
Brian memberikan sebuah tiket perjalanan liburan buat Hanum sekeluarga. Bram tlah mengancamnya bahwa tiket itu harus diterima Hanum dan memastikan bahwa ia bersedia ikut keperjalanan liburan yang telah disiapkan Bram.
"Ini wajib Hanum menerimanya kalau tidak habis kau Brian", ancaman Bram saat itu dengan keseriusan.
"Entah apa rencana yang ada dalam pikiran sahabat sekaligus bosnya itu dalam paket liburan keluarga ini", besit Brian dalam hati.
Hanum menolak pemberian tiket perjalanan liburan yang telah disiapkan Bram. Sudah dalam dugaan Bram bahwa Hanum pasti akan menolaknya.
Wanita satu ini menjaga sekali harga dirinya, ia sangat berbeda sekali dengan para wanita yang ada disekeliling Bram. Hanum tidak termasuk wanita yang memanfaatkan keadaan pada seorang laki-laki seperti Bram.
Dimana wanita lain dengan senang hati tanpa penolakan mau diajak liburan bahkan dengan rela mau membuka lebar peluang untuk bisa bermalam dengan pria seperti Bram.
Brian beruntung bisa mendekati adeknya Hanum sehingga bisa membantunya dalam misi penyelamatan dirinya dari amukan Bram jika rencana yang Bram buat gagal.
Hani membujuk kk nya dengan alasan putrinya. Hani tahu benar bahwa kalau sudah menyangkut putrinya maka Hanum tak bisa menolak. Hanum termasuk ibu yang lebih mengutamakan kebahagiaan putrinya dibanding dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah memiliki putrinya. Hari-hari ia habiskan untuk membantu anak-anak panti dan putrinya kesayangannya.
Hanum bahkan tak pernah memperhatikan penampilannya, walaupun demikian masih terlihat paras cantik alami Hanum. Kecantikan alami tanpa polesan make up tebal.
Kepribadian dan sikap sederhana yang dimilikinya telah memikat orang-orang yang mengenal Hanum sehingga wajahnya dengan sendiri terpancar aura alami yang keluar dari kepribadian yang bersahaja.
"Ayolah kak, Fay butuh juga liburan selama ini dia hanya pergi kepanti bersama kk dan kita juga jarang ajak dia ke taman bermain dan ini lah kesempatannya. Lihatlah kalau dia ditaman bermain tu wajah nya langsung ceria apalagi ini ia pasti akan sangat bergembira" ungkap Hani dengan mata meyakinkan Hanum.
Akhirnya Hanum menyetujui paket liburan keluarga itu. dengan wajah yang berseri Hani menatap wajah kakaknya.
"Ini juga buat mu kak, sudah terlalu banyak beban yang kau tanggung selama ini.
Sudah sedari pagi tadi Hanum telah bersiap menyiapkan keperluan berlibur mereka.
"Brian mengatakan tak perlu bawa barang cukup bawa badan kamu aja", ucap Hani pada kakaknya yang juga masih bingung maksud dari ucapan lelaki itu.
__ADS_1
"Trus kamu apa mau beli semua sampai disana? bawa peralatan mu dan beberapa stel baju mu", jawab Hanum dengan mata meyakinkan Hani.
Brian sudah stand by diluar menjemput mereka untuk pergi kebandara. Baru kali ini Hanum dan Hani pergi naik pesawat biasanya hanya bus. Mereka cukup tegang dan terlihat gugup.
"Sudah siap?, ucap brian seraya tersenyum tak lepas dari wajahnya.
Brian menatap Hani seolah kaget dengan tas yang sedang dibawanya.
"Saya kan dah bilang cukup bawa tubuh aja, kenapa bawa tas segede ini? , tanya Brian dengan menatap wajah Hani.
"Kak Hanum ga percaya dengan apa yang ku katakan, dia malah meledek ku akan membeli semua barang setibanya disana. Jadi ya ku ikuti aja perintahnya", jawab Hani dengan muka tertunduk.
Spontan Brian tertawa lepas melihat wajah Hani yang tertekuk kebawah tanda tak berdaya kalau sudah Hanum yang berbicara.
"Baiklah kita turutin aja kehendak kakak mu ketimbang ia batalin tuk rencana liburan ini yang berakibat buruk terhadap ku", ucap Brian setelah tertawa lepas.
__ADS_1
"Maksudnya akibat buruk terjadi pada mu? ,tanya Hani yang masih bingung dengan perkataan Brian.
Brian tak membalas hanya tersenyum tipis menatap Hani dan merasa lega. Selamat dari amukan Bram karena ia telah berhasil membawa Hanum dan putrinya berlibur.