Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 193 Kontraksi


__ADS_3

Hanum sedang menikmati buah segar yang dibawa oleh suaminya... Dari atas balkon terlihat pemandangan yang indah diseberang sana.


Rumah Hanum dikelilingi sebuah perkebunan, udara sejuk masih terasa didaerah tempat tinggal Hanum. Terlihat asri dan hijau, menyegarkan pandangan matanya dari atas balkon tersebut.


Rutinitas Hanum hanya rebahan, berjalan disekitar balkon lantai dua dan duduk sambil membaca novel kesukaanya.


Putri kecilnya sangat mengerti sekali, bahkan dia menjadi suster kecil buat bundanya. Mengawasi pergerakan bundanya seperti pesan dari papanya. Menjaga bundanya agar tidak turun naik tangga.


"Bunda...Papa telpon," sapa putrinya sembari memberikan ponselnya yang terletak diatas tempat tidur.


Kemungkinan Fairuz terbangun setelah mendengar telpon genggamnya berbunyi. Setiap tidur siang Fairuz tidur dikamarnya. Dengan alasan menjaga bundanya seperti perintah dari papanya.


Hanum meraih ponsel yang diberikan oleh putrinya. Terdengar suara Bram dari seberang sana.


Setiap hari Hanum selalu meminta Bram untuk membelikan sesuatu sepulang dari kantor. Terkadang yang sangat sederhana permintaanya, tetapi harus Bram yang membawakannya.


Sore ini Bram menunggu telpon dari istrinya, tetapi aneh hari ini sampai waktunya pulang Bram tak mendapatkan panggilan dari wanita yang sangat dicintainya.


Makanya kali ini dirinya yang menelpon istrinya kembali.


"Sayang...Hari ini mau dibelikan apa?" Tanya Bram dengan lembut.

__ADS_1


"Tak ada, aku hanya ingin memeluk dirimu, cepat pulang sayang," sahut Hanum dengan manja.


Bram berbunga - bunga hatinya, Hanum makin hari memperlihatkan cintanya pada dirinya. Sebuah kecupan mesrah dilayangkan Bram melalui udara.


Muaaachhh....


"Baiklah, peluk dan cium teruntuk istriku sayang..." Bram mengakhiri panggilannya.


Hanum tersenyum dan putrinya pun turut tersenyum melihat rona bahagia terpancar dari wajah bundanya.


"Sayang...Bunda haus, minta tolong sampaikan ke Bik Minah buatkan lemon tea hangat buat bunda ya Nak, " Ucap Hanum seraya membelai wajah putrinya.


Putrinya menganggukan kepala dan segera beranjak meninggalkan Hanum menuju lantai satu. Menuju dapur dan mencari Bik Minah untuk meminta membuatkan pesanan bundanya.


Tiba - tiba ia merasakan kram diperutnya, terasa kaku dan sakit sekali. Dicobanya untuk berpegangan pada pinggir dinding.


Rasa sakit itu semakin menjadi, dicobanya berjalan perlahan dengan menahan rasa sakit dibagian ari - arinya. Hanum khawatir jika tidak segera berada diatas kasur maka berkemungkinan ia akan jatuh kelantai, karena kakinya gemetar menahan rasa sakit dibagian perutnya. Dengan tertatih akhirnya sampai diujung tempat tidur dengan peluh sebesar jagung diwajahnya.


Wajahnya pucat menahan sakit yang mendera, seakan ada yang mau keluar dari pangkal pahanya.


Hanum yng masih menggenggam ponselnya segera menelpon Bram. Tiga kali Hanum memanggil namun tak satupun panggilan tersebut terhubung.

__ADS_1


Putri kecilnya yang diminta untuk turun kebawah juga tak kunjung tiba. Hanum semakin tak tahan menahan rasa sakit, Dicobanya berteriak namun karena rumah itu terlalu besar teriakkannya tak terdengar sampai kelantai bawah.


"Tolooong..... Tolooong" teriak Hanum dengan suara lirih menahan sakit.


Bram yang berjalan menuju lantai atas mendengar suara Hanum. Segera ia berlari menuju kearah suara yang didengarnya.


Betapa terkejutnya Bram melihat Hanum dengan keringat sebesar jagung disekitar wajahnya dengan wajah pucat.


"Sayang!" Teriak Bram.


"Perutku sakit, terasa ada yang ingin keluar, tolong aku," ucap Hanum.


Segera Bram menggendong tubuh lemah Hanum menuju lantai bawa serta berteriak dengan keras.


"Pak... siapkan mobil! " Ucapnya pada sopir pribadinya yang baru saja memarkirkan mobil didalam garasi.


Mendengar teriakan majikannya dengan menggedong istrinya Pak sopir dengan secepat kilat kembali kegarasi dan menghidupkan mobil.


"Sayang bertahanlah..." Ucap Bram memberi semangat pada istrinya yang mulai melemah.


Dengan kencang mobil itu berjalan menuju kerumah sakit terdekat. Sesampainya disana Bram panik dan segera berteriak.

__ADS_1


"Tolong cepat istri ku!" Teriak Bram mengagetkan petugas jaga diruang IGD tersebut.


Hanum masuk kedalam ruangan dan segera mendapatkan pertolongan pertama. Bram terduduk dipojok dengan wajsh cemas bercampur aduk. Menghubungi Brian untuk segera datang kerumah sakit dimana istrinya berada.


__ADS_2