
Hanum masih bingung dengan apa yang telah diperbuatnya semalam. Sangking paniknya melihat Bram tak memberikan respon dengan suhu tubuh yang sangat tinggi.
Tindakannya membuahkan hasil, pagi ini setelah dirabanya dahi Bram suhu tubuh suaminya sudah mulai menurun tidak sepanas semalam.
Bergegas turun kebelakang untuk membuat bubur ayam dan minuman hangat agar ketika Bram bangun dari tidurnya bisa sarapan lalu berisitirahat kembali.
Semenjak kepergian Brian, sahabat sekaligus asisten pribadinya memang membuat intensitas kerjanya jadi meningkat, terlupakan untuk mengontrol tubuhnya. Hanum sudah sering mengingatkan Bram agar menjaga kesehatannya.
Dan akhirnya Bram tumbang juga, tubuhnya bereaksi seakan brontak dengan sang pemilik tubuh agar menyadari kondisi fisik tubuhnya yang membutuhkan istirahat dan asupan makan yang cukup.
Setelah memasak sarapan Hanum kembali kelantai dua dan mengontrol putri kecilnya. rupanya telah bersiap berangkat kesekolah.
Bik Wati sudah mengurus semuanya.
Hanum melirik ke jam diding yang tertempel disalah satu dinding dikamar Fairuz. Tertera jarum jam kearah angka tujuh pagi.
"Sekolah yang pinter ya sayang, pagi ini Fay diantar oleh Bik Wati. Hari ini Papa tak masuk kerja," ucap Hanum seraya tersenyum dan merapikan bajunya yang sudah rapi.
Putrinya menganggukan kepala pertanda ia mengerti dengan yang dikatakan bundanya.
Fairuz melambaikan tangan setelah mencium bundanya. Hanum tak mengatar putrinya turun dan berangkat kesekolah sampai putrinya masuk kedalam mobil seperti rutinitas setiap harinya.
Bergegas kembali melihat keadaan suaminya dikamar. Berharap Bram masih tertidur sehingga Hanum dapat segera mandi setelah berkeringat menyiapkan sarapan buat suaminya.
Membuka pintu kamar secara perlahan agar tak membangunkan lelaki yang sedang tertidur didalam. Seperti harapan Hanum, lelaki dihadapannya masih tak beralih posisi.
Terlelap dengan nafas teratur yang keluar dari hidungnya. Bram memang memiliki paras yang tampan. Ketika tidurpun masih terlihat ketampananya.
__ADS_1
Tidur dengan posisi terlentang dengan dada bidang dan berotot hanya menggunakan celana boxer. Bram memang pandai berolahraga. Tetapi akhir - akhir ini Bram kurang menjaga kesehatannya dan kurang berolahraga.
Kesibukan kerja yang menyebabkan pulang dalam keadaan begitu capek. Hari weekend dihabiskannya untuk bermalas - malas didalam kamar.
Brian sangat membantu kerja Bram, tapi apalah daya dengan kepergian sahabatnya itu tanpa ada rencana, tiba - tiba harus cuti karena suatu hal yang emergency dan tak mungkin ditolak.
Walaupun ada asisten pengganti Brian yaitu Hana tidaklah secepat dan setanggap sahabatnya itu. Hana masih terkadang lamban untuk melakukan sesuatu tidakan yang membutuhkan keputusan yang cepat.
Maklum Hana takut setiap tindakannya akan berakibat fatal bagi perusahaan dan dirinya jika dilakukan tanpa ada koordinasi dari Brian.
Hanum langsung menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat.Tak lupa melulur tubuhnya dengan lulur kemuning. Kemudian dilanjutkan dengan memakai sabun kembali dengan aroma bunga mawar.
Terlihat wajahnya yang sangat fresh dan seluruh tubuhnya telah kembali bertenaga. Diambilnya baju shordress berlengan pendek dengan warna purple muda. Hanum memasang pakaian dalamnya seraya berdiri didepan cermin.
Memperhatikan tubuhnya sendiri cukup lama didepan cermin tersebut. Hanya menggunakan pakaian dalamnya saja.
Setelah puas berlenggak - lenggok didepan cermin Hanum mengambil pakaian yang dipilihnya. Kemudian dilanjutkannya dengan mengenakan baju seraya duduk dimeja rias sambil memoleskan make up tipis diwajahnya.
Rupanya Bram telah sedari tadi memperhatikan istrinya, wajahnya merona bahagia ketika pertama kali membuka matanya melihat lekuk tubuh istrinya yang sedang berdiri tepat dihadapannya.
Sangking asiknya Hanum tak menyadari itu. Ia tengah asik melihat perubahan dari berat tubuhnya tanpa melihat mata mesum suaminya yang memandang Hanum sejak berdiri didepan cermin.
"Kenapa kau kenakan baju mu sayang..." aku belum puas untuk memandang mu dalam keadaan seperti itu" ledek Bram mengagetkan Hanum.
Wajah Hanum berubah, mendengar suara dari suaminya yang dipikirnya masih tertidur. Rona malu membingkai kembali diwajahnya.
"Aku senang melihat tubuh yang semok! Daripada tubuh yang kurus langsing gitu!, Ntar orang berpikir kau makan hati," ledek Bram pada Hanum seraya tertawa kecil.
__ADS_1
Hanum mendekati suaminya lalu berkata: "Ehmm, kau genit yaaa! Pandai meledek ku, dan sore kemaren mengerjaiku, nah sekarang diam - diam mengintip ku bercermin," ucap Hanum sambil mencubit pinggang Bram yang masih tidur dengan posisi terlentang dengan kedua tanggan mengganjal kepalanya.
"Apanya yang mengintip! Lah itu juga salah kamu sich... Aroma tubuh mu membangunkan ku dan kau sengaja berdiri disana, " ledek Bram kembali.
Senyum mengembang diujung bibir Bram, berhasil mengusili istrinya sendiri. Kini Hanum memadang wajah cemberut yang membuat Bram semakin tergila - gila dan greget pada wanita dihadapanya.
Seketika kepala Bram lalu beralih kepangkuan Hanum yang duduk dipinggir tempat tidur disamping Bram. Seraya memandang wajah istrinya lalu meraih tangan Hanum dan mencium punggung tangan istrinya dengan mesrah.
"Terima kasih telah merawat ku semalam sayang... " Ucap Bram dengan mata penuh cinta.
Tanda senyum membingkai diwajah Hanum, membuat Bram tahu bahwa istrinya juga sangat perduli padanya.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya πdengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
Bergabung digroup chat Author yup π©
Author tunggu ya Reader setia baik yang baru nimbrung atau yang dah berakar dihatinya Babang tamvaaan Bram dan siMbak Hanumnya ππ
__ADS_1