
Bulir bening menetes diujung mata meninggalkan lara dihati, yang kini kian hari menjadi semakin perih.
Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dibibirnya selalu menari - nari dipikirannya yaitu akan kehadiran seorang bayi dirahimnya.
Hani berdiri dengan tatapan mata yang kosong, menatap jauh kelangit disore itu. Sinar Sang surya yang berwarna kuning keemasan diufuk barat memberi kesan akan bergantinya masa dengan pekatnya malam.
Cukup lama dirinya terpaku dan terdiam seorang diri, pikirannya berkecamuk dihatinya. Sekilas terlintas akan keputusasaan dari tatapan matanya yang kosong.
"Aku tak akan mungkin membiarkan Brian tak memiliki penerus, sebagai seorang suami dia adalah suami yang sempurna. Terlalu baik terhadap ku, dengan kesabarannya membuatku pulih seperti ini," batin Hani didalam hatinya.
"Belum aku pinta saja, dirinya telah mengerti apa yang aku butuhkan," ucapnya lirih dan sendu.
Hani begitu tertekan akan keadaan yang belum juga memberikan keturunan sampai saat ini. Walaupun demikian Brian tak pernah mendesak atau menuntut dirinya bahkan tak mempermasalahkan tentang hal tersebut.
Atas keadaan istrinya yang belum juga melahirkan satu orang anakpun dari rahimnya, tak membuat lelaki tersebut berkata kasar bahkan dengan sengaja untuk menyindir harga diri istrinya sebagai seorang wanita. Brian tak pernah berbuat hal yang demikian.
Dengan kasih sayang Brian memperlihatkan semua baik - baik saja, perkataan dan sikapnya terhadap Hani dengan tulus dan ikhlas.
"Nyah... " Ucap asisten rumah tangganya yang tiba - tiba mengagetkan dirinya.
"Ya...Bik, ada apa?" Balas Hani dengan menatap wajah wanita paruh baya dihadapannya.
"Tuan sudah pulang, dan sekarang mencari Nyonya," ungkap wanita tersebut.
Hani berlalu dari hadapan wanita yang telah memberikan informasi bahwa suaminya yang berada dikamar lantai dua.
Dilihat suaminya tengah memakai baju, sepertinya Brian telah selesai mandi, selepas pulang dari kantor.
"Kak, ada apa?" Tanya Hani seraya mendekati lelaki yang berdiri tepat didepan tempat tidur yang ada dikamar tersebut.
"Ada yang ingin ku bicarakan," jawabnya dengan pandangan mata serius menatap istrinya.
"Ada apa?" Jawab Hani dengan penuh keingin tahuannya.
__ADS_1
"Ada temanku mengikuti program kehamilan di luar negeri dan hasil akhir istrinya positif dapat melahirkan seorang anak. Bagaimana kalau kita mengikuti jejak mereka sayang... " Ungkap Brian dengan sorot mata yang teduh namun meyakinkan.
Brian merasa sedih walau Hani sering menutupi semua yang dirasakan dari dirinya sebagai seorang suami. Bahkan pekerjaaan yang mesti dilakukannya, terkadang membuat dirinya bermalas - malasan bahkan dibawanya termenung dan menangis.
"Kak, aku punya rencana jika seandainya program kehamilan itu juga tak membuahkan hasil, maka aku bersedia untuk memberikan ijin untuk dirimu menikah kembali." Ungkap Hani datar tanpa ada sedikitpun ragu dimatanya.
Brian terperanjat mendengar ucapan dari sang istri yang begitu putus asa akan keadaan yang sekarang mereka jalani berdua.
Dipeluknya erat Hani dari belakang yang berdiri tak jauh dari jendela kamar tersebut. Dengan tatapan mata yang kosong Hani memandang jauh dari balik kaca jendela pemandangan dari atas.
"Apa yang sedang kau katakan sayang... " Ucap Brian berbisikan mesrah dibalik telinganya dengan lembut.
Tanpa terasa bulir bening telah jatuh dari ujung pelupuk mata Hani. Entah kekuatan apa yang sebegitu beraninya dirinya mengatakan hal yang demikian.
Sebagian wanita umumnya pasti sangat sulit suaminya untuk menikah yang kedua kalinya.
"Aku tak tahu Kak, jika itu yang membuat kehidupan kakak menjadi lebih sempurna dengan kehadiran sibuah hati, maka aku akan mengalah dengan keegoan ku." Ucap lirih Hani kembali.
Brian beralih posisi yang sekarang mereka berhadapan langsung, menempelkan jari telunjuknya tepat dibibir sang istri, dengan kepala yang digerakkannya sebagai isyarat agar Hani tak meneruskan bicaranya.
Hani memandang lekat wajah lelaki dewasa dihadapannya, yang secara finansial mapan serta memiliki paras wajah tampan, Brian mampu mendapatkan wanita lain bahkan lebih dari dirinya.
Flashback On
"Baiklah Tuan... Nyonya, setelah hasil pemeriksaan terakhir dapat dikatakan kalian berdua dalam keadaan sehat dan berkemungkinan dapat memiliki keturunan," ujar dokter ahli kandungan dengan keyakinan penuh.
Senyum mengembang dikedua bibir mereka, mendengar perkataan dari dokter kandungan tersebut. Secercah harapan bagi mereka berdua yang sebelumnya Hani divonis akan sulit untuk memiliki anak diakibatkan kecelakaan yang dulu pernah terjadi.
Flashback Off
Walaupun terlintas kembali dipikiran Hani tentang saat itu dan secara jelas mendengar perkataan dari dokter tersebut, namun ada kekhawatiran dihatinya jika itu hanya membuat angan - angannya saja.
Brian kemudian seketika berkata dan membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Aku sungguh mencintaimu sayang...Jadi jangan pernah berpikir untuk hal yang tak masuk diakal. Apapun keadaan yang sekarang kita hadapi jangan pernah sekalipun terlintas dipikiran mu untuk aku menikah dengan wanita lain," ungkap Brian dengan kesungguhan hati dan tatapan mesrah pada sang istri.
Dipeluk erat tubuh istrinya setelah mengatakan hal demikian, Hani merasakan dekapan hangat dari suaminya tersebut.
"Aku menyarankan kita untuk mengikuti jejak dari rekan kerja ku, bukan berarti menuntut dirimu untuk melahirkan anak dirahim mu, jika kita telah berusaha dan berdoa, namun Tuhan tak mentakdirkan diri kita tak memiliki anak maka kita bisa melakukan cara lain untuk mencurahkan kasih sayang kita pada anak - anak yang sangat membutuhkan dekapan dan kasih sayang orangtua." ujar Brian dengan penuh keyakinan.
"Namun aku merasa bersalah Kak...Kau telah terlalu baik padaku, aku tak ingin kau tak memiliki satu orang saja keturunan dirimu, " ungkap polos Hani.
"Sudah cukuplah jangan dipikirkan hal yang tidak - tidak, yang aku inginkan adalah kita berdua menjalankan biduk rumah tangga ini sampai menua dihari senja kita," ungkap lebih lanjut Brian pada istrinya.
Hani menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. Brian menyentuh lembut didahi Hani lalu beralih kejenjang bagian leher istrinya dan beralih kembali ke daerah sensitif istrinya.
Diikuti saja permainan dari suaminya dan dengan perasaan sedikit lega Hani memberikan apa yang menjadi kewajibannya sebagia seorang istri disenja itu.
Akhirnya mereka berdua larut dalam semburan kenikmatan yang halal dan menambah eratnya cinta diantara mereka berdua.
###
ππ Besar harapan Author agar para Reader tidak hanya membaca tetapi juga menghargai hasil karya tulisan Author dengan cara:
πBoom like sehabis bacaπππ
πKomentar yang membangun atau memberi semangat disetiap episode nya π
πRate bintang β5 dengan menglik dipojok bagian kanan atas bergambar π
π vote sebanyak banyaknya kalau bisa jangan hanya 10 tapi 1000 ya π dengan mengklik dibagian pojok atas sebelah kanan bertulis VOTE.
β€Trus beri tanda hati setelah kalian membaca, biar kita tambah mesra ya Reader tercinta... ππ
Bergabung digroup chat Author yup π©
__ADS_1
Author tunggu ya...ππ