
Hampir satu bulan setengah Brian dan Hani pergi liburan sekaligus konsultasi program kehamilan. Mereka berdua menikmati sekali hari - hari disana.
Program hamil disana mereka jalani secara intensif selama setengah bulan dan sisanya mereka habiskan berlibur dinegara tersebut.
Sepulang dari berlibur terlihat begitu jelas, pancaran rona cinta kasih dikedua paras wajah Hani dan Brian. Senyum begitu mengembang diujung bibir keduanya.
Binar dimata Hani menatap suaminya dengan penuh rasa sayang seraya berkata: "Sayang... jika seandainya program yang kita jalankan ini tidak membuahkan hasil juga, maka aku bersedia mencari penggantiku untuk melahirkan anakmu."
Wajah Brian sontak berubah dan timbul amarah terpancar diwajahnya.
"Mengapa kau selalu berkata seperti itu! Sudah ku katakan, aku tak berniat memiliki istri dua! " Ucapnya dengan sorot mata tajam.
Tak pernah sebelumnya Hani melihat wajah Brian seperti itu. Timbul rasa takut melihat suaminya dengan paras wajah seperti itu.
Dirinya diam seribu bahasa tak berani mengeluarkan sepatah katapun lagi. Hani tertunduk tak berani menatap wajah lelaki dihadapannya.
"Ga pernah memasang wajah seperti itu," batin Hani.
Brian benar - benar murka, setelah dalam waktu lama dihabiskan berlibur bersama, namun istrinya selalu mempersoalkan wanita lain. Brian tak pernah terbesit sedikitpun akan ide gila yang disampaikan istrinya.
"Jangan pernah kau ulangi lagi! Bentak Brian dengan nada tinggi menatap Hani yang semakin ketakutan.
"Pandang wajahku, jangan kau sembunyikan seperti itu," teriaknya kembali.
Hani yang sedari tadi menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang telah memucat tak berani memandang wajah suaminya yang begitu tersulut emosinya.
Seketika tubuhnya gemetar, karena tak pernah dirinya diperlukan kasar oleh Brian selama pernikahan mereka.
Pandangnya menjadi kabur dan semakin gelap, tanpa disadarinya kakinya tak dapat menopang tubuhnya lagi.
"Kenapa kepalaku pusing dan pandangan ku menghitam, " batin Hani seraya memegang kepalanya.
Melihat tubuh istrinya yang terhuyung, secepat kilat Brian menyambut tubuh tersebut sehingga tak terjatuh kelantai.
__ADS_1
Wajah Brian berubah menjadi cemas dan menjadi kalang kabut melihat istrinya yang telah tak sadarkan diri.
Sekuat tenaga Brian menggendong tubuh istrinya yang tak berdaya. Dengan jeritan keras dirinya memanggil sopir pribadinya.
"Paaak... Keluarkan mobil, kita kerumah sakit sekarang! Teriak Brian dengan wajah pucat memandang wajah istrinya yang pucat pasi dengan tubuh lemah.
"Ba... Ba.. Baik Tuan" Jawab sopir pribadinya yang datang dengan wajah terkejut melihat kondisi majikannya tersebut.
Baru saja mereka sampai kerumah dari perjalanan jauh kini harus kembali keluar rumah dengan kondisi Hani yang tak sadarkan diri.
🍂🍂🍂
Perjalanan Menuju Rumah Sakit
"Sayang... Bangun sadarlah, " Teriak Brian seraya menepuk lembut pipi istrinya.
Terlihat jelas kekalutan diwajah Tuannya. Sopir yang sedari tadi memacu kendaraannya sesekali melirik kearah spion tengah untuk melihat keadaan majikan perempuannya yang masih terkulai lemas dipangkuan suaminya.
"Sayang maafkan aku, kenapa jadi seperti ini," ucap kesal Brian pada dirinya sendiri.
"Aku mencintai mu, sungguh dengan segala keadaan mu!" Teriaknya kembali.
Derai air mata tak dapat ditahannya, wajah tampan Brian terbasahi dengan bulir bening yang telah menetes deras diujung matanya.
"Tuan kita sudah sampai," ucap sopir seraya memutar membukakan pintu untuk majikannya tersebut.
Dilarikannya tubuh istrinya tersebut ke UGD dan disambut dengan cepat oleh petugas kesehatan yang stand by disana.
"Tolong istriku, tiba - tiba dia pingsan," ucap kalut Brian seraya meletakkan tubuh istrinya pada tempat tidur.
Dengan cekatan Hani diberi pertolongan oleh petugas rumah sakit dan dibawa kedalam ruangan khusus tak jauh dari pintu masuk UGD tersebut.
Kini Brian terduduk lemas, menyesali dirinya yang menyebabkan Hani menjadi seperti itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, jika terjadi yang buruk maka seumur hidup aku tak bisa memaafkan diriku sendiri," batinya didalam hati.
"Tuan...Kendalikan dirimu," ucap pak sopir yang sedari tadi memperhatikan majikannya yang seperti orang gila karena sangking paniknya.
Lelaki tua yang menjadi sopir pribadi Brian adalah orang yang telah lama bekerja denganya. Dirinya tak pernah melihat majikannya sekalut ini.
Diraihnya tangan majikannya selayaknya putranya yang sedang dirundung kesedihan.
"Ayo duduk disini, Tuan!" Perintah lelaki tua yang menjadi sopir pribadinya.
Brian mengikuti saja tarikan tangan lelaki itu mengajaknya berdiri dan duduk dikursi di koridor depan ruangan dimana Hani berada didalamnya.
"Berdoalah Tuan, semoga tidak terjadi hal yang buruk terhadap Nyonyah," ujar sopir pribadinya kembali.
Brian menatap dalam kearah lelaki tua yang ada dihadapannya. Tatapan matanya kosong memandang lelaki tua itu.
🌴🌴🌴
Diruang UGD
"Dok...Tensinya terlalu rendah," ucap petugas yang memeriksa Hani.
"Ambil darahnya dan cek segera! " Perintah dokter yang menangani Hani.
Didalam ruangan tersebut, dokter dan petugas kesehatan bekerja dengan cepat. Mereka berusaha secepatnya menyadarkan pasien yang tak sadarkan diri.
Memberikan tindakan secara medis secepatnya agar tak memperburuk keadaan pasien.
###
Jangan lupa like jika suka dan beri komentar yang membangun ya Reader 😊
Author Tunggu...
__ADS_1
Plizzz votenya dong... 🙏🙏🙏