
Mereka berdua tengah asik bercanda, keponakan dengan auntinya. Tawa riang menghiasi wajah putri kecil kesayangan semua orang.
"Aunti..." Temani Fay dooong Aunti tinggal disini aja ya? Rengek manja gadis kecil Hanum pada Nina."
Fayruz memang kesepian sepulang sekolah hanya bermain dengan bik Wati atau bundanya. Kehadiran adik bungsu Hanum sangat membuat riang gadis kecil itu.
"Fay sayaang... aunti sekolah ga bisa tinggal disini bareng Fay. Lagian kasihan mbah uti ga da temennya juga, bujuk Nina pada ponakannya."
"Akkhhhh," Sebel aunti Nina ga sayang Fay !!
Putri Hanum ngambek mendengar perkataan Nina, wajahnya merengut dan sangat menggemaskan orang yang melihatnya.
"Mmm Putri bunda merajuk yaa ? Kalau aunti ga masuk sekolah ntar kena marah guru. Fay mau aunti Nina dapat hukuman dari bu guru ?" Ucap lembut Hanum pada putrinya.
Fairuz Menggelengkan kepala pertanda mengerti maksud bundanya.
Semua orang tersenyum dengan melihat percakapan Nina, Hanum dan Fairuz.
Lusa Hani bersama suaminya akan terbang ke negara tertangga. Ayah dan ibu juga ikut serta menemani sepayang pengantin baru tersebut.
Sebuah harapan besar buat kesembuhan Hani diwajah semau orang. Terlebih wajah Brian yang sangat menikmati indahnya menjadi seorang suami.
__ADS_1
Dengan penuh kesabaran Brian merawat dan mengurus istrinya pasca pulang dari rumah sakit. Terlihat jelas kasih dan sayang Brian pada gadis yang masih terbaring diatas kasur.
Kondisi Hani menunjukkan perkembangan lebih baik dari hari kehari tetapi belum memungkinkannya untuk sekedar duduk atau pun berjalan. Hanya bisa bergerak memiringkan tubuhnya kekiri dan kekanan.
Masih terasa nyeri dibagian panggul dan kaki sebelah kanannya. Dengan telaten Brian selalu memberikan krim pada punggung Hani yang timbul bercak-bercak merah dikulitnya akibat terlalu lama berbaring.
Seperti Sore ini Brian membersihkan Hani dengan menyeka seluruh tubuhnya dengan air hangat. Sungguh sangat hati-hati menggerakan bahkan memiringkan tubuh istrinya.
Hani merasa malu, untuk pertama kalinya seorang laki-laki yang melihat hampir seluruh tubuhnya. Brian mengisyaratkan matanya bahwa Hani harus percaya pada suaminya.
Memang tak terlihat dimata Brian keinginan untuk bercinta dengan istrinya, yang terlihat rona wajah penuh kasih dan sayang sebagai suami yang rela berkorban demi kesembuhan istrinya.
"Kak... Maafkan Hani yang belum bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri." Ucap lirih Hani dengan bulir bening diujung matanya.
Dilanjutkan pekerjaanya mengenakan baju buat istrinya setelah selesai membersihkan seluruh tubuhnya.
Memberi bedak pada wajah Hani dan menyisir rambut panjang istrinya dengan penuh kelembutan.
"Kau terlihat sangat cantik....Jangan pernah malu ataupun sungkan dihadapan ku. Sekarang aku suami mu, kesehatanmu menjadi prioritas untuk ku! Dengan tersenyum dan mencium dahi istrinya Brian berkata demikian."
Hani mengeluarkan kembali bulir bening diujung matanya, ada sebuah senyum kebahagian yang dirasakan direlung hatinya yang terdalam.
__ADS_1
"Terima kasih suamiku, aku adalah wanita yang sangat beruntung dicintai oleh mu," ungkap Hani dengan meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan mesrah.
Brian tersenyum ada energi yang mengalir ditubuhnya. Sebuah kebahagian yang tak dapat diungkapkan dengan kata - kata.
Keyakinan yang kuat pada hatinya untuk dapat menyembuhkan secepatnya istri yang terbaring dihadapannya.
Bulir bening menetes diujung mata lelaki itu, dengan menatap wajah istrinya dengan sorot mata penuh harapan kesembuhan bagi wanita yang telah membuat simpul yang sangat kuat dihatinya itu.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
Terima Kasih...🙏🙏
__ADS_1
Salam Hangat Lemb@gung