
Dengan langkah yang pasti, Pak Darso dengan memakai stelan jas melekat ditubuhnya berjalan menaiki altar dimana proses Ijab Qobul akan berlangsung.
Dengan perasaan gugup dan jatung yang bergemuruh, berusaha lelaki separuh baya tersebut mengendalikan emosinya.
Baru pertama kali ini dirinya hadir disuatu acara dengan dilihati oleh orang banyak. semua mata fokus kearah dirinya sebagai wali dari mempelai perempuan.
Hari ini adalah hari dimana sebagai orangtua menjalankan tugas terakhirnya yaitu menikahkan putri kesayangannya pada seorang lelaki pilihanya sendiri tanpa paksaan darimanapun.
Tanggung jawab sebagai orangtua telah berakhir sampai saat mengantarkan putri mereka pada tahap ini. Kemudian dengan ikhlas meyerahkan putri kesayangan mereka dengan perasaan bercampur aduk kepada sebuah keluarga baru untuk menjadi bagian dari mereka.
Dengan suara teratur dan jelas pak Darso memulai perkataan, menyerahkan Mayang Sari kepada galang Hadi Kesuma dengan mas kawin sebuah cincin seberat 6 gram.
"Engkau ku kawinkan dengan putri kandungku yang bernama Mayang Sari binti Darso dengan mas kawin sebuah cincin seberat 6 gram dibayar TUNAI..." Ucap pak Darso dengan jelas tanpa putus dalam satu tarikan nafas.
Langsung disambut dengan Galang perkataan pak Darso tanpa jeda.
"Aku terima kawinnya Mayang Sari binti Darso dengan mas kawin tersebut." Balas Galang denga satu kali tarikan nafas tanpa putus.
Semua orang yang hadir merasa tegang pada saat detik - detik pengucapan Ijab Qobul tersebut tak terkecuali Mayang yang duduk disamping lelaki yang barusan dengan sekejab menjadikan dirinya sebagai seorang istri yang sah dimata agama dan hukum.
Penghulu berkata "Apakah sah?" Menayakan kepada para saksi didalam pernikahan tersebut.
"Sah... " Ucapan para saksi secara bersamaan.
Serentak semua orang yang hadir mengucapkan "Amin.... Alhamdulillah."
__ADS_1
Rasa tegang dan gugup dapat dikendali oleh Galang dengan baik. Rasa tegang dimata semua orang kini mencair sudah dengan berakhirnya Ijab Qobul yang telah berlalu dalam beberapa detik.
Dengan selesainya Ijab Qobul tersebut maka ditutuplah dengan janji suami terhadap istri dihadapan semua orang serta pembacaan doa dari penghulu nikah.
Mayang dan Galang telah resmi menjadi sepasang suami istri. Ada rona bahagia terpancar diwajah lelaki itu setelah dapat menjalankan sesuatu yang sangat berat didalam hidupnya untuk kedua kalinya.
Dengan menjadi seorang suami dengan tanggung jawab kini berada dipundaknya.
Mayang mencium tangan suaminya dan dibalas dengan ciuman mesra didahi istrinya.
Semua mata merasakan kebahagiaan dari mereka berdua terkecuali wanita - wanita yang bersedih karena harapan mendapatkan Galang telah pupus sudah.
"Selamat sayang... " Ucap ibu ketika kedua mempelai penganti meminta doa dan restu setelah menyelesaikan akad nikah.
Tak terlebih ibu Mayang, ketika kedua mempelai tersebut telah berada dihadapannya dan meminta doa serta restu didalam mengarungi biduk rumah tangga, ibu hanya dapat menangis haru dan bahagia.
Dipeluk dan diciumnya putri kesayangannya itu lalu berkata "Jadilah istri yang sholeha yang menurut pada suami dan menjadi ibu yang baik untuk anak - anak mu kelak."
Kemudian membisikan kembali kepada lelaki yang sekarang telah menjadi putranya dengan berkata "Bimbinglah dia sebagai seorang suami yang penuh dengan kasih dan sayang."
Bulir bening tak sanggup ditahannya, kini telah jatuh dengan deras dan membasahi wajahnya. Kedua adik Mayang yaitu Galih dan Gendispun turut bahagia bercampur dengan sedih melihat saudari perempuannya yang telah menjadi bagian dari keluarga baru bagi mereka.
"Semoga Mbak Mayang masih ingat kita ya Dek, dan mau pulang kekampung melihat kita," ujar Galih pada adik bungsunya itu.
"Amin...Ya Mas," balas Gendis seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Kedua adik Mayang merasa takjub dengan pesta yang diadakan diaula gedung tersebut. Mereka bedua memakan makanan yang enak dan memakai pakaian yang sangat bagus.
Sangat berbeda jauh dari kehidupan mereka dikampung, pada saat hari lebaran saja belum tentu memakai pakaian baru, kalau kedua orangtua mereka memiliki uang untuk membeli pakaian baru tapi kalau tidak maka hanya menggunakan pakaian lama.
Hidup mereka lepas untuk makan saja telah mengucapkan rasa syukur dan tidak mengharapkan sesuatu yang berlebihan.
Melihat saudari dan putri mereka bersanding disana, keluarga Mayang meneteskan bulir bening diujung mata mereka. Larut dalam perasan bahagia dan terharu.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya...ππ
__ADS_1