Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 187 Hati yang tersentuh


__ADS_3

Mobil melaju kencang membawa Mayang menuju rumah sakit, terlihat rasa cemas diwajah Galang melihat gadis muda tersebut tak berdaya.


"Pak cepat!" Perintah Galang.


Mobil melaju lebih kencang dan akhirnya masuk kesebuah rumah sakit. Mayang disambut oleh petugas rumah sakit yang siaga 24 jam diIGD.


"Siapa keluarga pasien?" Tanya salah satu petugas jaga tersebut.


"Saya"Jawab Galang spontan.


Petugas menanyakan identitas Mayang yang membuat Galang sedikit kerepotan karena memang dia tidak mengetahui identitas gadis tersebut.


Akhirnya Mayang sadar setelah mendapat penanganan dari pihak rumah sakit. Kini dia dipindahkan diruang rawat inap.


Hanya Galang yang menjaga diruang tersebut. Rasa penat membuatnya tertidur disofa yng ada didalam ruang VIP tersebut.


Melihat Galang yang tertidur disofa, membuatnya sungkan untuk membangunkan.


Dengan perlahan Mayang mengambil infus yang tergantung dan membawanya menuju kekamar mandi.


Tiba - tiba Mayang terpeleset setelah selesai dari kamar mandi. Kakinya yang lemah tak mampu menahan berat tubuhnya.


Bruuuk....


"Aduuh..." Spontan Mayang teriak.


Galang yang sedari tadi tidur terbangun mendengar suara keras dari tubuh Mayang dan jeritannya.


Galang terkejut melihat gadis yang semula baring diatas kasur kini sedang terduduk dilantai.


Secepat kilat Galang berdiri lalu mendekati Mayang dan kemudian menggedong nya tubuh gadis tersebut kembali keatas tempat tidur.

__ADS_1


"Kenapa tak membangunkan ku, " ucap Galang dngan sorot mata cemas bercamour marah.


Mayang hanya terdiam, didalam hatinya 'Tak mungkin dia merepotkan majikannya". Hanya terucap dibibirnya kata Maaf.


"Lainkali bangunkan aku!" Perintah Galang dengan nada serius.


Mayang menganggukan kepalanya pertanda mengerti.


***


Sinar mentari masuk disela - sela tirai jendela. Mengusik mata Galang yang tertidur semalaman diatas sofa.


Terasa sakit - sakit ditubuhnya karena tidak terbiasa tidur seperti ini. dicobanya Direnggangkan tubuh kakunya seraya melirik gadis muda yng tertidur dengan pulasnya.


Begitu sederhana sekali gadis dihadapanya itu. Tanpa polesan apapun wajahnya terlihat sangat menyejukkan matanya.


Terlintas kembali pada saat Galang membawa gadis tersebut kerumah sakit. Petugas menanyakan identitas gadis tersebut.


"Begitu muda, Siapa sebenarnya dirimu?" Batin Galang.


Tiba - tiba mata mereka saling beradu, karena terlena akan wajah gadis tersebut Galang tak sadar bahwa mayang telah terbangun.


"Ada apa Tuan? " Tanya Mayang ketika membuka matanya tertuju pada wajah majikanya.


Galang jadi salah tingkah, ketika terpergok sedang memandang wajah Mayang.


Eemm...


"Aku hanya mengecek dirimu, apakah tidur atau pingsan," jawab Galang menutupi salah tingkahnya.


Mayang hanya tersenyum mendengar perkataan majikanya yang terlihat sekali bohongnya.

__ADS_1


"Tuan, kalau penat pulang saja, saya tak apa - apa kok. Kan ada petugas yang menjaga saya, " ucap mayang karena sebenarnya ia merasa sungkan dan tak enak hati.


Harusnya dia dibayar untuk pekerjaan merawat majikanya, kini malah sebaliknya.


"Tak masalah, lagian aku bosan sudah lama tak keluar rumah. Ga papa aku jaga kau disini," ungkap Galang dengan santai.


"Lebih baik kau cerita tentang dirimu, karena petugas menanyakan identitasmu aku jadi bingung dibuatnya," ucap Galang pada Mayang.


"Baiklah Tuan, maaf kalau sudah merepotkan Tuan muda," balasnya dengan suara lirih.


Mayang mulai menceritakan kehidupanya pada Galang, yang telah siap mendengar cerita dari gadis dihadapannya.


"Aku terlahir dari keluarga miskin, ayahku hanya seorang buruh panggul dipasar dan ibu hanya tukang cuci keliling. Kami empat bersaudara, aku anak nomor dua. Saudara laki - laki ku yang tertua telah lama tak mengirim kabar. Pergi merantau dan sampai kini kami tak mendapatkan kabar sehingga ibu menjadi sakit - sakitan memikirkan anak tertuanya yang menghilang, Mayang menarik nafasnya sejenak lalu melanjukan ceritanya kembali.


*Sekarang akulah yang menjadi harapan kedua orangtua ku, aku harus bantu ayah dan ibu agar kedua adik dibawahku tetap sekolah. Dengan tertatih aku hidup didaerah rantau yang hanya bermodalkan ijazah SMA. Aku sangat beruntung bertemu Bik Ijah pada saat itu. Dengan uang yang tersisa hanya lima puluh ribu, aku harus bertekad mendapatkan pekerjaan*. Bulir bening telah menetes diujung mata Mayang, mengingat moment ia bertemu dengan salah satu asisten rumah tangga Galang.


Galang terenyuh mendengar kisah gadis dihadapannya. menarik nafas panjang agar tak keluar bulir bening diujung matanya.


Mayang menatap langit - langit diruang inap tersebut, kemudian seakan kembali kemasa dimana ia bisa bertemu dengan Bik Ijah yang menawarkan pekerjaan padanya. Bahwa majikannya butuh seseorang untuk merawat anaknya yang terluka.


"Bik Ijah sedang makan disebuah warung nasi, melihat ku diusir oleh pemilik warung karena aku sedikit memaksa meminta pekerjaan walau hanya sekedar tukang cuci piring saat itu. Dengan hati yang hancur mendengar penolakan dari pemilik warung. Aku berjalan meninggalkan tempat tersebut, tetapi dihentikan oleh Bik Ijah.


Suatu anugrah yang dikirimkan Tuhan pada ku sehingga bertemu dengan orang baik seperti Bik Ijah.


Kini mata Mayang berkaca - kaca, membayangkan wajah wanita paruh baya yang diceritakan.


"Begitu keras kehidupan mu dengan usia yang masih muda," batin Galang dengan sorot mata penuh simpatik.


"Baiklah Tuan itu lah kisahku dan keluarga ku," ucap mayang.


"Trus, kenapa Tuan menatap ku begitu?" Ucap Mayang dengan penasaran.

__ADS_1


Tak memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Hanya senyum yang menghiasi diwajah tampanya.


"Baiklah Mayang, semoga kau bisa betah bekerja dirumah, " ucap Galang pada gadis yang terbaring diatas kasur tersebut.


__ADS_2