aku pergi kekota membeli barang... Tapi yo mobilku sekalian tak angkut barang belanjaan," balas Narsih.


"Ooo..Ndak jadi masalah dek..." Balas pak Darso.


"Sudah kamu tumpangi saja, aku ngucapkan terima kasih Dek, " ujar ibunya Mayang dengan wajah tersenyum.


Akhirnya mereka pamit untuk pulang kerumah. Dengan perasaan berbahagia sepasang suami istri tersebut lupa dengan teriknya matahari dan peluh yang membasahi disekujur tubuh keduanya.


Mengayuh sepeda ontel dijalan tanah yang berlubang dan berbatuan. Perasaan mereka berdua larut akan kebahagian bisa bertemu dengan putri kedua mereka.


###


Maaf reader kalau author sering tak update perepisodnya...


Pekerjaan didunia nyata kini memang luar biasanya, sehingga author tak bisa berbagi tulisan seperti dulu.


Semoga masih ada yang setia dilapak author ini dan tetap mengikuti alur cerita Dia Bukan Suami Ku seasons 2.


Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak dan tipsnya yaaaaa


Salam Hangat 💜💜💜


Lemb@yung😍😘

__ADS_1


__ADS_2