
Semua yang hadir pada saat ini saling berpandangan. Mereka binggung dan sekaligus penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga mempelai pria meninggalkan proses akad nikah begitu saja.
Wajah ayah dan ibu tertunduk. Mereka tak mampu mengangkat wajahnya didepan semua keluarga yang hadir. Bahkan beberapa tetangga yang juga ikut diundang hadir pada acara akad nikah ini.
Ayah dan ibu mendengar bisikan dan obrolan kecil tentang Hanum. Membuat darah ayah mendidih dan emosinya tak tertahankan lagi terlihat dari gengaman tanganya yang mencoba menahan amarahnya.
"Apa yang kau perbuat telah mencoreng nama baik keluarga ku", besit ayah dihati.
Dika mengenggam tangan Hanum dengan erat menuju ruang dimana proses akad nikah itu akan berlangsung.
"Om ijinkan saya menikahi Hanum dengan mahar sejumlah uang ini", ucap Dika dengan mata berkaca-kaca dan memberikan semua uang yang ada didalam dompetnya.
Semua yang ada didalam ruangan itu dibuat tambah terkejut lagi. Terlebih ayah Hanum yang semula menundukkan kepalanya kini menatap wajah Dika. Begitu juga dengan ibu yang sedari tadi mengeluarkan bulir bening diujung matnya tanpa suara.
"Apakah syaratnya sah pak penghulu?, tanya ayah dengan hati yang hancur.
"Ya ada pempelai pria dengan maharnya", ucap pak penghulu.
__ADS_1
"Baiklah bagaimana dengan mu Hanum apakah kau bersedia? tanya ayah denhan raut wajah bersedih.
Hanum menganggukan kepala pertanda ia setuju. Proses akad nikah pun berlangsung dengan hikmat. Dalam hitungan menit Hanum sah menjadi seorang istri.
Semua peristiwa menegangkan yang barusan terjadi kini perlahan mencair. Seluruh keluarga mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin.
Hanum yakin akan tindakannya menerima keputusan kk sepupu nya yang kini menjadi suaminya. Tidak ada raut penyesalan diwajahnya. Hanum hanya yakin ini semua sudah takdir dan akan ada hari dimana ia akan benar bahagia dengan keputusan nya ini.
**************************************
Pikiran Galang berkecamuk tak tentu arah. Ia meminta sopirnya untuk melaju kencang mobil yang dikemudikannya.
Segera ia mencari ruang yang dimaksud suster yang ia tanyakan tadi. Terlihat ibunya terbaring diatas tempat tidur.
"Mengapa ibu senekat itu? ucap Galang seraya menggenggam tangan ibunya lalu meneteskan bulir bening yang jatuh tak tertahankan.
"Nak Galang, biarkan nyonya istirahat", ujar mang Jajang.
__ADS_1
Kemudian Galang teringat akan Hanum yang ia tinggalkan begitu saja. Tanpa kata sepatah katapun pada Hanum.
Ia meraih handphone yang ada disaku celananya dan mulai menekan mencari nama kontak Hanum.
Tiga kali ia menghubungi kontak Hanum namun tak ada balasan dari telpon yang dihubungi. Kemudian ia beralih pada nomor kontak Dika dan ayah. Akan tetapi kedua nomor kontak yang dihubungi Galang juga tidak mengangkat panggilan.
Hatinya mulai kalut dan pikiran buruknya terlintas dikepala lalu mencoba menghubungi adik Hanum yaitu Nina.
Panggilan diterima terdengar suara dari seberang sana.
"Nina kecewa dengan kak Galang", ungkap Nina diawal panggilan itu.
"Nina berikan telpon pada kk mu", perintah Galang pada Nina
"Baiklah", ucap Nina singkat dan kesal.
Galang memberikan alasan pada Hanum mengenai kepergian nya secara tiba-tiba. Hanum tak memberikan respon sama sekali. Dia hanya mendengarkan Galang berbicara menjelaskan melalui telpon.
__ADS_1
Setelah puas Galang memberi tahu alasannya barulah Hanum mengeluarkan kata dari mulutnya : " Jangan pernah hubungi aku lagi", ungkap Hanum dengan suara datar dan mengakhiri panggilan.