Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 210 Simpati Ibu


__ADS_3

Sampai hari ini masih tak mengerti akan ucapan Tuan muda padanya. Mayang memang benar tak mengerti maksud dari lelaki tersebut. Lelaki dengan usia yang terpaut jauh dari dirinya, Galang adalah lelaki dewasa baginya sedangkan Mayang adalah gadis yang baru saja menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA).


"Apa aku harus seumur hidup bekerja dengan Tuan, bagaimana nasib cintaku," ucap Mayang sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Pacaran saja belum pernah, jatuh cinta apalagi!" Batinnya kembali bertanya - tanya, merasa tak terima dengan keadaan ini.


"Tapi hutang harus segera dibayar, namun apakah aku harus terikat seumur hidup?" Ucap Mayang masih dengan kebingungan.


Lamunannya terhenti setelah lelaki yang ada dipikirannya berdiri tepat dihadapanya.


"Hey...Apa yang kau pikirkan?" Tanya Galang dengan menepuk pundak gadis muda tersebut.


"Eh... Tuan, apa ada yang diperlukan? Sahut Mayang dengan senyum khasnya menutupi permasalahannya.


"Buatkan aku kopi seperti dikampung," ujar Galang pada gadis yang ada dihadapannya.


"Baik, Tuan"Jawabnya singkat.


Mayang berlalu meninggalkan Galang yang sedang duduk disebuah kursi ditaman belakang rumah.


Berjalan menuju dapur dan membuat secangkir kopi hitam seperti biasa, Mayang megoreng pisang yang ada didapur untuk teman menikmati secangkir kopi.


Ibu Galang melihat dari jauh apa yang sedang dikerjakan didapur.


"Gadis ini seperti tak pernah capek, ada saja yang dikerjakannya," ucap wanita yang memperhatiannya sedari tadi.


Wanita itu mendekat dan duduk seraya masih memperhatikan gadis dihadapannya. Mayang tak memperhatikan kehadiran majikannya.


Ketika membalikkan tubuhnya, sontak terkejut melihat majikannya yang telah duduk dimeja makan.


"Nyonyah... Ada apa? Apa mau dibuatkan secangkir teh jahe?" Ucap Mayang langsung menawarkan minuman pada majikanya.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan menatap Mayang seakan ada sesuatu disorot matanya.


"Boleh juga," sahut majikannya.


secangki kopi hitam dan secangkir teh jahe serta sepiring pisang goreng hangat.


"Nyonyah, apakah juga akan bergabung dengan Tuan muda ditaman belakang?" Ujar mayang dengan senyum diujung bibirnya.


"Boleh bawa saja kesana, " ucap wanita paruh baya itu seraya berjalan didepan Mayang yang mebawa satu baki berisi pesanan majikannya.

__ADS_1


"Mah... " Sapa Galang setelah melihat kehadiran ibunya.


"Mama juga ingin menikmati senja ini dengn secakir minuman dn pisang goreng buatan Mayang.


Galang menatap Mayang yang sudah berdiri dengan meletakan dua cangkir minuman yang berbeda, serta pisang goreng yang sengaja dibuatnya krispi kemudian ditaburkan keju dan susu coklat diatas pisang goreng tersebut.


"Wajar aja kau lama ya...Ternyata sedang membuat ini, " ungkap Galang dengan mengambil langsung pisang goreng tersebut lalu mengunyahnya.


"Mantap bu..."Seraya menyuapkan kemulut ibunya sebagian pisang yang ada ditangannya.


Mayang sangat terharu melihat Tuan muda yang begitu sayang pada ibunya. Mayang jadi teringat akan keluarganya dikampung.


Galang dan ibunya melihat Mayang berdiam diri terpaku, berusaha menegur gadis tersebut.


"Ada apa?" Tanya majikanya.


"Ingat dikampung Nyah," balas Mayang dengan bola mata yang terlihat memerah menahan tangis.


"Kamu harus kuat ya...Rindu itu sudah pasti, tetapi kamu harus pandai mengendalikan rasa rindu tersebut agar berhasil pada cita - cita mu. Oya...Katanya kamu mau kuliah? " Tanya majikan perempuanya kembali.


Bulir bening tak tertahankan lagi, kini telah jatuh menetes diwajah gadis muda tersebut. Mendengar apa yang disampaikan oleh majikannya.


Ibu galang menjadi bingung melihat gadis muda dihadapannya menangis. Berusaha untuk menghiburnya, dan mencoba untuk mencari tahu apa penyebabnya.


"Tidak Nyah, saya hanya merasa harapan akan cita - cita saya untuk kuliah semakin menjauh dari kenyataan," balas Mayang dengan suara tersedat-sedat akibat dari tangis yang mendera.


"Kenapa demikian? " tanya majikannya kembali dengan lebih penasaran.


"Saya akan lebih mengutamakan keluarga dari pada kebahagiaan saya sendiri, " ucapnya dengan suara pelan dan sangat terenyuh mendengarkannya.


"Baiklah kalau kau tak ingin berbagi dengan ku, " balas majikannya kembali.


Mendengar perkataan gadis tersebut seakan berusaha menutupi beban berat yang sedang dipikul dipundaknya. Mayang kembali menatap dalam wajah majikannya.


"Aku akan bekerja seumur hidup dan mengabdi pada Tuan muda, karena hutang keluarga ku yang harus ku bayar padanya Nyah" Ungkap Mayang dengan polosnya pada wanita dihadapannya.


Wajah ibu berubah, merasa bingung dengan perkataan gadis muda dihadapanya. Ibu melirik kearah Galang meminta penjelasan atas apa yang telah didengarnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Tanya ibunya.


Galang menceritakan semua yang terjadi pada gadis muda tersebut, hati ibu terenyuh dengan kisah keluarga Mayang.

__ADS_1


Dirinya tak percaya bahwa putranya berbuat sedemikian besar untuk menyelamatkan keluarga dari salah satu asisten rumah tangganya.


Ada perasaan simpati diwajah wanita paruh baya tersebut melihat gadis dihadapannya yang sekarang hanya terdiam dengan seribu bahasa.


"Galang kau harus memperbaiki kata - kata mu, " ucap ibunya pada putra semata wayangnya itu.


Galang tersenyum melihat gadis dihadapanya, dia berhasil mengerjai gadis polos itu.


"Mayang, kau tak akan bekerja dengan ku seumur hidup, jika kau mau melanjutkan kuliah. Aku akan dengan senang hati membantumu, "ucap Galang dengan wajah serius menatap gadis yang masih tertunduk.


Mayang mengangkat kepalanya lalu menatap wajah lelaki yang barusan berbicara padanya. Dia masih tak mengerti kemana arah pembicaraan tersebut.


"Jadi...Apa yang Tuan telah katakan akan menjadikan ku istri, agar dapat bekerja seumur hidup itu tidaklah benar?" Mayang berusaha mempertegas maksud dari Tuannya terhadap hidupnya.


Dahi ibu berkerut seakan tak percaya setelah mendengar perkataan gadis dihadapannya, putranya berani berbuat sejauh itu. Terlintas dihati ibunya, bahwa sebenarnya putranya menyukai gadis muda itu.


"Kau pandai sekali Galang..." Ucap ibu untuk sikap dan perbuatan Galang dalam menyelamatkan keluarga Mayang.


"Aku tak akan menjadikan kau istri, kau bisa melanjutkan kuliah mu," ucap Galang pada gadis yang telah merubah rasa dihatinya.


Sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya, sangat berharap Mayang mengetahui akan perasaan sejujurnya pada dirinya.


"Terima kasih...Tuan, atas kebaikan pada ku. Namum aku juga tidak bisa melanjutkan kejenjang Pergguruan Tinggi, karena uangku telah tertarik untuk biaya hidup dan biaya sekolah adik - adik serta menyicil hutang pada Tuan.


Ada senyum sumrigah diwajahnya, dirinya telah merasakan kebahagiaan.


Ibu memandang Galang meminta penjelasan atas perkataan gadis muda tersebut.


###


πŸ˜ŠπŸ™ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:


πŸ’œBoom like sehabis bacaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ’›Komentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya 😊


πŸ’šRate bintang ⭐5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar 🌟


πŸ’™ vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πŸ˜‰dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.


Bergabung digroup chat Author yup πŸ“©

__ADS_1


Author tunggu ya Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan siMbak Hanumnya 😍😎


__ADS_2