
Dengan pakaian kantor yang masih menempel ditubuh, Bram tak ingin sedetik pun ia pergi sekedar berganti pakaian.
Wajahnya masih diliputi kegelisahan dan kecemasan jika belum bertemu langsung dengan Hanum. Walaupun dokter telah mengatakan bahwa Hanum telah melewati masa kritis nya.
Ia masih setia menunggu didepan ruangan dimana Hanum ada didalamnya. Duduk terdiam dan tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Tanpa disadari Bram, putra bungsu bude sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya.
Ibu bersama bude duduk dikoridor berdampingan dibangku pas sekali posisinya berhadapan dengan ruangan Hanum.
Bude memecah kesunyian dan berkata: " Ibu sebaiknya pulang istirahat sebentar, sekaligus membawa barang keperluan lain yang terlupakan tadi. Biarkan lelaki itu bersama putra saya disini menjelang pagi".
Bude melihat wajah ibu yang letih dan kurang tidur. Merasakan kekhawatiran akan terjadi sesuatu pula pada orangtua Hanum karena ibu Hanum juga tidak muda lagi dimana sudah tidak memiliki fisik tubuh yang tidak kuat lagi.
Akhirnya ibu mengikuti saran bude karena dia juga merasakan apa yang dikatakan bude tersebut. Tinggalah Bram bersama putra bungsunya.
"Maaf kalau boleh tahu, apa hubungan tuan dengan mbak Hanum?, ucap putra bungsu bude yang sedari tadi penasaran dengan lelaki disampingnya itu.
__ADS_1
Ia meyakini ada hubungan yang sangat dekat dan kuat melihat tingkah laku Bram mulai dari ia ada didepan rumah Hanum.
Terlihat sekali diwajah lelaki itu kecemasan dan kekhawatiran terhadap Hanum. Ini yang membuat putra bungsu bude semakin penasaran maka ia beranikan diri untuk bertanya pada lelaki yang ada disamping nya itu.
"Anak yang dikandung nya adalah darah daging ku", ucap Bram dengan nada sedih.
Bagai mendengar suara petir putra bungsu bude terkejut mendengar perkataan lelaki itu ditelinganya. Wajahnya berubah dari rasa penasaran menjadi pucat.
Putra bungsu bude bertanya dengan suara terbata-bata untuk meyakinkan bahwa Hanum yang dimaksud lelaki itu
Bram menganggukkan kepala pertanda memang benar yang dimaksud adalah Hanum.
Ia tak beranikan diri untuk bertanya lebih dalam. Pasti ada suatu cerita besar dibalik ucapannya tadi.
Sekarang mereka berdua terdiam kembali dengan udara dingin menjelang subuh yang menebus pori-pori kulit.
__ADS_1
Dering telpon dari ponsel Bram mengusik kebisuan diantara mereka berdua. Bram meraih ponsel yang ada disaku jasnya.
Tertera nama Brian dipanggilan tersebut. Bram bingung kenapa dijam orang masih terlelap tidur Brian menghubungi nya.
Rasa cemas bertambah dengan adanya panggilan telpon dari Brian. Bergegas Bram. mengangkat panggilan tersebut.
"Bram kamu dimana?, beberapa kali aku menelpon dirimu tapi tak kau anggkat", tanya Brian dengan nada cemas dan penasaran.
Bram menceritakan apa yang terjadi pada nya setiba dikota ini. Ternyata tak ada kabar buruk yang disampaikan Brian kepadanya. Hanya kekhawatiran sahabatnya itu ketika ponselnya tak bisa dihubungi.
Bram tidak akan menghadiri pertemuan lanjutannya pada anak perusahaannya yang ada dikota ini. Ia meminta Brian untuk menggantikan nya karena ia tak ingin jauh dari Hanum sebelum ia benar memastikan kondisi Hanum.
Brian merasa turut bahagia mendengar sahabatnya memberitahukan bahwa Hanum telah melahirkan. Bram meminta Brian bersama orangtua Bram untuk terbang kekota ini.
Bram Berpikir bahwa kedua orangtua nya akan turut bahagia mendengar kelahiran cucu mereka. Walaupun ia belum mengetahui Hanum telah melahirkan seorang putri kecil dengan mata dan hidung duplikat dari dirinya.
__ADS_1