
Akhir - akhir ini entah apa yang menyebabkan tubuh Mayang serasa sakit semua, selera makan tak juga terbuka.
Kepala pusing dan terkadang ingin tidur - tiduran saja di atas kasur. Sudah 3 hari dirinya ijin dari rutinitas kerja dikantor.
"Aku harus kedokter, jika ku biarkan saja tubuh ini maka dengan sendirinya akan bakal tumbang. Aku tak bisa seperti ini, aku harus segera sembuh. Uang tabungan ku sudah menipis dan tak mungkin aku lama - lama ijin dari kantor, ntar bisa - bisa aku dipecat, " besit Mayang didalam hati.
Dicobanya duduk lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dipaksakannya tubuh yang terasa berat untuk bangkit dari tempat tidur dan kepalanya yang dirasa pusing sedari tadi sudah sedikit mereda.
Tak membutuhkan waktu lama, dikenakannya sebuah kemeja berwana biru muda dengan stelan rok yang senada diatas lutut serta sebuah blazer telah terpasang ditubuhnya yang kurus tinggi itu.
"Kenapa rok ku sudah terasa sempit, baru juga empat bulan ku beli. Bakal beli rok baru nih..." Gerutu Mayang.
Mayang harus pandai mengatur keuangan, karena dirinya tak mungkin sebebas dulu dalam menggeluarkan uang untuk berbelanja tanpa perhitungan. Dirinya sadar bahwa sekarang hidup dikota besar sendirian bukanlah perihal yang mudah.
Dilangkahnya kaki menuju halte bus yang tak jauh dari rumah kontrakan. Dirinya sudah empat bulan tinggal disana dan membayar uang kontrakan untuk rumah yang terbilang kecil itu disetiap bulan.
Kini Mayang, sudah tak begitu memikirkan suaminya dan orngtuanya, yang ada didalam hatinya, bagaimana bisa sukses dalam berkarier dan hidup mandiri kota sebesar ini.
Setibanya dikantor, rekan kerjanya yang terdekat langsung menanyakan kabarnya yang tiga hari tak masuk kerja.
"May... Kau sakit apa? Masih terlihat pucat tuh wajah mu. Kalau belum sehat betul, kenapa ga ambil cuti aja? " Ucap rekan kerjaanya yang satu ruangan.
Dimana rekan kerja wanita itu, duduknya bersebelahan dengan kursi tempat Mayang bekerja.
"Yaaa, aku takut saja dicap sebagai karyawan yang malas kalau lama - lama ijin dari kantor, cari kerjaan sekarang susah. Aku takut diberhentikan jika tidak menunjukkan kedisiplinan," balas Mayang lirih seraya tanpa menoleh kelawan bicaranya.
Matanya masih menatap penuh ke layar monitor komputer yang ada didepannya. Dengan sigap dicobanya untuk menyelesaikan tugas yang ditinggalkannya selama tiga hari tersebut.
__ADS_1
"Okee deh...Jangan lupa sarapan dulu..." ucap rekannya memberikan simpati karna melihat kondisi wajah Mayang yang terlihat pucat.
"Siiiap... " Balas spontan Mayang masih tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
Karena begitu banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, Mayang tak menghiraukan saran dari rekan kerjanya. Ketika teman - teman satu kantornya pergi untuk makan siang, dirinya memutuskan untuk tidak ikut pergi dan enggan beranjak dari kursinya.
Diliriknya arlogi ditangan kanannya yang mengarah ke angka 3 sore. Terbesit dihatinya tinggal 1 jam, semua karyawan pasti akan menghentikan pekerjaan dan kembali pulang.
Mayang masih belum bisa menyelesaikan pekerjaanya yang tertumpuk itu, ditambah lagi dateline proyek yang semua dalam waktu bersamaan harus sudah selesai.
Walaupun dirinya telah merasakan pundaknya telah terasa lebih berat ditambah perutnya yang kosong sedari tadi namun Mayang masih memaksakan diri untuk tidak beranjak dari kusri kerjanya itu.
Matanya yang sudah kering menatap layar monitor dikomputer sesekali dikedip - kedipkanya, hanya sebotol air mineral yang selalu stand by dibawah mejanya itu yang diminumnya sedari tadi.
Lalu matanya mulai tak dapat melihat tulisan yang ada dilayar monitor tersebut, tulisan tersebut seakan bersatu membentuk sebuah garis hitam yang panjang.
Dicobanya untuk memijat bagian pelipis mata serta dahinya dan mengoleskan minyak angin kebagian tersebut.
Ketika sudah merasa lebih baikkan Mayang mencoba bangkit dari kursinya dan hendak membuat secangkir minuman hangat.
Namun baru saja beberapa langkah dirinya berjalan menuju pantry.
Bruuuk...
Tubuh Mayang ambruk dan mengagetkan semua rekan kerjanya yang ada diruangan tersebut. Mayang sudah tak sadarkan diri dan tubuhnya telah tergeletak diatas lantai.
Spontan semua karyawan mendekat dan berkerumun, salah satu lelaki langsung mengangkat tubuh Mayang dan membaringkan tubunya disebuah kursi sopa yang panjang.
__ADS_1
"May... May... Mayang!" Teriak rekan wanita yang duduk berdampingan dengan tempat duduk Mayang berusaha menyadarkan dirinya.
Melihat Mayang tak segera bangun dari pingsannya , segera Mayang dilarikan kesebuah klinik tak jauh dari tempat Mayang bekerja. Kini hanya tinggal satu orang rekan kerja wanita saja yang ada menemani Mayang.
Dokter memeriksa Mayang dengan intensif dan berusaha menyadarkan Mayang dari pingsannya. Dengan wajah cemas dan khawatir rekan kerjanya bertanya pada dokter tersebut.
"Dok...Bagaimana teman saya?" Ucapnya dengan lirih.
"Kita tunggu nona ini sadar ya, setelah itu kita akan periksa lebih mendalam," ucap dokter tersebut seraya melakukan tindakan penolongan pertamanya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya...ππ
__ADS_1