Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 202 Terpaksa (Part 3)


__ADS_3

Menik menagis tersedu setelah mendengar cerita dari sahabatnya. Tak bisa dibayangkan kalau dirinya yang berada diposisi Mayang.


"Ini telponlah... Akan ku usahakan juga pinjam ke Ayah untuk membantu mu," ucap sahabatnya itu.


Mayang meraih ponsel yang diberikan Menik, menekan nomor yang tertera pada secarik kertas.


Tut.. Tut.. Tut


Terdengar suara nada telpon terhubung pada panggilan yang dilakukannya. Tapi belum ada tanda panggilan itu diterima, dicobanya kembali untuk menghubungi nomor yang sama.


"Bik Ijah mungkin lagi sibuk bekerja, sehingga tak mendengar panggilan dari ponselnya," batin Mayang.


Menik dengan wajah penasaran menunggu sahabatnya bicara dipanggilan tersebut.


Mayang mengangkat kedua bahunya, pertanda tak ada jawaban dari panggilan yang dilakukannya. Hatinya gelisah, apa yang akan dikatakannya pada keluarganya nanti.


"Nik...Gimana ini?" ucap Mayang dengan suara sendu dan wajah yang bersedih.


Wajah Menik tak berbeda jauh, turut merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya.


"Tunggu Ayahku sampai pulang, kita akan bicaara padanya," balas Menik menghibur Mayang serasa ada oase dihatinya.


Mayang menganggukan kepalanya, pertanda setuju dengan perkataan sahabatnya itu.


"Terima kasih sudah membantu ku, Nik." Balas Mayang seraya bulir bening menetes diujung pelupuk matanya.


Mereka berdua berpelukan, merasakan kesedihan yang sama dihati masing - masing.


Pintu kamar Menik diketuk, terdengar suara Ibunya Menik dari luar.


"Masuk Bu," sahut Menik


Ibu Menik terkejut bahwa Mayang ada dikamar putrinya. Sebuah senyuman menghiasi wanita tersebut.


"Kapan datang, Ndok?" Sapa wanita paruh baya itu.


Kedua orang tua Menik sangat menyukai karakter Mayang, mereka senang jika putrinya memiliki teman seperti Mayang.


Sopan, mandiri, penuh tanggung jawab dan menjunjung kehormatan keluarga. Walaupun terlahir dari keluarga tak mampu Mayang pandai membawa sikap.


Walau memakai pakaian yang sangat sederhana, namun terjaga kebersihan dan menjaga penampilannya tak terlihat lusuh dan dekil. Pribadi seorang anak yang pandai menjaga harga diri.


Menik menceritakan kesulitan yang sedang ditanggung keluarga Mayang, Ibunya tersentuh mendengar cerita putrinya.


Menik menyampaikan niatnya untuk membantu Mayang, mengutarakan maksudnya dengan bahasa yang sangat sederhana.


Ibunya terhanyut dalam cerita putrinya, seketika wanita paruh baya tersebut berdiri.


Meninggalkan kedua gadis muda yang saling memandang, mereka berdua bingung pada sikap wanita yang ada dihadapan mereka.

__ADS_1


Menik mengangkatkan kedua bahunya bahwa dirinya juga bingung dengan sikap Ibunya tersebut . Tak berselang lama wanita yang berlalu begitu saja membawa kota dikedua tangannya.


Membuka kotak tersebut dihadapan kedua gadis muda tersebut. Mayang terenyuh menyaksikan apa yang terlihat dipelupuk matanya.


Ternyata kotak tersebut berisikan perhiasan milik wanita paruh baya tersebut.


"Hanya ini yang Ibu punya, jika Ayah mu tak mau meminjamkan uang, maka gunakanlah ini," Ujar Ibu Menik dengan tangis tak tertahankan lagi.


Wanita paruh baya tersebut ikut merasa tak rela jika Mayang menikah dengan lelaki tua seusia Ayahnya.


Mayang lalu mencium telapak tangan Ibu Menik, kemudian menangis haru mendengar kemurahan hati wanita dihadapannya.


Menik merasa bangga mempunyai seorang Ibu seperti Ibunya itu.


"Terima kasih Bu..." Mayang tak dapat berkata - kata karena sangking haru dan bahagianya dihati.


"Sudahlah Ndok, anggap saja kami keluargamu ya..., " balas Ibu Menik dengan mengusap bulir bening yang membasahi wajahnya.


"Sebentar lagi Ayahmu tiba dan akan ku bicarakan perihal mu ini," ungkap Ibu Menik.


"Terima kasih Bu...Ungkap Menik dengan manja menatap Ibunya.


"Mari kedapur ajak sahabatmu untuk makan siang, " seru Ibunya.


Menik menarik lengan Mayang yang sungkan untuk berjalan bahkan berdiri sebelum sahabatnya itu berdiri terlebih dahulu.


Mayang mengikuti saja langkah sahabatnya itu menuju ruang makan. Baru saja memasuki ruang makan tercium aroma sedap dari masakan Ibunya.


Terlihat hidangan yang telah tertata rapi diatas meja makan. Beragam jenis masakan disana yang mengugah selera makan.


Tak pernah dilihatnya dirumah seperti ini, ada perasaan sedih jika Mayang memakan makanan enak sedangkan keluarganya sangat jauh dari kata menggugah selera.


"Galih dan Gedis tak pernah makan makanan seenak ini, sedangkan aku sudah merasakanya dirumah majikanku," batin Mayang.


Asal perut terisi, mereka sudah merasa bersyukur. Ditatapnya saja menu makan yang ada dimeja makan tersebut. Ibu Menik dan Menik menjadi bingung, melihat tingkah Mayang yang terdiam seraya menatap makanan. Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain.


"Ini, coba rasakan masakan Ibu," ucap Ibu Menik dengan meletakan sepotong daging semur diatas piringnya.


Tindakan wanita paruh baya itu menyadarkannya akan lamunan yang terlintas.


"Terima kasih Bu," ucap Mayang dengan mata berkaca - kaca.


"Ayo dihabiskan," Perintah Ibu Menik kembali.


Setelah mereka bertiga makan, Mayang sigap membantu membereskan bekas mereka makan tadi. Dengan cekatan Mayang telah terbiasa bekerja menjadi asisten rumah tangga, mencuci piring yang mereka pakai.


Walaupun Ibu Menik melarang tetapi Mayang tak berhenti untuk membantu membereskan bekas mereka makan bersama.


Terdengar mobil memasuki halaman rumah, Menik segera melihat kedepan rumah.

__ADS_1


"Ayah pulang Bu," teriak Menik.


Ibu dan anak tersebut menyambut kedatangan lelaki paruh baya itu. Termasuk dirinya yang juga berdiri disalah satu sisi diruang tamu.


"Mayang," Sapa lelaki itu setelah melihat kehadirannya.


Segera dirinya mendekat dan mengulurkan tangan untuk memberikan salam. Uluran tangannya disambut oleh lelaki dihadapannya. Segera mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.


"Apa kabarnya? " Dengan tersenyum menatap wajah Mayang.


"Alhamdulillah baik, Pak," jawab singkat Mayang.


Sekarang mereka berempat telah duduk diruang tamu, setelah Ayahnya makan dan berehat sejenak.


Istrinya menceritakan sama persis dengan yang diceritakan Menik putrinya. Terlihat perubahan diwajahnya, sebuah rasa simpati sekaligus kesal dengan sikap renternir tersebut.


"Begini, Bapak akan bantu kamu Ndok, jadi ndak usah khawatir," ucap lelaki dihadapannya itu.


Seketika Mayang bersimpuh dihadapan orangtua Menik seraya meneteskan air mata. Rasa haru dan bahagia, mendengar perkataan dari kedua orangtua Menik.


"Terima kasih Pak, Buk dengan kedua tangan menyembah didadanya, Mayang janji akan menyicil secepatnya setelah kembali bekerja dikota," dengan suara tersendat dan parau akibat isakan tangisnya.


Menik melihat adegan yang sangat mengharukan dan sekaligus meyedihkan itu turut menangis lalu memeluk sahabatnya itu.


"Menik bangga punya orangtua seperti kalian," ucap putrinya dengan memeluk kedua orang tuanya.


Mayang yang masih bersimpuh dihadapan kedua orangtua Menik bangkit karena lengannya diraih oleh sahabatnya itu untuk kembali duduk dikursi.


"Bapak akan mengatarmu Ndok, usai sholat magrib," ujar lelaki paruh baya dihadapanya.


"Trus jangan kau pikirkan masalah uang," ujarnya kembali.


Mayang menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan orangtua sahabatnya itu.


"Aku akan bekerja keras, ku kubur dalam - dalam masalah kuliah ku itu, aku harus membayar uang pinjaman ini," batin Mayang dengan tekad yang kuat.


****


Ibu tak bosan bolak balik dari depan terus kebelakang lagi, menunggu kedatangan putrinya. Rasa cemas menghantui dirinya.


"Ndok...Moga tak terjadi apa - apa dijalan," ucap lirih Ibu Mayang.


Ayah yang melihat istrinya cemas jadi ikutan khawatir dengan anak gadisnya yang sendiri pergi kepasar. Jika sesuai dengan jadwal keberangkatan mobil terakhir yaitu jam 16.00, Mayang harusnya telah sampai dirumah.


Angka dijarum jam mengarah ke angka 9 malam. Betapa tidak khawatir kedua orangtuanya. Mereka tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Berdoa Mbok, moga Mayang selamat, " ucap suaminya dengan penuh rasa cemas.


Istrinya langsung melaksanakan perintah suaminya, dengan menengadahkan kedua tanganya memohon perlindungan dan keselamatan dari Sang Pemilik segala - galanya.

__ADS_1


Dengan serentak terdengar ucapan "Amin..."


__ADS_2