
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Embun yang menempel didaunan mulai mengering perlahan karena terpaan sinar mentari pagi.
Udara yang tadi terasa dingin dikulit kini mulai menghangatkan tubuh Bram. Hati Bram mulai merasakan kehangatan karena pagi ini Hanum sudah bisa dipindahkan keruang inap.
Ia sengaja meminta petugas untuk memindahkan Hanum diruang VIP yang ada dirumah sakit tersebut. Walaupun Hanum masih dalam kodisi tak sadar.
Bram tatap wajah pucat Hanum dan disentuhnya tangan Hanum yang sangat dingin.
"Terima kasih telah berjuang untuk melahirkan anak ku", ucap Bram pelan dengan tersenyum menatap wajah Hanum.
Bram tanpa sadar mencium kening Hanum dengan lembut dan mesrah yang masih terbujur tak sadarkan diri. Bram tak hentinya menggenggam tangan Hanum.
__ADS_1
Pikiran Bram melayang tertuju pada Dika.
"Kemana laki-laki itu?, besit Bram dalam hati.
Semenjak kedatangan ia kerumah sakit tak melihat sosok Dika ada disini. "Apa yang sedang terjadi kenapa ia biarkan istrinya dalam kondisi melahirkan tanpa menemani". besit Bram dalam hati.
Bram mulai merasakan penasaran sekaligus marah terhadap sosok yang bernama Dika. Terakhir bertemu pada saat ia mengantar Hanum pulang kerumah.
"Bram ku harap kau tak menemui Hanum lagi, biarkan ia lepas dari bayangan mu. Setiap malam Hanum tak bisa melepaskan peristiwa kelam itu. Ia selalu bermimpi merasa ketakutan dan bahkan menjerit jika aku tiba-tiba menyentuh tubuhnya. Padahal aku hanya mau menyadarkanya dari mimpi buruk yangbia alami. Aku mohon agar kau mau mengerti, jika ini terus berlangsung akan mempengaruhi janin yang ada dikandungan" ungkap Dika dengan suara pelan namun penuh kesungguhan.
Dengan menarik nafas yang panjang Dika melanjutkan bicaranya: " Serahkan semua pada ku, kau tak perlu khawatir dengan anak yang ada dikandung Hanum. Aku tahu kau begitu menginginkan anak itu dan juga sangat mencintai dan menyayangi. Begitu juga aku, aku akan menyayangi dan menjaganya seperti aku menyayangi dan menjaga Hanum melebihi diri ku sendiri. Berjanjilah pada ku Bram kau mau mengabulkan permintaan ku", ucap Dika mengakhiri pembicaraanya dengan suara penuh kesungguhan.
__ADS_1
Bram melamun mengingat apa yang telah Dika katakan kepadanya. Bram memegang janji Dika dalam waktu lama sampai pada malam saat ia menginjakkan kaki kekota ini.
Entah mengapa hati dan persaan Bram tertarik kuat untuk menemui Hanum sehingga ia melanggar janjinya pada Dika.
Sekarang Bram mencari sosok tersebut yang ia merasa tidak menepati janjinya untuk menjaga Hanum dan anaknya.
"Kemana kamu Dika, sempat terjadi hal yang buruk terhadap Hanum dan anakku tak bisa ku maafkan dirimu", ucap Bram dengan tangan mengepal menahan emosi.
Perlahan Hanum tersadar dari pingsan yang cukup lama pasca bersalin. Ia membuka matanya memperhatikan sekeliling ruangan berwarna putih itu. Ia gerakkan perlahan jari tanganya yang terasa berat. Rupanya Hanum tersadar bahwa ada seorang laki-laki yang memegang tanganya dengan erat.
Laki-laki itu tertidur tak sadar kalau Hanum telah bangun. Dengan posisi menundukkan kepala menempel pada tepi kasur yang Hanum tempati.
__ADS_1
Hanum tak bisa melihat wajah lelaki itu dengan posisi seperti itu. Sehingga ia berusaha membangunkan lelaki tersebut dengan membelai lembut rambut dari kepala lelaki yang tertidur disampingnya.