
Hanum melirik arloji ditangan kanannya. Terlihat jarum jam tepat jam 11 malam. Ia masih berjalan mengikuti dibelakang dua laki-laki yang membawa Dika kekamar operasi.
Terasa sunyi dan sepi hanya terdengar bunyi roda yang berputar diujung kaki tempat tidur Dika yang didorong oleh kedua lelaki tersebut. Dengan cepat kedua lelaki itu mendorong tempat tidur itu agar segera sampai.
Akhirnya bunyi roda pada ujung kaki tempat tidur Dika berhenti didepan sebuah ruangan. Kedua lelaki itu mendorong kembali memasuki kedalam ruangan tersebut.
"Ibu tak bisa masuk, cukup tunggu disini saja", ucap salah satu lelaki itu.
Hanum hanya bisa pasrah dan menuruti peritah dari lelaki itu. Menunggu dengan penuh kegelisahan.
Sudah hampir dua jam namun Dika belum juga keluar dari kamar operasi. Saat ini waktu terasa berjalan lebih lama dan lamban
Dilirik kembali arloji ditangannya sekarang waktu menunjukkan jam setengah satu malam.
" Apakah Dika bisa tertolong? , tanya Hanum dalam hati.
__ADS_1
Dering telpon mengagetkan Hanum, tertera ayah pada panggilan itu. Segera Hanum mengangkat panggilan tersebut. Terdengar suara ayah yang panik dan cemas diseberang sana.
"Hallo Hanum bagaimana Dika sekarang?apa kamu baik-baik saja?, ucap Ayah dengan nada sangat cemas dan terdengar suara ibu menangis disamping ayah.
Kabar yang diberikan Hanum kepada ayah memang belum begitu jelas karena tadi ia matikan ponselnya dengan tiba-tiba ketika suster berbicara padanya.
Pertanyaaan ayah mengarah pada kecelakaan yang terjadi pada Dika juga terjadi bersama dengan putri kesayangan nya. Hanum segera meluruskan apa yang dipikirkan oleh ayah.
"Ayah saya dalam kondisi baik, yang kecelakaan hanya kak Dika sendiri bukan dengan saya. Sekarang kak Dika lagi diruang operasi , saya masih menunggu.", ungkap Hanum dengan deras air mata.
Mendengar penjelasan dari Hanum membuat ayah sedikit lega.
"Baiklah, Hanum butuh kalian disini". ucap nya dengan suara parau akibat menangis.
Hanum terdiam membisu. Tatapan matanya kosong, tubuhnya saja yang diam seperti patung tapi pikirannya melayang jauh meninggalkan raganya.
__ADS_1
Ini seperti mimpi bagi Hanum. Baru saja ia merasakan kasih sayang dan perhatian yang besar yang diberikan oleh suaminya.
"Apakah ini harus hilang, Hanum tak mu berpisah kak", besit hati Hanum.
Terlintas kembali firasat buruk yng selalu menghantui Hanum.
" Apakah dengan cara ini ia harus terpisah dari Dika". ucap Hanum lirih dan dengan wajah yang sendu.
Akhirnya kamar operasi terbuka mengagetkan Hanum yang sedang terdiam dan melamun
Dua lelaki yang tadi mengatarkan Dika keluar dari ruang operasi itu dan melakukan tugas yang sama seperti tadi.
Dika dibawa keruang ICU yang tak jauh dari ruang operasi. Hanum sentuh tubuh Dika yang dingin dan menatap wajahnya yang pucat. Tak terlihat lagi wajah yang selalu bisa mencairkan suasan menjadi bahagia.
Bulir bening diujung mata Hanum tak berhenti menetes bahkan semakin deras. Tak ada tempat untuk nya sekedar bersandar.
__ADS_1
Menumpahkan rasa sesak didada, Hanum semakin letih dan tak kuat menopang berat tubuhnya. Pandangan menjadi kabur dan gelap dan seketika itu ia sudah terjatuh dilantai tak sadarkan diri.
Kedua lelaki itu menjadi panik, melihat wanita yang mengikutinya sedari tadi telah terbaring dilantai. Segera dengan sigap salah satu dari lelaki itu menggendong tubuh Hanum yang terkulai tak berdaya.