Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 154 Ancaman Clara


__ADS_3

Ingin rasanya Hana menarik paksa wanita yang ada dihadapannya itu. Sesama wanita hatinya geram sekaligus jengkel melihat bahasa tubuh Clara merayu dan menggoda dihadapan Bram.


Istri dari bosnya ini belum begitu dikenal Hana, akan tetapi pastinya akan bersikap hal yang sama dengan Hana jika melihat wanita penggoda seperti itu.


"Hentikan Clara!, aku masih menghargai mu sebagai sahabat dari saudari perempuanku. Tolong jaga batasan mu itu!," Teriak Bram pada wanita yang telah menceritakan hal buruk terhadap istrinya.


Bram kesal mendengar Clara membicarakan Hanum dengan sangat buruk. Dengan emosi Bram berkata: "Cukup kali ini aku mendengar kau menghina istri ku ditelinga ku, kau tak pantas menyamakan istriku dengan dirimu!. Aku bersyukur saat ini kau meninggalkan aku, dan jangan harap aku akan kembali kepada cinta palsumu itu."


Merah padam wajah Clara setelah mendengar perkataan yang barusan dilontarkan kearahnya. Tak menyangka photo yang dikirimkan pada Bram tak menjadi bara didalam rumah tangga Bram dan Hanum.


"Kau percaya wanita itu!, Yang telah mengkhianati mu?, Seakan mengingatkan kembali akan photo mesrah Galang bersama istrinya."


"Pergi...! Tak perlu kau datang kekantor ku lagi!. Satu hal lagi jangan coba - coba menjebak ku dan Hanum melalui photo tersebut.

__ADS_1


Ternyata benih kebencian yang ditabur Clara tak membuahkan hasil, yang ada adalah pukulan telak tepat diwajahnya. Hana yang sedari tadi menyaksikan tepat dihadapannya merasa bangga memiliki bos yang tak bergeming sedikitpun pada wanita seperti Clara.


"Aku tak pernah meninggalkan mu Bram...Aku hanya kembali menyelesaikan kuliahku. Pada saat itu, aku masih terlalu muda memutuskan untuk menikah dengan mu," dengan derai tangis kepalsuan Clara mengeluarkan bulir bening diujung matanya dan berharap Bram luluh hati melihatnya seperti itu.


"Tak perlu kau membela dirimu, aku sudah mengetahui semua alasan kepergianmu itu!," Suara ketus Bram terdengar dengan jelas dan tak terpancing dengan sandiwara tangisannya.


Clara menghentikan tangis palsunya, rayuan dan godaan bahkan sandiwara tak membuat Bram lantas percaya begitu saja padanya.


"Ingat Bram...! Kau akan membayar mahal penolakkan mu terhadap ku!. Aku pastikan kau akan menangis dihadapan ku memohon akan keluarga mu itu," ancam Clara pada Bram.


Seraya menggerutu Clara melangkahkan kaki keluar dari ruang kerja Bram. Dengan wajah penuh amarah dan kekesalan terlihat jelas diwajah cantiknya.


"Pak...Pagi ini bapak ada meeting dengan cabang yang ada dikota X.

__ADS_1


Melihat Bram melamun, segera Hana mengingatkan kembali akan jadwalnya hari ini.


"Baik lah...Persiapkan itu semua," balas Bram.


***


Dering posel Hanum membuatnya terkejut sendiri. Tertera dipanggilan itu nama Ayah.


Segera diraihnya ponsel yang terletak diatas kasur.


"Minta do'anya Nak, adik mu menjalankan hari pertama pengobatan dirumah sakit ini. Sepanjang perjalanan Hani tak mengeluh sedikitpun walaupun kita tahu kondisinya," cerita ayah yang telah tiba dirumah sakit swasta yang ternama dinegara tetangga itu.


"Alhamdulillah..." Hanum turut senang dengan mendapatkan kabar dari ayahnya bahwa saudari perempuannya Hani dalam kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


Ada senyum mengembang terlihat dari wajah Hanum. Sedikit demi sedikit hati Hanum telah terisi cinta suaminya. Kalau bukan karena Bram dan sahabatnya itu, akan sulit bagi keluarganya untuk memberikan pengobatan yang terbaik untuk kesembuhan Hani.


"Terima kasih ya Allah kau memberikan jalan yang mudah bagi hambamu yang lemah dan tak berdaya ini," ucapan syukur meluncur dari mulut Hanum seraya mengangkat kedua tanganya untuk berdoa.


__ADS_2