Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2

Dia Bukan Suami Ku Seasons 1 & 2
Eps 57 Sendiri


__ADS_3

Sudah cukup lama Dika tak sadarkan diri. Hanum memegang tanggan Dika seraya memanggil namanya.


"Kak ini Hanum, ayo lah sadar buka mata lihatlah Hanum disini. Kakak tak sayang Hanum kalau seperti ini". ucap lirih Hanum dengan bulir bening yang selalu jatuh dipipinya.


Seorang suster senior mendekati Hanum. Suster yang menelpon Hanum yang memberitahu kabar tentang Dika seraya berkata: "Mbak dokter memanggil keluarga pasien", ucap suster senior itu.


Hanum berdiri dan berjalan keluar dari ruang gawat darurat mengikuti dibelakang suster senior itu. Akhirnya sampai pada ruang dokter yang dimaksud suster tersebut.


"Silahkan duduk bu, apakah ibu keluarga pasien yang kecelakaan itu?, tanya dokter.


"Benar dok, saya istrinya", jawab Hanum dengan mata yang memerah dan suara yang terbata-bata.


Dokter memberitahu tindakan lanjutan yang harus dilakukan secepatnya terhadap Dika. Dika harus segera dioperasi melihat pupil matanya yang memutih.

__ADS_1


Akan dilakukan tindakan operasi dibagian kepala dekat dengan mata kanan diatas telinga. Telah terjadi pendarahan diotak karena luka dalam akibat retaknya tempurung kepala.


Wajah Hanum menjadi pucat seakan tak ada aliran darah ditubuhnya. Kaki dan tangan membeku terasa dingin disekujur tubuhnya.


Dokter melihat wajah dan kondisi Hanum merasa cemas. Apalagi dalam kondisi Hamil besar pasti sangat mempengaruhi kandungan wanita yng sedang diajaknya bicara.


"Apakah tidak ada keluarga lain selain ibu? , tanya dokter dengan penasaran.


" Tidak ada dok, hanya ada saya dan suami disini. Keluarga kami berdua jauh dan belum bisa langsung kemari", jawab Hanum dengan nada sedih dan dokter sangat terkecut mendengar perkataan Hanum.


"Keberhasilan operasi ini hanya dua puluh persen karena melihat kondisi pasien yang luka dalam dan telah terjadi pendarahan diotak. Kemungkinan untuk berhasil sangat kecil sekali. Kalaupun berhasil maka tidak akan seperti semula artinya tidak kembali normal seperti biasanya,"ujar dokter dengan kesungguhan dan sorot mata yang bersimpati.


Mendengar penjelasan dari dokter serasa bumi runtuh dan Hanum merasakan tak ada kekuatan lagi untuk berdiri.

__ADS_1


Hanum hanya seorang diri untuk mengambil keputusan yang sangat berat ia lakukan ditambah dengan kondisi hamil tua.


Dengan tangan bergetar Hanum menanda tangani surat perjanjian. Disana tertulis bahwa semua tindakan terhadap pasien telah mendapat persetujuan dari pihak keluarga.


Apapun yang terjadi atas tindakan yang diberikan, dan sesuai dengan prosedur yang benar maka tidak ada tuntutan dari pihak keluarga.


Hanum terduduk lemas dengan pikiran tak karuan disudut ruang darurat tersebut. Hanum memperhatikan suster yang akan mempersiapkan Dika menuju ruang operasi.


Diraihnya ponsel yang ada didalam tasnya dan segera menghubungi keluarganya.


Terdengar suara ayah yang sangat dirindukan Hanum. Hanum butuh kekuatan untuk menghadapi ini semua. Ia tak kuasa harus seorang diri dengan beban yang sangat berat


"Ayah cepat kemari Dika kecelakaan dan harus operasi malam ini juga", ucap Hanum dengan derai air mata.

__ADS_1


Suster menghampiri Hanum yang sedang menelpon dan mengatakan bahwa Dika sudah siap menuju kamar operasi. Hanum mengakhiri seketika panggilan setelah mendengar perkataan suster.


Ia berjalan dilorong rumah sakit mengikuti Dika. Terasa sangat panjang dan sunyi menambah kegelisahan dan kecemasan dihati Hanum. Pikirannya berkecamuk tak tentu arah sepanjang perjalanan menuju kamar operasi.


__ADS_2