Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 145 Meyakinkan Hani


__ADS_3

Sinar mentari mencuri-curi masuk dibalik tirai jendela kamar Hani. Orang-orang terkasih selalu setia mendampingi hari-hari yang dilalui oleh Hani dirumah sakit.


Dengan tubuh yang masih terbaring dan kaki yang terasa amat berat untuk digerakkan. Ponis dokter membuat hancur hati Hani. Harapan menyandang gelar sarjana seakan menjauh dari angan-angannya.


Pupus sudah harapan membanggakan kedua orangtuanya itu. Dengan kondisi seperti ini Hani merasa bukannya membantu keluarga setelah menyelesaikan kuliah tetapi menjadi beban buat kedua orangtuanya.


Kondisi ayah yang hanya pegawai tanpa jabatan apapun, pasti sangat terbebani dengan biaya pengobatan yang akan dikeluarkan ayah untuk dirinya.


"Yaaaa Tuhan, bantulah hamba yang lemah dan tak berdaya ini", ucap lirih dan pilu Hani seraya menitikkan bulir bening diujung matanya dengan menatap langit-langit dikamar tempat dirinya dirawat.


Brian melihat pemandangan didepan matanya, sungguh sangat terenyuh hatinya. Gadis yang ceria bahkan sangat energik harus terbaring lemah dan tak berdaya.


Dilangkahkan kakinya mendekati tempat tidur gadis yang membuat hatinya tertarik itu. Mengikatnya menjadi sebuah simpul yang kuat didalam relung hatinya.


"Han, apa yang sedang dipikirkan? Sapa Brian dengan wajah tersenyum manis menatapnya.


Hani menoleh kearah suara dari laki-laki yang telah ada disampingnya. Tangan Brian meraih tangan Hani dan menggenggamnya dengan erat.


Dengan gemuruh yang ada dihatinya untuk mengutarakan niat baik terhadap gadis dihadapannya. Brian mengatur nafas dan menyusun kata yang teratur agar mudah Hani mencerna maksud dari perkataan yang akan terucap dari bibirnya.

__ADS_1


"Han,,, telah lama ingin ku utarakan maksud dihatiku ini. Aku ingin menikahi mu dan berharap kau tak menolak lamaran ku", dengan suara tegas dan wajah menatap Hani penuh keseriusan.


Rasa tak percaya Hani mendengar perkataan lelaki yang ada didekatnya itu. Apakah ini nyata atau khayalan yang sekedar datang menghibur diatas kesedihannya.


Hani terdiam dan masih berpikiran ini hanya mimpi baginya. Brian menyentuh lembut punggung tangan dengan sentuhan dibibirnya.


"Apakah aku bermimpi? Ucap Hani masih belum percaya dengan apa yang telah dikatakan Brian.


"Disentuh wajah pucat Hani dengan lembut, lihatlah aku. Aku ingin kau mendampingi hari - hari ku", sahut Brian sekali lagi untuk meyakinkan gadis yang terbaring dihadapannya.


Ada bulir bening yang jatuh kembali diwajah pucat Hani yang seakan tak percaya pada lelaki yang sering bertengkar dengan dirinya, begitu tulus meminta untuk menjadi istrinya.


Brian menjatuhkan air mata sebagai seorang lelaki tak kuasa mendengar keterpurukan yang dirasakan oleh seorang gadis yang membuat hari-hari tersenyum.


"Kita akan mencari pengobatan yang terbaik untuk mu, jika diharuskan seumur hidup mendampingi dalam kondisi mu seperti saat ini, maka aku akan dengan senang hati menjalankannya", dengan sorot mata yang meyakinkan kembali menatap wajah Hani.


Ada sebuah harapan akan kehidupan baru yang diberikan lelaki dihadapannya.


"Apakah kau setuju dan mau menerima ku? sekali lagi Brian mengatakan permohonannya pada Hani dengan binar mata yang penuh cinta dan ketulusan.

__ADS_1


Ditatapnya mata Brian dengan sangat dalam telihat sebuah keseriusan dan ketulusan yang ada dimata lelaki itu. Hani menganggukan kepala pertanda setuju dengan apa yang dikatakan lelaki itu.


Terdapat senyum yang mengembang diujung bibir lelaki itu. Dia yakin sepenuh hati dengan keputusan yang diambilnya.


###


Like 👍👍


Komen 📩


Rate bintang 5🌟🌟🌟🌟🌟


Tanda hati sebagai tulisan favorite ❤❤❤


Votenya sebanyak banyaknya 📢📢📢


Terima Kasih...🙏🙏


Salam Hangat Lemb@gung

__ADS_1


__ADS_2