
Tanpa iba kedua Centeng Darmin menarik paksa tubuh muda Mayang keluar rumah.
"Hentikan Darmin! Teriak keras ayah seraya mencoba melindungi putrinya.
"Kau jangan sombong! Mana mungkin bisa secepat itu kau mendapatkan uang untuk membayar hutang - hutang mu, jika tidak menjual anak perawan mu itu! "Hina Darmin pada keluarga Mayang.
"Kau bicara ngawur..." Sergak Ayah yang tak dapat menahan emosinya.
Semua tetangga keluar melihat keributan yang terjadi dipagi ini. Tak ada satupun yang mencoba membantu. Mereka tahu siapa Darmin, dengan kekejamannya.
"Lihat semua orang pada keluar, silahkan dengar baik - baik! Darso telah menjual putrinya untuk membayar hutangnya padaku! Fitnah Darmin pada keluarga Mayang yang didengar oleh tetangganya.
Refleks ayah Mayang memukul wajah Darmin, dan meraih tangan putrinya yang sedari tadi dicengkram dengan erat oleh Darmin.
Tubuh lelaki itu terpental, pukulan telak mendarat diwajah lelaki mata keranjang tersebut.
Kedua Centeng itu lalu merangkul Darso lalu terjadilah perkelahian tak imbang antar dua Centeng dengan ayah Mayang.
Tubuh ayah tak mampu untuk melawan dua lelaki yang berbadan kekar, darah segar keluar dari ujung bibirnya.
"Bapak...Hentikan ku mohon," Teriak Mayang memeluk ayahnya yang telah tergeletak ditanah didepan rumahnya.
Tetangga yang melihat tak mampu memberi bantuan, mereka hanya menonton dengan hati terenyuh. Tak berani memberikan pertolongan apalagi perlawanan atas adegan yang mereka lihat.
Ibu Mayang menangis tak hentinya melihat suaminya yang babak belur dibuat oleh kedua lelaki berbadan kekar tersebut.
Dengan senyum kemenangan Darmin menyunggingkan ujung bibirnya seakan menghina.
"Beraninya kau..." Teriak Darmin dengan memukul kembali ayah Mayang tepat pada bagian perutnya.
Arghhh....
Suara rintihan ayah terdengar pilu dan menyayat hati Mayang dan ibunya. Mayang memohon ampunan pada lelaki tua tersebut dengan kedua tangan menyembah didadanya.
Darmin meraih tangan gadis itu lalu menyentuh dagu gadis muda dihadapannya dengan kuat seraya berkata : "Kau harus menebus semua tindakan orangtua mu..."
Dengan sorot mata mesum dan penuh kelicikan, Darmin menatap gadis muda yang tak berdaya.
Ketika Darmin menarik paksa tubuh Mayang tiba - tiba terhenti. Dengan sigap tangan tersebut menepis sentuhan lelaki tua itu pada tubuh Mayang.
Mayang terkejut, dirinya tak percaya dengan seseorang yang berdiri tepat dihadapanya. Lelaki itu memukul Darmin tanpa ampun.
Kedua Centeng itupun babak belur dibuat oleh lelaki yang memiliki keahlian bela diri tersebut. Roboh satu persatu ketanah, dengan menarik nafas teratur lelaki dihadapan Mayang tersenyum.
__ADS_1
"Tuan..." Sapa Mayang
Darmin yang terduduk ditanah seraya menahan sakit diseluruh tubuhnya berusaha berdiri, dengan memegang wajahnya yang lebam karena bekas pukulan ayah Mayang.
"Siapa kau... Kenapa kau ikut campur urusan kami!" Gertak Darmin pada lelaki yang ada dihadapannya.
"Gadis yang kau perlakukan buruk itu adalah calon istriku, ucap keras Galang yang meyakinkan Darmin.
Mayang terkejut, terlebih lagi keluarganya dan tetangga yang masih menonton adegan heroik Galang melawan dua orang Centeng Darmin.
"Berapa hutang keluarga ini pada mu! Ucap tegas Galang.
"Aku akan membayarnya sekarang juga," Ucap Galang kembali.
Dengan tersendat Darmin mengatakan jumlah nominal hutang yang tersisa dari pinjaman ayah Mayang tersebut.
Setelah mendengar nominal uang yang dikatakan lelaki tua dihadapannya, Galang meminta asistennya Bintang untuk memberikan uang yang ada didalam tasnya.
Bintang berjalan mendekati Galang dengan menggengam dua ikat uang berwarna merah bergambar presiden pertama itu, Diserahkan uang itu pada sahabatnya sekaligus pimpinannya itu.
Dua ikat uang bergambar presiden berwarna merah dilemparkan begitu saja didepan wajah lelaki tua tersebut.
"Itu ku lebihkan atas jumlah hutang mereka, Jika kau masih mengganggu keluarga ini, maka kau akan berurusan dengan ku lebih lanjut.," gertak Galang yang telah menciutkan hati Darmin.
Galang dan Bintang berusaha membawa ayah Mayang memasuki rumah, cukup parah luka ditubuh ayah Mayang. Ibu dengan sigap mengambil kompres dan minyak urut agar luka lebam disekujur tubuh ayah dapat mengempes.
"Terima kasih tuan, " balas Mayang yang begitu banyak rasa penasaran dihatinya.
Mengapa tiba - tiba majikanya ada disini, dan dari mana mendapatkan alamat tempat tinggalnya. Bik Ijah yang dekat dengan dirinya saja tak pernah diberi tahu Mayang.
Lamunan Mayang terbuyar dengan perintah ibu padanya.
"Ndok... Buat minum untuk tamu kita ini, " perintah ibu pada Mayang yang sedari tadi berdiri terdiam melihat ayahnya yang terbujur diatas dipan kayu diruang tengah.
"Eh Ya... Baik Mbok," ucap Mayang dengan berlalu menuju dapur.
"Maaf Den, beginilah keadaan kami, silahkan duduk," ucap ibu dengan ramah memperlakukan tamu yang ada dirumahnya.
Galang dan Bintang melihat begitu sangat tak menduga, bahwa sederhana sekali tempat tinggal Mayang. Mereka berdua tak menyangka kehidupan Mayang sedramatis ini.
Dari segi penampilan Mayang tak terlihat lahir dari keluarga yang tak mampu, karena bisa menjaga penampilannya dengan pakaian sederhana yang tak terlihat kumuh, dekil dan tak terawat.
Begitu juga rumah tinggal kecil ini, walau hanya berdinding bambu dan beratap jerami terlihat asri dan bersih. Sangat terasa nyaman ketika memasuki kedalamnya.
__ADS_1
Tak begitu lama Mayang telah kembali dengan minuman diatas baki. Dua cangkir kopi hitam ditemanin dengan ubi goreng hangat.
"Maaf... Tuan, hanya ini yang bisa kami dihidangkan," ucap Mayang seraya meletakkan dua cangkir kopi dan ubi goreng diatas meja bambu.
"Terima kasih, " ucap Bintang.
Galang masih terpesona dengan wajah gadis muda dihadapannya, pikiranya terlintas atas kejadian tadi. Kalau sempat terlambat dirinya datang entah apa yang dilakukan lelaki tua yang memiliki sorot mata penuh nafsu pada gadis dihadapannya ini.
"Tuan, Terima kasih sekali lagi, kalau tak ada Tuan entah hal buruk apa yang terjadi pada diriku," ucap Mayang dengan wajah sedih dan berusaha menahan Bulir bening agar tak jatuh diujung pelupuk matanya.
Bintang menyetuh pundak Galang, membuyarkan lamunan sahabatnya itu. Menyadarkan Galang bahwa Mayang sedang berbicara padanya.
"Apa..." Ucap Galang yang tak mendengar pembicaraan gadis yang sedari tadi hanya dipandangnya.
Mayang mengulangi kembali perkataanya sehingga Galang merasa dirinya telah memberikan kebaikan pada gadis tersebut.
"Alhamdulillah, aku bisa segera membantu mu dan keluarga mu dari lelaki yang tak tahu malu itu," ucap Galang yang masih merasa kesal terhadap tiga orang laki - laki tersebut.
"Kenapa tak memberitahu ku kalau kau pulang kampung?" Tanya Galang dengan penasaran menatap wajah Mayang dengan serius.
"Maaf Tuan, pada saat kepergian itu, aku berniat memberitahu Tuan, tetapi aku tak mendengar sahutan Tuan dari dalam kamar ketika ku ketuk pintu kamar Tuan beberapa kali," ucap Mayang dengan alasan tersebut.
"Baiklah kakau begitu, " tukasnya kembali.
"Saya juga sudah berniat untuk kembali bekerja Tuan, siang ini," balas Mayang yang merupakan hal yang ingin didengar Galang.
"Bagus, kau bisa pulang bersama kami, " ungkap Galang dengan senyum lesung pipi yang terlihat diwajahnya.
###
Hy Reader setia, jangan lupa klik jempol manisnya setelah membaca.
π₯π₯π₯
Plus rate bintang lima dan komentarnya.
π’π’π’
Jangan lupa vote sebanyak - banyaknya...
π₯π₯π₯
β€Salam Hangatβ€
__ADS_1
ππLemb@yung ππ