
Dengan muka sembab dan bulir bening yang selalu jatuh di pipi Hanum. Berusaha untuk tegar menghadapi ujian ini. Terlintas kembali wajah adik tengahnya yang masih tak merespon ketika disentuh tubuhnya.
Melihatnya terbaring kaku dengan sekujur tubuh yang dingin dan wajah yang pucat. Hanya terdengar suara dari alat yang terpasang ditubuhnya.
Hanun tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Ditariknya nafas panjang dan dibuangnya dengan hembusan yang kuat seakan membuang beban berat yang sekarang dirasakannya.
"Hanum." Terdengar suara lelaki yang tak asing ditelinganya berjalan kearahnya.
Sebuah sentuhan lembut telah mendarat dipuncak kepalanya. Terlihat suaminya telah hadir disini. Masih dengan pakaian kerja yang melekat ditubuhnya.
Pesannya yang ditinggalkan telah di sampaikan oleh Bik Wati, karena tak berselang waktu lama Bram sudah ada dirumah sakit. Dipeluknya dengan erat tubuh suaminya seakan meminta kekuatan dari kehadiran Bram disaat ini.
Tertumpah dengan deras air mata Hanum membasahi dada bidang suaminya. Bram sangat mengerti bahwa istrinya sangat terpukul atas kecelakaan yang menimpa adiknya itu.
"Menangislah...Keluarkanlah beban mu yang menyesak hati dan pikiran mu sayaaang," bisik Bram ditelinga istrinya seraya memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya.
Brian hanya terpaku melihat adegan didepannya yang sangat menyayat hatinya.
"Dimana Hani?" Dengan suara pelan Brian bertanya terlihat mata yang memerah menahan tangis.
__ADS_1
Hanum hanya menunjuk dengan jari telunjuknya kearah dimana adik tengahnya yang sedang terbaring tak berdaya dalam keadaan bertarung nyawa.
Brian melangkahkan kakinya dengan perasaan berkecamuk dihatinya menuju ruang yang ditunjuk Hanum. Tak pernah dibayangkan gadis muda yang energik telah terbujur diatas kasur dengan semua alat yng menempel ditubuhnya.
"Heyyyy, kau sedang berpura-pura dengan ku yaaaa. Akan ku tarik telinga mu itu sehingga kau mendengar ucapanku! Mana suara mu yang selalu mengejekku pria tua tanpa pasangan. Bangunlah aku ada disini! Aku ingin mendengar kau mengejek ku gadis ingusan! Atau kau sudah mengalah pada ku! Dengan menggenggam tangan Hani yang dingin seperti sebongkah es," Brian berbicara seakan Hani mendengarkannya.
Brian tertunduk tak bisa ia tegakkan kepalanya menatap wajah pucat Hani dengan selang oksigen dihidungnya.
"Belum sempat aku menyatakan kalau kau telah mengangguku disetiap hari ku, rasa rindu yang selalu menghantui diriku jika tak bertemu dengan mu serta sikap kesal dan jengkelmu yang selalu membuat ku tersenyum jika mengingatnya itu. Kini kau terbaring tanpa merespon ku Hani! Ku mohon bangunlah sayaaang, aku tak ingin kehilangan dirimu," ucap lirih Brian dengan bulir mata yang telah jatuh diujung matanya.
Sebuah gerakan pelan terasa ditangan Brian, diliriknya wajah Hani yang berusaha membuka matanya. Brian terkejut dengan respon yang diberikan Hani pada nya.
"Berjuanglah buka mata mu, lihat aku ada disini," dengan mencium lembut punggung tangan gadis yang terbaring dihadapan.
Sebuah senyuman terukir diwajah lelaki itu.
Seperti bangun dari tidur yang panjang dan mimpi yng sangat lama. Hani mendengar ada seseorang yang memanggilnya didalam tidurnya.
"Suster pasiennya telah sadar," dengan wajah histeris Brian berbicara dengan perawat penjaga diruang ICU tersebut.
__ADS_1
Brian lantas keluar ruangan karena tindakan yang akan dilakukan dokter untuk Hani yang baru mengalami kesadaran setelah lebih dari 24 jam.
"Bram sekarang Hani telah sadar," teriak Brian pada sahabatnya itu yang sedang menenangkan istrinya.
Dengan wajah tersenyum Hanum dan Bram saling menatap bahagia. Ada gurat harapan diwajah mereka berdua untuk Hani. Tak terlebih bagi Brian yang merasakan kebahagian yng sangat luar biasa dihatinya terpancar dari senyum yang tak lepas diwajahnya.
Rona kebagaian terlihat jelas diwajah lelaki yang sangat merindukan Hani disetiap harinya.
###
Like 👍👍
Komen 📩
Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟
Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤
Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢
__ADS_1
Terima Kasih...🙏🙏
Salam Hangat Lemb@gung